Home / Berita / Hubungan Manusia dengan Gajah Bisa Harmonis

Hubungan Manusia dengan Gajah Bisa Harmonis

Hasil pengamatan peneliti gajah menunjukkan ruang tumpang tindih antara gajah dan manusia relatif kecil. Hal ini seharusnya bisa dikelola dengan baik tanpa merugikan satwa maupun manusia.

KOMPAS/FRANSISKUS WISNU WARDHANA DANY—Sekawanan gajah jinak beraktivitas di Conservation Response Unit Trumon, Aceh Selatan, Aceh, Kamis (23/1/2019).

Konflik antara manusia dan gajah kerap terjadi akibat masyarakat merasa dirugikan oleh gajah saat melintasi kebun yang berada di jalur migrasi alami satwa ini. Kajian dan pendekatan ethno-elephantology menyimpulkan bahwa manusia dan gajah dapat hidup harmonis karena saling berbagi ruang dan sumber daya secara alami.

Wishnu Sukmantoro dari Forum Konservasi Gajah Indonesia dalam diskusi daring bertajuk ”Masa Depan Konservasi Tumbuhan dan Satwa Ikonik Terancam Punah di Indonesia”, Rabu (15/7/2020), mengatakan, mayoritas gajah terancam punah akibat praktik perburuan.

Sejak masa pra-sejarah hingga zaman modern, gajah diburu untuk diambil bagian tubuhnya, terutama bagian gading, untuk dijadikan hiasan dan ritual agama serta ditangkap hidup-hidup untuk menjadi sarana transportasi dan rekreasi. Saat ini masyarakat juga kerap membunuh gajah karena merasa dirugikan akibat perkebunan rusak saat dilintasi gajah. Hal inilah yang memicu konflik antara manusia dan gajah.

Berangkat dari kondisi tersebut, Wishnu mulai mengkaji dan mengembangkan pendekatan ethno-elephantology. Pendekatan ini bertujuan mendorong harmonisasi, efisiensi, dan optimalisasi kehidupan gajah dengan manusia di dalam satu wilayah bersama.

Kajian ini dilakukan sejak 2012 hingga 2018 di kawasan Balai Raja, Giam Siak, dan Tesso Nilo yang semuanya berada di wilayah Riau. Wishnu dan timnya menggunakan sampel tiga gajah betina yang dipasang pelacak berbasis sistem pemosisi global (GPS) untuk merekam aktivitasnya.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI—Sekumpulan gajah liar yang masih ditemukan di ekosistem Suaka Margasatwa Balai Raja, Duri, Bengkalis, Riau, November 2017. Gajah-gajah itu mengembara dari kebun sawit ke kebun sawit warga yang merupakan lahan perambahan SM Balai Raja. Habitat satwa ini bakal terganggu lagi akibat pembangunan jalan lingkar luar Kota Duri.

Selama tujuh tahun tersebut, tim melakukan pendataan distribusi gajah dan manusia, menghitung relung dan ruang sumber daya alam, hingga mengidentifikasi dinamika penerimaan dan penghindaran konflik. Semua data dan identifikasi itu digunakan untuk mengukur model ruang sumber daya dan strategi pembelajaran gajah manusia.

Hasil kajian ethno-elephantology tersebut menyimpulkan gajah dengan manusia cenderung berbagi ruang dan sumber daya secara alami. Hal ini ditunjukkan dari tumpang tindih habitat gajah dan manusia yang kecil dengan persentase 14,79 persen di Balai Raja dan 2,4 persen di Tesso Nilo. Selain itu, gajah dengan manusia juga cenderung menghindari konflik.

”Gajah dan manusia saling belajar dimulai dari penghindaran konflik satu dengan yang lain. Masyarakat juga mulai melakukan perubahan bercocok tanam dengan menanam komoditas yang tidak disukai gajah, tetapi masih memiliki nilai ekonomis,” ujarnya.

Raflesia
Selain fauna, upaya konservasi flora untuk mencegah kepunahan juga diperlukan untuk mencegah kepunahan. Salah satu flora tersebut adalah bunga raflesia.

KOMPAS/DOKUMENTASI PUSAT PENELITIAN KONSERVASI TUMBUHAN DAN KEBUN RAYA LIPI MAS—Bunga raksasa Rafflesia patma mekar di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Sabtu (14/9/2019)

Pengajar Fakultas Kehutanan pada Universitas Bengkulu yang juga peneliti raflesia, Agus Susatya, menyampaikan, terdapat 15 jenis raflesia di Indonesia dari total 30 jenis yang ada di dunia. Artinya, setengah jenis populasi raflesia di dunia terdapat di Indonesia.

Jenis raflesia yang ada di Indonesia juga terbanyak dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lain. Filipina memiliki 10 jenis, disusul Malaysia 6 jenis, dan Thailand 1 jenis.

Menurut Agus, ekologi menjadi bagian yang penting dari konservasi karena raflesia berumah dua atau habitat jantan dan betina terpisah. Dari sejumlah penelitian dan penemuan juga menyimpulkan, sangat jarang dua bunga mekar secara bersamaan.

Upaya konservasi bunga ini penting karena jumlah populasinya yang sangat kecil. Dalam satu koloni Rafflesia patma hanya terdapat 59 individu, R arnoldii 27 individu, serta R bengkuluensis dan R haselti 7 individu. Selain itu, mortalitas atau tingkat kematian raflesia juga sangat besar hingga mencapai 47,8 persen selama enam bulan.

”Jika melihat demografi ini, cepat lambat akan turun populasinya. Ini yang menyebabkan dugaan kepunahan lokal karena semakin kecil populasi, semakin tinggi pula mortalitasnya,” ujarnya.

Agus menyatakan, pihaknya menggunakan metode konservasi cerdas berbasis media sosial sebagai upaya pengenalan hingga perlindungan raflesia. Melalui sarana media sosial, ia dapat memberikan informasi konservasi dan potensi ekoturisme serta membangun jejaring ke semua elemen masyarakat dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Selain itu, penguatan jejaring kelompok swadaya masyarakat yang fokus terhadap raflesia sangat penting dalam upaya konservasi. Saat ini terdapat 10 kelompok swadaya di Bengkulu yang fokus terhadap isu raflesia. Kelompok ini terbentuk seiring dengan banyaknya jenis raflesia yang ditemukan di Bengkulu.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 15 Juli 2020

Share
x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: