Home / Artikel / ”Herd Immunity”, Jalan Keluar?

”Herd Immunity”, Jalan Keluar?

Dengan populasi 270 juta jiwa di Indonesia dan belum adanya vaksin, efek herd immunity baru akan diperoleh jika 135-178 (nilai tengah 156) juta penduduk Indonesia terinfeksi Covid-19. Jadi, lupakan opsi herd immunity.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Pegawai Pemkot Surabaya melakukan peregangan tubuh saat berjemur di bawah matahari di Jalan Jimerto, Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (31/3/2020). Pada pukul 10.00, PNS Kota Surabaya bersama-sama berjemur di bawah matahari untuk meningkatkan daya tahan tubuh di saat terjadi pademi Covid-19 seperti saat ini.

Setiap negara menggunakan pendekatan berbeda dalam penanganan pandemi Covid-19. Sebagian menerapkan strategi ketat dan masif seperti screening massal hingga lockdown total. Sebagian lagi bertindak lebih longgar dengan hanya menganjurkan personal hygiene dan pembatasan kontak dengan tingkat restriksi yang berbeda.

Yang menarik, ada beberapa negara yang mengisyaratkan keinginan memanfaatkan kekebalan alami terhadap virus. Strategi terakhir ini dikenal sebagai herd immunity dan pernah dilontarkan sebagai opsi oleh beberapa kepala negara, termasuk PM Inggris.

Strategi pandemik
Dalam epidemiologi, strategi penanggulangan pandemik meliputi restriksi pergerakan manusia dan barang serta penggunaan vaksin. Ada pula yang memasukkan herd immunity sebagai opsi pengendalian. Strategi restriksi bertujuan membatasi transmisi antarmanusia lewat program karantina dan isolasi ketat, pembatasan transportasi, serta pelarangan keluar masuk wilayah atau lockdown.

Efektivitas strategi ini telah terbukti pada beberapa pandemik sebelumnya. Meski pandemik Covid-19 baru sementara berlangsung, China, Taiwan, dan Jepang berhasil menekan laju morbiditas dan mortalitas pandemik dengan strategi ini.

Vaksin merupakan cara efektif mencegah penularan infeksi. Sejumlah institusi saat ini berpacu memproduksi vaksin Covid-19. Namun, berdasar pengalaman, vaksin biasanya baru dapat diproduksi paling cepat 18 bulan setelah wabah terjadi. Bahkan, pada beberapa wabah, vaksin baru diproduksi setelah wabah mereda. Vaksin SARS diproduksi pada 2016, tiga tahun setelah wabah SARS.

Istilah herd immunity sering diartikan secara sempit sebagai proteksi populasi akibat adanya kekebalan alamiah yang terbangun dari individu yang telah menderita infeksi. Padahal, imunitas ini dapat terbangun bukan hanya dari penderita infeksi, melainkan juga dari vaksinasi. Fenomena herd immunity telah terjadi pada wabah virus zika tahun 2015. Dua tahun setelah outbreak, penyebaran virus ini hampir tidak ada lagi.

Penelitian laboratorium menemukan bahwa lebih dari 60 persen individu pada daerah wabah telah terpapar virus ini dan telah mendapat kekebalan alamiah. Kekebalan alamiah ini menghambat penyebaran virus pada semua individu di daerah wabah sehingga infeksi virus zika tidak ditemukan lagi.

Herd immunity sebenarnya merupakan konsep lama dalam epidemiologi. Namun, aura konsep ini bergaung kembali beberapa dekade lampau, yaitu ketika isu vaksin marak dibicarakan. Sejatinya, prinsip herd immunity hanya dipakai pada bidang imunisasi. Karena itu, mengherankan jika ada pihak yang mengajukan konsep ini sebagai opsi penanganan pandemik.

Istilah herd immunity memiliki pengertian yang bervariasi. Saat ini, kebanyakan ahli menggunakan definisi yang dibangun oleh Fox dkk (1971) yang merujuk herd immunity sebagai kemampuan sebuah populasi untuk terhindar dari suatu penyakit infeksi akibat adanya sejumlah besar individu dalam populasi yang kebal terhadap penyakit infeksi tersebut.

Prinsipnya, semakin banyak individu yang kebal, transmisi penyakit makin terbatas dan ini akan menghentikan penyebaran penyakit pada populasi. Prinsip ini digunakan luas dalam program imunisasi. Untuk memproteksi semua individu terhadap suatu penyakit, imunisasi cukup diberikan kepada 80-90 persen individu dan tak perlu kepada semua individu dalam populasi tersebut.

Berapa besar proporsi individu yang harus kebal agar seluruh individu dalam populasi tidak terinfeksi? Nilai ini dapat diketahui apabila nilai reproduction number (Ro) penyakit diketahui. Nilai Ro menunjukkan jumlah rata-rata orang yang dapat tertular akibat kontak dengan orang yang telah menderita penyakit.

Ro 3 menunjukkan tiga orang akan tertular oleh satu orang yang telah terinfeksi. Nilai Ro berbeda dari suatu penyakit ke penyakit lain. Semakin besar nilai Ro suatu penyakit, semakin infeksius penyakit tersebut dan karena itu proporsi individu yang kebal harus lebih besar.

KOMPAS/PANDU WIYOGA—Dua pasien, dr Rizki Amanda Sari (kiri) dan drg Fitri (kanan), disambut tim medis di Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam sesaat setelah dinyatakan sembuh, Jumat (1/5/2020).

Campak memiliki Ro 12-18 dan karena itu herd immunity baru dapat terjadi apabila 95 persen individu dalam populasi telah kebal. Artinya, agar semua individu terlindungi dari campak, harus dilakukan upaya pengebalan terhadap 95 persen individu pada populasi, baik dengan vaksin maupun kekebalan alami.

Analisis model epidemiologis menunjukkan, nilai Ro virus Covid-19 adalah 2-3. Dengan nilai ini, efek herd immunity baru akan diperoleh jika 66 persen individu dalam populasi telah terpapar virus korona. Analisis lain menyejajarkan Covid-19 dengan virus influenza 1918 bahwa herd immunity baru tercapai apabila 50 persen individu dalam populasi terpapar virus.

Dengan menggabungkan kedua analisis di atas, dapat diekstrapolasi bahwa efek herd immunity virus Covid-19 baru akan tercapai apabila 50-66 persen individu dalam populasi telah terpapar virus ini dan memiliki kekebalan. Jika tidak mencapai nilai ini, tambahan outbreak dapat terjadi.

Kondisi Indonesia
Dengan menggunakan analisis di atas, sangat tak mungkin, tak rasional, dan tak manusiawi bagi negara mana pun, termasuk Indonesia, untuk memilih opsi herd immunity dalam penanganan pandemi Covid-19. Dengan populasi 270 juta jiwa di Indonesia dan belum adanya vaksin, efek herd immunity baru akan diperoleh apabila 135-178 (nilai tengah 156) juta penduduk Indonesia terinfeksi Covid-19. Dari jumlah yang harus terinfeksi ini, sekitar 90 persen (140 juta) akan sembuh tanpa perawatan, 10 persen (15,6 juta) butuh perawatan rumah sakit, dan 5 persen (7,8 juta) meninggal.

Pertanyaannya, apakah untuk tujuan herd immunity ini negara kita akan membiarkan 150 juta lebih penduduk terinfeksi Covid-19, 15 juta lebih penduduk harus menjalani perawatan rumah sakit, dan 8 juta penduduk meninggal? Tentu saja tak ada negara yang ingin mengambil risiko ini.

Jadi, lupakan opsi herd immunity dalam penanganan Covid-19. Strategi ini hanya berlaku pada program imunisasi dan bukan pada penanganan pandemi. Strategi ini bukan sebuah way out, tetapi justru strategi yang out of the way.

(Iqbal Mochtar, Dokter dan Pengamat Masalah Kesehatan)

Sumber: Kompas, 5 Mei 2020

Share
x

Check Also

Tantangan Kelola Riset dan Inovasi

Inovasi selalu multipihak dan bertahapan jamak. Ia tak pernah akan bisa dipaksa, tetapi prosesnya bisa ...

%d blogger menyukai ini: