Home / Berita / Gotong Royong Mengoptimalkan Kegiatan Belajar-Mengajar Daring

Gotong Royong Mengoptimalkan Kegiatan Belajar-Mengajar Daring

Kegiatan belajar-mengajar dalam jaringan dengan mengandalkan interaksi melalui internet dianggap sebagai solusi tepat di tengah merebaknya Covid-19. Kendala kesiapan guru dan orang tua patut jadi perhatian.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO–Sebanyak 2.150 peserta kejar paket B dan C belajar secara daring bersama menggunakan aplikasi yang dikembangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Banyuwangi, Senin (28/10/2019). Kegiatan itu dicatatkan sebagai pemecahan rekor sebagai belajar dari pertama dan terbanyak versi Muri.

Pemerintah mendorong instansi pendidikan dan perusahaan teknologi gotong royong mendukung pengoptimalan kegiatan belajar-mengajar dalam jaringan. Upaya itu diharapkan mampu mengurangi potensi penyebaran Covid-19.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, akhir pekan lalu, di Jakarta, mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan siap dengan skenario bekerja bersama-sama untuk mendorong pembelajaran daring bagi para siswa. Kemendikbud telah memiliki aplikasi pembelajaran jarak jauh berbasis laman dan Android bernama Rumah Belajar. Sejumlah fitur unggulan dapat diakses siswa dan guru, seperti kelas digital, bank soal, dan sumber belajar. Semua sekolah dari jenjang pendidikan apa pun bisa memanfaatkannya.

Mendikbud mengapresiasi sejumlah sekolah dan perusahaan teknologi swasta yang sudah bergerak cepat menyikapi perlunya pembelajaran dalam jaringan di tengah merebaknya Covid-19. Ada beberapa yang sudah menyatakan kesanggupannya memberikan fasilitas sistem belajar secara daring, antara lain Google, Ruangguru, Kelas Pintar, Microsoft, Quipper, Sekolahmu, dan Zenius. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, sudah ada 65 institusi yang menerapkan kegiatan belajar-mengajar (KBM) secara daring.

Direktur Utama PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) Setyanto Hantoro menceritakan, Telkomsel telah bekerja sama dengan aplikasi belajar Ruangguru. Kerja sama ini memungkinkan pelajar, orangtua siswa, dan guru pelanggan Telkomsel bisa mengakses seluruh materi belajar di aplikasi Ruangguru secara bebas kuota hingga 30 gigabyte.

Selain Ruangguru, masih ada potensi bekerja sama dengan perusahaan aplikasi ataupun penyedia layanan belajar dalam jaringan dengan mengandalkan interaksi melalui internet. Anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) ini juga telah menjajaki peluang kolaborasi dengan sekitar 100 perguruan tinggi yang mengembangkan laman layanan belajar daring.

Telkomsel telah memiliki paket internet Ilmupedia yang dapat dipilih pelanggan layanan prabayar untuk mengakses aplikasi-aplikasi edukasi. Untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan lalu lintas konsumsi data, dia menyebut telah ada upaya menambah kapasitas jaringan dan pengamanan kualitas layanan di wilayah residensial.

Presiden Direktur dan CEO PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo) Ahmad Al-Neama menyampaikan, beberapa institusi pendidikan tinggi yang telah bekerja sama dapat memakai solusi bisnis yang kapasitas bandwidth internet besar dan gratis. Dengan demikian, mereka mudah menyelenggarakan KBM daring.

Sekretaris Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Suhartono, mengatakan, ITS akan menjalankan KBM dengan metode daring sampai penanganan bencana nasional non-alam penyakit Covid-19 dapat teratasi. Dengan kata lain, saat pemerintah menyatakan situasi aman, maka KBM daring akan kembali dikombinasikan dengan tatap muka seperti semula.

”Kami telah mempersiapkan KBM daring dalam wujud platform MyITS. Beberapa mata kuliah sudah sempat diajarkan melalui aplikasi MyITS. Surat edaran rektor per Minggu (15/3/2020) membuat seluruh mata kuliah diajarkan secara daring,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Senin (16/3/2020).

Menurut dia, sebagian besar dosen dan mahasiswa ITS telah terbiasa menerapkan KBM daring. Hanya saja, sebelumnya, KBM dengan metode itu tidak wajib dan hanya diterapkan pada beberapa mata kuliah saja. Kini, ITS berupaya memastikan agar dosen dan mahasiswa sama-sama mengikuti KBM daring.

KOMPAS/ERIKA KURNIA–Seorang remaja murid SMP mempelajari bahan pelajaran yang dibagikan gurunya melalui dokumen daring di rumahnya, Senin (16/3/2020). Murid sekolah di Jakarta dan beberapa provinsi lain di Indonesia kini harus belajar di rumah, menyusul kebijakan pemerintah daerah untuk menutup sementara sekolah sebagai upaya mencegah penularan Covid-19.

Tidak merata
Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Ridwan Sanjaya menyampaikan, KBM daring mulanya dikombinasikan dengan KBM tatap muka. Model gabungan seperti ini sesuai arahan Kemendikbud. Tidak semua dosen siap dan cepat adaptif, terutama beberapa dosen lebih senior.

”Ada materi mata kuliah diunggah sekaligus pada awal semester. Ada pula materi mata kuliah tertentu yang baru diunggah menjelang KBM berlangsung. Kondisi di lapangan sangat bervariasi,” ujarnya.

Untuk Universitas Katolik Soegijapranata, khususnya, KBM daring telah diberlakukan penuh. Server yang ada telah dioptimalkan. Seluruh mahasiswa dan dosen mau tak mau harus aktif KBM daring lewat platform Cyber.unika.ac.id.

Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Sabang, Aceh, Yusmiwati, menceritakan, Dinas Pendidikan Aceh menginstruksikan seluruh SMA/SMK dan sekolah luar biasa melakukan KBM daring. Instruksi ini berlaku mulai 16-30 Maret 2020. Siswa diharapkan belajar di rumah masing-masing. Bahan pembelajaran dan tugas mandiri untuk siswa kelas X dan XI wajib diberikan oleh guru sesuai kompetensi dasar dengan menggunakan aplikasi rumah belajar milik Kemendikbud.

Instruksi tersebut terkendala di kesiapan guru. Bahan-bahan ajar yang diberikan ke siswa harus didesain dulu. Materi yang sudah beredar secara daring saat ini kebanyakan untuk siswa SMA.

”Materi ajar khusus kejuruan sukar diperoleh. Ini kendalanya. Kalau sinyal internet di sini tidak menjadi persoalan,” kata Yusmiwati.

Peran orangtua
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda berpendapat, KBM daring memerlukan dukungan dari orang tua. KBM dengan cara itu menuntut orang tua serius ikut mendampingi dan mengawasi peserta didik bak guru.

”Apabila orang tua tidak siap dengan peran ganda tersebut, KBM daring tidak akan berjalan maksimal. Akibatnya, ada potensi orangtua membiarkan anaknya jalan-jalan ke luar rumah dan tidak belajar,” ujarnya.

Menurut Syaiful, pengalaman Italia melakukan penutupan (lockdown) dapat dijadikan pelajaran. KBM di sekolah dan kampus dialihkan dari tatap muka menjadi daring, tetapi orangtua tidak siap. Akibatnya, siswa dan mahasiswa memilih pergi ke luar rumah sehingga risiko penyebaran Covid-19 naik.

Apabila orangtua siap dengan KBM daring, lalu mau mendampingi dan mengawasi saat kegiatan, hal tersebut tidak selesai. Orang tua juga harus membiasakan anak-anaknya perilaku hidup sehat dan pembatasan sosial (social distancing). Kedua upaya itu bisa mengurangi potensi risiko tertular Covid-19.

”Durasi KBM daring bagi mahasiswa atau siswa biasanya berjalan efektif 4-6 jam. Sisanya adalah waktu kosong. Orangtua perlu berperan membiasakan agar social distancing dan mengupayakan aktivitas kreatif sebagai pengganti,” kata Syaiful.

Oleh MEDIANA

Sumber: Kompas, 17 Maret 2020

Share
x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...