Giliran Selatan Malang Gempa

- Editor

Senin, 27 Juli 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gempa Lebih Besar Berpotensi Terjadi
Dua hari berturut-turut, Samudra Hindia di selatan Jawa dilanda gempa bumi. Jika Sabtu (25/7) pusat gempa di selatan Cilacap, Jawa Tengah, pada Minggu (26/7) pusat gempa di selatan Malang, Jawa Timur. Sekalipun kekuatan gempa relatif kecil, wilayah ini menyimpan potensi gempa besar, bermagnitudo di atas delapan.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, gempa di selatan Malang berkekuatan 5,9 skala Richter, terjadi pukul 14.05.05. Pusat gempa berkedalaman 56 kilometer. Gempa dirasakan di Malang, Blitar, dan Denpasar dengan skala III-IV Modified Mercally Intensity (MMI). Di Yogyakarta dan Banyuwangi, gempa dengan skala III MMI; di Madiun, Pacitan, dan Pandaan, gempa berskala II-III MMI; serta di Bangil dan Surabaya II MMI.

“Dengan kedalaman hiposenter hanya 56 kilometer, gempa bumi ini merupakan gempa dangkal,” kata Daryono.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Analisis mekanisme sumber, menurut Daryono, menunjukkan gempa bumi dipicu penyesaran naik (thrust fault). Itu mengindikasikan gempa tersebut memang terjadi di zona megathrust. “Meskipun mekanisme sumbernya penyesaran naik, parameter gempa bumi ini tidak memenuhi syarat terjadinya tsunami. BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami,” katanya.

Peningkatan seismik
Menurut Daryono, dua gempa dalam dua hari di selatan Jawa tersebut punya mekanisme hampir sama. Sehari sebelumnya, selatan Cilacap diguncang gempa 5,8 skala Richter.

“Memang zona selatan Jawa terdapat zona megathrust di sepanjang jalur subduksi, wajar jika aktif gempabumi. Apakah ada kaitannya, tentu butuh penelitian komprehansif. Namun, saya sepakat jika di zona selatan Jawa sedang ada peningkatan aktivitas seismik,” ujarnya.

Daryono menambahkan, aktivitas gempa dengan skala relatif kecil itu diharapkan bisa melepas medan tegangan yang terakumulasi di zona gempa selatan Jawa. “Semoga ini bisa mengurangi ancaman gempa besar,” lanjutnya.

Namun, ahli tsunami dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPDP-BPPT), Widjo Kongko, mengatakan, dua gempa berturut-turut tersebut mengingatkan tingginya potensi kegempaan di selatan Jawa.

Kedalaman sumber gempa di wilayah itu didominasi kurang dari 80 km di bawah permukaan tanah. “Untuk tsunami, daerah sumber yang dikhawatirkan lebih ke selatan atau 100-150 km dari pusat gempa sekarang. Potensi di kawasan ini lebih besar dan dangkal,” ujarnya.

Penelitian Hanifa (2014), potensi gempa di kawasan ini bisa berkekuatan M 8,3-8,7. “Jika terjadi gempa M 8,5 di kawasan ini, potensi tsunami di selatan Jawa bisa setinggi 10-15 meter dan penetrasinya 3-5 km dari garis pantai ke daratan,” kata Widjo.

Menurut Daryono, zona selatan Jawa bagian dari kerangka sistem tektonik Indonesia. Daerah itu termasuk jalur pertemuan lempeng konvergen, yaitu Lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah Lempeng Eurasia berkecepatan 50 milimeter hingga 70 milimeter per tahun. Batas pertemuan lempeng itu ditandai palung samudra, terbukti dengan keberadaan Palung Jawa di Samudra Hindia.

“Di samping sangat rawan gempa akibat aktivitas tumbukan lempeng, zona selatan Jawa juga sangat rawan gempa akibat aktivitas sesar-sesar lokal di daratan. Kondisi tektonik semacam ini menjadikan zona selatan Jawa kawasan seismik aktif,” ujarnya.

Sejarah kegempaan
Catatan sejarah kegempaan Jawa tahun 1840-2014, zona selatan Jawa beberapa kali gempa dirasakan hingga merusak. Gempa bumi pertama tercatat adalah gempa bumi Purworejo (1840). Menurut Newcomb dan McCann (1987), gempa terjadi 4 Januari 1840. Daerah rusak meliputi Kebumen, Purworejo, Bantul, Salatiga, Demak, Semarang, Kendal, dan Banjarnegara.

Gempa bumi 10 Juni 1867 menyebabkan ribuan rumah rusak dan lebih dari 500 orang meninggal (Newcomb dan McCann, 1987). Getaran gempa bumi itu terasa hingga Klaten, Salatiga, dan Sragen. Gempa merusak juga terjadi 23 Juli 1943. Kota-kota terdampak adalah Cilacap, Tegal, Purwokerto, Kebumen, Purworejo, Bantul, dan Pacitan. Korban meninggal lebih dari 213 orang.

Pada 3 Juni 1994, tsunami di selatan Banyuwangi menelan korban 215 orang. “Saat itu, gempa juga di zona megathrust selatan Jawa Timur berkekuatan Mw 7,8, kedalaman hiposenter 18 km,” kata Daryono. (AIK)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Juli 2015, di halaman 14 dengan judul “Giliran Selatan Malang Gempa”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 24 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru