Home / Berita / Iradiasi untuk Pengawetan

Iradiasi untuk Pengawetan

Fasilitas Dibangun guna Mengembangkan Industri

Badan Tenaga Nuklir Nasional bekerja sama dengan perusahaan asal Hongaria, Izotop-Hongaria, mulai membangun konstruksi iradiator gama. Fasilitas itu ditargetkan beroperasi pada 2018. Iradiasi dengan sinar gama dinilai lebih aman untuk mengawetkan komoditas pangan daripada bahan kimia.

“Harapannya, ini memberikan nilai tambah ekonomi,” ujar Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir di Tangerang Selatan, Banten, saat peletakan batu pertama pembangunan Iradiator Gama Merah Putih, Selasa (29/3). Acara itu dihadiri Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S Wisnubroto, Atase Perdagangan Kedutaan Besar Hongaria bagi Indonesia Peter Varfi, dan Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.

Menurut Nasir, nilai tambah itu terutama bagi warga dan industri di Tangerang Selatan, mengingat iradiator dibangun di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangsel. Karena itu, kepala daerah setempat perlu mendorong industri memakai fasilitas itu. Sementara Batan diminta menghitung kapan pemerintah balik modal setelah fasilitas iradiator dipakai bagi kepentingan komersial.

Iradiasi adalah penyinaran radiasi ke target tertentu dengan dosis dan durasi yang terkendali. Radiasi adalah energi berbentuk sinar atau gelombang yang dipancarkan. Bedanya, radiasi belum tentu terkendali, seperti yang dipancarkan matahari atau radiasi dari bumi, sedangkan iradiasi melibatkan teknologi, alat, dan intervensi manusia dalam mengendalikan radiasi. Untuk mengawetkan bahan pangan, iradiasi sinar gama membunuh mikroorganisme penyebab kebusukan atau kerusakan.

Djarot memaparkan, Iradiator Gama Merah Putih berkapasitas maksimum 2 mega currie (MCi). Dengan kapasitas itu, iradiator bisa melayani iradiasi hingga 123 meter kubik per hari. Sumber dana proyek dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Rp 96 miliar, rinciannya Rp 6 miliar bagi perancangan pada 2015 serta Rp 90 miliar untuk konstruksi pada 2016, memasukkan sumber radiasi, pemasangan alat, dan perangkat lunak pada 2017.

“Setidaknya, pada 2018, itu bisa dimanfaatkan Batan dan pihak ketiga lewat PNBP (pendapatan negara bukan pajak),” ujarnya.

Iradiator Gama Merah Putih merupakan iradiator komersial pertama di Indonesia dengan perancangan, pembangunan, dan pengoperasian melibatkan perekayasa Batan serta perusahaan dalam negeri. Kini hanya ada satu iradiator komersial di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, itu pun penanaman modal asing.

Komponen dalam negeri
Tingkat komponen dalam negeri pada Iradiator Gama Merah Putih mencapai 80 persen. Sekitar 20 persen komponen dari Hongaria. Rinciannya, 15 persen berupa bahan baku sumber radiasi sinar gama, yakni Cobalt-60, serta 5 persen ialah alat dan perangkat lunak pengamanan penggunaan Cobalt-60.

Nasir menyatakan, masih ada produsen makanan memakai bahan kimia bagi pengawet makanan, bahkan yang berbahaya. Formalin, misalnya, untuk mengawetkan tahu meski bahaya bagi kesehatan. Iradiasi jadi pilihan aman mengawetkan makanan.

Djarot menjamin keamanan pangan yang diawetkan dengan iradiasi gama dan penggunaannya diizinkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 701 Tahun 2009. Pangan kering dan basah bisa diawetkan, seperti rendang awet 1,5 tahun dengan kondisi sama seperti sebelum diiradiasi. “Mikroorganisme dimatikan selama iradiasi. Setelah iradiasi selesai, tak ada radiasi pada pangan,” ucapnya.

Kepala Bagian Humas Batan Eko Madi Parmanto menambahkan, biaya iradiasi gama sekitar Rp 400.000 per kotak ukuran 0,75 meter kubik. Biaya beragam, tetapi tak jauh dari angka itu, sesuai jenis komoditas. Selain mengawetkan makanan, iradiasi untuk sterilisasi alat kesehatan.

Menurut Airin, pihaknya akan menyosialisasikan manfaat iradiator gama ke warga Tangsel agar diterima publik. Sebelumnya, karena tanpa sosialisasi, pemasangan pipa gas di wilayah itu oleh pemerintah pusat sempat ditolak warga setempat. (JOG)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “Iradiasi untuk Pengawetan”.
—————
Pembangunan Iradiator Batan Selesai 2017

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mencanangkan pembangunan Iradiator Gamma Serbaguna di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (29/3/2016). Pembangunan direncanakan selesai pada akhir tahun 2017.

99ff30896ac1491a86a2ed3a0b805a45KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Tamu undangan melihat maket Iradiator Gama Merah Putih saat acara peletakan batu pertama untuk pembangunannya di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (29/3). Iradiator itu akan dibangun Badan Tenaga Nuklir Nasional bekerja sama dengan perusahaan Izotop-Hongaria. Fasilitas itu untuk pengawetan dan sterilisasi pangan, kosmetik, dan alat kesehatan.

Salah satu manfaat iradiator adalah untuk membuat bahan makanan lebih awet sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan produsen dan penjual pangan. “Selama ini ada penggunaan formalin, yang merupakan bahan pengawet mayat, untuk pengawetan makanan. Maka, kita mendorong upaya pengawetan yang lebih aman,” kata Nasir.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S Wisnubroto mengatakan, iradiator ditargetkan beroperasi pada 2018, baik untuk kebutuhan Batan maupun untuk kepentingan komersial. Saat ini, di Indonesia baru ada satu iradiator, yakni di Cikarang. Itu pun penanaman modal asing. Sebanyak 80 persen komponen iradiator yang akan dibangun di Puspiptek berasal dari dalam negeri.

Iradiator Gamma Serbaguna adalah fasilitas iradiasi dengan sinar gamma untuk multifungsi, berkapasitas maksimum 2 mega curie (MCi). Dengan kapasitas sebesar itu, iradiator bisa untuk melayani proses iradiasi hingga 123 meter kubik per hari. Pengembangan fasilitas itu merupakan kerja sama Batan dengan Izotop-Hongaria.

Pembangunan Iradiator Gamma Serbaguna bertujuan untuk meningkatkan penguasaan teknologi dari tahap perancangan, konstruksi, dan pengoperasian. Tujuan lain untuk menunjukkan kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat bahwa teknologi proses pengawetan dan sterilisasi dengan radiasi, aman untuk makanan, obat-obatan, bahan herbal, kosmetik, dan alat kesehatan.

Iradiator bisa berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan pasca panen, khususnya untuk Indonesia yang tergolong negara agraris dan maritim dengan potensi produk pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan yang melimpah. Karena masuk wilayah tropis, produk-produk itu rentan cepat masak sehingga mudah busuk dan rusak.

Menurut Djarot, agar kualitas produk terjamin, sistem distribusi produk yang baik diperlukan sehingga bisa cepat sampai kepada konsumen sebelum makanan busuk. Namun, infrastruktur transportasi nasional belum memadai. Jumlah bahan pangan yang busuk dan rusak di negara berkembang diperkirakan antara 20-40 persen, bahkan bisa 60-70 persen di wilayah tropis.

Itu masalah berulang bagi petani dan nelayan di Indonesia. Saat panen raya, produk melimpah, tetapi dibayangi ancaman produk panen cepat membusuk dan tidak bisa disimpan terlalu lama. Akibatnya, harga jual produk terus turun jika tidak segera terjual, atau bahkan menjadi limbah yang tidak bernilai ekonomi. Itulah yang memicu sejumlah orang menggunakan pengawet berbahaya seperti formalin yang mengancam kesehatan masyarakat.

J GALUH BIMANTARA
Sumber: Kompas Siang | 29 Maret 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: