Home / Berita / Hutan Aru Bermakna Penting secara Sosial dan Ekologi

Hutan Aru Bermakna Penting secara Sosial dan Ekologi

Hutan hujan tropis di Kepulauan Aru, Maluku memiliki fungsi ekologi dan sosial sangat penting. Selain kaya ragam hayati, hutan ini menjadi penopang hidup masyarakatnya yang memiliki budaya khas, yaitu paduan dari tradisi berburu dan meramu dengan bercocok tanam.

Oleh karena itu, rencana pemerintah untuk membuka hutan Aru hingga lebih dari dua pertiga luas kepulauan ini akan memicu bencana ekologi dan sosial. Apalagi Aru terdiri dari pulau-pulau kecil yang rapuh ekologinya.

“Kami akan tetap menolak jika hutan di Kepulauan Aru dibuka untuk alasan apa pun. Hutan ini telah menghidupi kami. Tanpa hutan, Kepulauan Aru akan kehilangan sumber pencaharian dan juga sumber air,” kata Mika Ganobal (41), tokoh pemuda adat Fanan, di Desa Loran, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Selasa (5/12).

“Kami akan tetap menolak jika hutan di Kepulauan Aru dibuka untuk alasan apa pun. Hutan ini telah menghidupi kami. Tanpa hutan, Kepulauan Aru akan kehilangan sumber pencaharian dan juga sumber air.”

Mika juga Koordinator SaveAru, gerakan sipil yang dibentuk untuk menolak rencana pembukaan perkebunan tebu oleh perusahaan swasta di Kepulauan Aru. Dia mengatakan, pada 2012 Pemerintah kabupaten Aru mengizinkan pembukaan perkebunan tebu seluas sekitar 500.000 hektar dari 629.000 hektar total luas daratan di kepulauan ini. Sebanyak 90 dari 112 desa direncanakan direlokasi.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Fransjat Ganobal (41), dari Desa Loran, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku tengah berburu ke hutan dengan senjata busur dan panah, Senin (4/12). Selain kaya ragam hayati, hutan telah menjadi penopang hidup masyarakat Aru yang memiliki budaya khas, yaitu paduan dari tradisi berburu dan meramu dengan bercocok tanam.

Setelah mendapat penentangan kuat dari masyarakat adat, kata Mika, rencana tersebut akhirnya dibatalkan oleh Pemerintah Pusat pada 2014. Namun demikian, upaya untuk mengonversi hutan di Kepulauan Aru terus dilakukan.

“Saat ini dicanangkan rencana pengembangan ternak sapi secara besar-besaraan oleh Kementerian Pertanian di Aru Selatan. Saya khawatir ini akan menjadi upaya kedua untuk merusak lingkungan di Kepulauan Aru,” katanya.

Mamado, tokoh masyarakat adat Marfenfen, Kecamatan Aru Selatan mengatakan, seperti rencana pembukaan lahan untuk perkebunan gula, pihaknya juga akan menolak proyek ini. “Bagi masyarakat Aru, kesejahteraan itu tidak akan bisa diperoleh dengan perusakan hutan dan pengambilan tanah-tanah adat. Apalagi, di padang sabana yang akan dijadikan lokasi proyek menjadi tempat upara ritual berburu bersama tiap setahun sekali,” katanya.

David Kailem, tokoh adat Ngaibor, Aru Selatan mengaku pernah diundang sosialisasi di kantor aparat militer di Dobo terkait rencana proyek peternakan sapi ini. Disebutkan, akan didatangkan 30.000 ekor sapi dari Belgia.

“Kalau benar proyek ini tetap dilakukan, padahal jumlah penduduk di Aru Selatan hanya 7.000 orang, jadi jumlah sapinya lebih banyak dari jumlah penduduk kami. Apa ini bukan berarti peminggiran masyarakat adat?” ujarnya.

“Kalau benar proyek ini tetap dilakukan, padahal jumlah penduduk di Aru Selatan hanya 7.000 orang, jadi jumlah sapinya lebih banyak dari jumlah penduduk kami. Apa ini bukan berarti peminggiran masyarakat adat?”

Fungsi Penting
Mika Ganobal mengatakan, Kepulauan Aru terbentuk dari batuan karst sehingga apabila hutannya dirusak, pasti akan menyebabkan krisis air bersih. Selain itu, hutan ini juga menjadi habitat satwa dilindungi seperti kakatua raja (Probosciger aterrimus), burung cendrawasih raja (Cicinnurus regius), dan berbagai satwa langka lain.

Kekayaan hayati Kepulaua Aru telah dicatat oleh Alfred Russel Wallace, ahli botani dari Inggris. Hari pertama ekspedisinya di Aru pada Januari 1857, dia berhasil menemukan 30 jenis kupu-kupu langka yang biasanya ditemukan di Papua New Guini. Menurut dia, kekayaan variasi kupu-kupu Aru jauh melebihi yang pernah diperolehnya di hutan hujan Amazon.

Ahli genetika Eijkman, Herawati Sudoyo Supolo mengatakan, masyarakat Aru memiliki kebudayaan yang unik, yaitu paduan dari masyarakat dengan tradisi berburu dan meramu yang tergantung pada alam. Di sisi lain, mereka juga memiliki budaya bercocok tanam padi ladang dan aneka jenis tanaman.

“Masyarakat Aru memiliki kebudayaan yang unik, yaitu paduan dari masyarakat dengan tradisi berburu dan meramu yang tergantung pada alam. Di sisi lain, mereka juga memiliki budaya bercocok tanam padi ladang dan aneka jenis tanaman.”

Dua kebudayaan ini merefleksikan paduan genetika leluhur orang Aru, yang berasal dari pembauran penutur Papua dan Austronesia. Pembauran ini diperkirakan terjadi sekitar 4.000 tahun lalu, ketika penutur Austronesia tiba di Kepulauan Aru yang saat itu sudah dihuni penutur Papua yang diperkirakan mendiami kawasan ini sejak 50.000 tahun lalu.

Selain itu, Kepulauan Aru juga dikunjungi oleh berbagai pedagang berbagai mancanegara sejak ribuan tahun lalu. Catatan Wallace, ketika pertama kali mendarat di Dobo pada 8 Januari 1857 telah menemui komunitas Bugis dan China yang tinggal dan berdagang di sana.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 6 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pergeseran Kutub Bumi Bisa Jauh Lebih Cepat di Sekitar Khatulistiwa

Dalam 30 tahun terakhir, pergeseran kutub magnet Bumi dianggap makin cepat. Nyatanya, pergeseran kutub magnet ...

%d blogger menyukai ini: