Home / Berita / Indonesia-China Pererat Kerja Sama Keanekaragaman Hayati

Indonesia-China Pererat Kerja Sama Keanekaragaman Hayati

Indonesia dan China, dua negara dengan kekayaan hayati tinggi di dunia, menjajaki kerja sama lebih intensif terkait perlindungan dan pemanfaatan biodiversitas. Kedua negara akan melanjutkan kerja sama yang secara formal terjalin antara kedua pemerintahan sejak tahun 1992 dan 2010.

”Ini, kan, MoU (nota kesepahaman)-nya sudah mati. Mau diteruskan G to G (government to government),” kata Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Senin (20/5/2019), di Jakarta.

Sejak pekan lalu, pihaknya menerima kunjungan delegasi China yang dipimpin Wakil Menteri Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput Nasional China Zhang Yongli. Rombongan juga berkunjung ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kebun Raya Cibodas, dan Taman Safari Cisarua,

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Wakil Menteri Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput Nasional China Zhang Yongli menerima kenang-kenangan berupa ukiran badak jawa dari Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Wiratno, Senin (20/5/2019), di Jakarta. Indonesia-China bekerja sama meningkatkan hubungan di bidang perlindungan tumbuhan dan satwa liar.

Wiratno mengatakan, pembaruan nota kesepahaman ini pas dengan reformasi di China yang dilakukan pada sistem perlindungan dan pengelolaan hutan beserta kekayaan alamnya. China yang menyatukan kehutanan dengan grassland, katanya, mengelola sekitar 80 persen wilayah daratan China.

”Mereka (Pemerintah China) sudah melakukan reformasi besar-besaran di bawah kementerian ini. Kementerian Pertanian menyerahkan savana dan grassland dan gumuk pasir desert itu ke dalam Kementerian Kehutanan,” katanya.

Di Indonesia, lanjutnya, China belajar terkait interaksi masyarakat di sekitar hutan dengan pengelolaan taman nasional seperti di TNGGP.

Selain itu, China juga berkomitmen melakukan penegakan hukum pada perdagangan tumbuhan dan satwa liar. Ini untuk memastikan sumber legal perdagangan tersebut. Hal ini diperlukan untuk menangani berbagai konflik masyarakat dengan pengelola hutan yang diakui Wiratno masih terjadi juga di Indonesia.

Ia mengatakan, relasi perdagangan tumbuhan dan satwa liar (TSL) Indonesia dan China sangat kuat. Indonesia disebutnya menyuplai berbagai fauna, seperti ular, kadal, tokek, dan aneka reptil secara legal ke China.

Keberlanjutan
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK Indra Eksploitasia mengatakan, China sangat menekankan pemanfaatan biodiversitas secara berkelanjutan. China memberlakukan Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar (Law on the Protection of Wildlife) dan Peraturan Pengelolaan Cagar Alam (Regulation on Management Nature Reserves).

Langkah ini diklaim Zhang Yongli telah meningkatkan populasi berbagai satwa endemis China, seperti panda, antelop tibet, dan ibis jambul. Karena itu, sejak 2016, Indonesia-China menandatangani nota kesepahaman kerja sama perlindungan panda dengan menghadirkan dua panda ke Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor.

Kini, Indonesia tertarik menghadirkan monyet emas (golden monkey), spesies endemis dan dilindungi dari China, ke Indonesia. Di sisi lain, kata Indra, China juga mengelola spesies endemis dan dilindungi Indonesia, seperti komodo dan harimau sumatera, di lembaga-lembaga konservasi di China.

Zhang Yongli mengatakan, China juga telah melarang perdagangan cula badak, gading, dan tulang harimau. Namun, diakui, pertumbuhan populasi penduduk, aktivitas manusia, perubahan iklim, serta masih terjadinya perburuan dan pemanfaatan TSL secara ilegal menjadi ancaman banyak spesies di berbagai belahan dunia.

Kunjungan delegasi China ini, kata Wiratno, juga sebagai bagian dari lobi Pemerintah China untuk meminta dukungan Indonesia terkait penyelenggaraan Convention of Biological Diversity pada Oktober 2020 di Kunming, China. Ia mengatakan, Indonesia siap mendukung dan melihat China serius dalam menjaga biodiversitas, di antaranya dengan memiliki 2.750 cagar alam, yang 474 di antaranya berstatus nasional, meliputi 14,8 persen daratan China. Pada perlindungan ex situ, China membangun 200 taman botani yang mengelola 20.000 spesies atau dua pertiga jenis flora di China.–ICHWAN SUSANTO

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 20 Mei 2019

Share
x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: