Home / Berita / Hollande Tawarkan Riset Strategis

Hollande Tawarkan Riset Strategis

Kunjungan Presiden Perancis Francois Hollande ke Indonesia membawa sejumlah agenda penjajakan kerja sama di bidang riset strategis. Hal ini ditandai dengan pertemuan pimpinan lembaga riset Perancis dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta Badan Tenaga Nuklir Nasional.

Lembaga riset Perancis yang terlibat adalah Institut Nasional Ilmu-ilmu Terapan (INSA) serta Komisi Energi Atom dan Energi Alternatif (CEA).

Kesepakatan kerja sama riset ini ditandatangani di hadapan Presiden Joko Widodo dan Presiden Perancis Francois Hollande di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (29/3) petang.

Kerja sama riset yang akan dijajaki kedua pihak meliputi bidang energi baru dan terbarukan, teknologi informasi dan komunikasi, dan mikroelektronika. Program pendidikan master dan doktor di bidang tersebut juga akan diberikan untuk meningkatkan kemampuan para peneliti dan perekayasa teknologi di Indonesia.

Demikian disampaikan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto seusai pertemuan dengan pihak CEA dan INSA di Jakarta, Rabu. Menurut Unggul, peningkatan jumlah doktor dan master, terutama di bidang iptek, di Indonesia sangat diperlukan.

Saat ini, rasio peneliti yang mencapai pendidikan doktor baru berkisar 7-9 persen. Jumlah doktor di BPPT hanya 9 persen dari total jumlah peneliti. Sementara di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, jumlah doktor baru 7 persen.

Rasio ini sangat jauh dibandingkan dengan Jepang yang telah mencapai 80 persen. Bahkan di Thailand, lanjut Unggul, jumlah peneliti dengan pendidikan doktor sudah mencapai 30 persen.

Tawaran studi di Perancis ini, katanya, mendukung program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang selama ini sering terkendala mendapatkan universitas bagi mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Otomotif dan persenjataan
Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa Erzi Agson Gani menambahkan, kerja sama riset ini bertujuan, antara lain, mendukung industri otomotif dan persenjataan. Salah satu fokusnya adalah pengembangan baterai. Baterai merupakan komponen penting pada kendaraan bermotor. Bahkan, pada kapal selam, bobot baterai mencapai 60 persen dari bobot totalnya.

Saat ini, bahan baterai masih menggunakan litium yang berdaya penyimpanan terbatas. Kerja sama ini diharapkan dapat menemukan material baru yang memiliki kapasitas penyimpanan tinggi. Nanoteknologi diharapkan menjadi solusi.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Hamman Riza menuturkan, kerja sama ini juga penting untuk mengembangkan ekonomi digital serta keamanan jaringan internet dan komunikasi siber di ASEAN dan Eropa.

Di bidang energi terbarukan, Erzi berharap terjalin kerja sama lebih lanjut dalam pembangunan industri pembuatan sel surya, seperti di Kazakhstan. Pembangunan pembangkit listrik smart grid juga akan dijajaki. Proyek percontohannya sudah terbangun di Sumba, Nusa Tenggara Timur.(YUN)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Maret 2017, di halaman 14 dengan judul “Hollande Tawarkan Riset Strategis”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: