Home / Berita / Gigitan Ular Kobra, Atraksi Terakhir Rizky Ahmad

Gigitan Ular Kobra, Atraksi Terakhir Rizky Ahmad

Setelah digigit king kobra atau Ophiophagus hannah peliharaannya, Rizky Ahmad (19) dibawa ke rumah sakit. Ia berjalan didampingi kerabat dan teman komunitasnya di lorong rumah sakit dengan tangan diikat. Persis seperti di film-film. Padahal, penanganan seperti itu keliru. Nyawanya pun tak bisa diselamatkan.

Minggu (8/7/2018) pagi, Rizky mengerang kesakitan setelah digigit ular yang sudah dipeliharanya selama dua bulan lebih. Pagi itu ia sedang bersama kakak dan teman-temannya datang ke Bundaran Besar, Palangkaraya, Kalimantan Tengah untuk atraksi pada car free day (CFD) Palangkaraya. Kegiatan yang rutin ia ikuti hampir di tiap akhir pekan.

Dengan sigap beberapa orang kawannya mengikatkan tali di lengan kanannya. Lalu dibawa dengan motor ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Doris Sylvanus, Palangkaraya. Ia pun sempat berjalan untuk masuk ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD).

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Jenazah Rizky (19) dimakamkan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (12/7/2018).

Pelaksana Tugas Direktur Pendidikan dan Kemitraan RSUD Doris Sylvanus dr. Theodorus Sapta Atmadja menjelaskan, Rizky meninggal dunia setelah dilakukan penanganan selama hampir 24 jam. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin (9/7/2018) pada pukul 08.30 pagi.

“Kami sudah berupaya maksimal menyelamatkan Rizky. Bahkan, kami sudah memberikan enam vial suntikan serum anti bisa ular, tapi kondisinya terus menurun,” kata Theodorus.

Rizky sempat dimasukkan ke dalam ventilator yang menahan venom atau bisa ular tidak menyebar. Tetapi terlambat, gangguan pernapasan atau hipoksia lebih dahulu menyerang Rizky.

Setelah pihak rumah sakit menyatakan Rizky meninggal dunia, pihak keluarga pun mengambil jenazah Rizky dan membawanya ke rumah mereka di Danau Rangas, Bukti Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Palangkaraya, Kalteng.

Pawang ular
Di lingkungan komunitas, Rizky dikenal sebagai pawang ular. Usianya yang belia tak jadi penghalang. King kobra yang ia bawa pada CFD kali itu adalah ular yang ia temukan di sebuah rawa hitam di dekat rumahnya. Rawa hitam itu karena kandungan tannin pada tanah bergambut, yang dikenal juga sebagai habitat beberapa jenis ular.

Setelah ia mendapatkan ular itu, Rizky kemudian memeliharanya. Dari beberapa tampilan foto di media sosial dan keterangan keluarga Rizky memang terlihat akrab dengan ular.

“Biasa dicium-cium kalau ada orang banyak, tapi kalau sudah begitu dimasukkan lagi ke dalam kotaknya,” ungkap ayah Rizky, Ahmad Fauji.

Setelah dibawa pulang, jenazah Rizky tidak langsung dikubur. Keluarganya menyimpan jenazah di luar rumah. Ini dilakukan karena akan dilakukan ritual adat untuk orang yang mati tidak wajar seperti dibunuh, kecelakaan, dan lainnya.

Namun, Senin malam, Ahmad Fauji bersumpah bahwa dirinya sempat memeriksa denyut nadi dan masih berdenyut. Selain itu, badan Rizky mulai hangat. Keluarga pun mulai berharap kalau Rizky masih hidup. Padahal itu adalah tanda pembusukan tubuh manusia.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Keluarga Rizky (19) korban gigitan king kobra didoakan oleh keluarga sebelum dikubur, Kamis (12/7/2018).

Sampai Rabu malam tidak ada perubahan. Yang ada hanya badan Rizky yang mulai dingin dari kepala sampai kaki. Rizky pun dikubur setelah shalat Dhuhur Kamis (12/7/2018) siang.

Imobilisasi
Pakar gigitan ular dan toksikologi Dr. dr. Tri Maharani Msi. SPEM menjelaskan, semestinya sesaat setelah digigit king kobra, korban tidak boleh diikat dan dibiarkan bergerak. Karena bisa ular atau venom jenis king kobra tidak langsung menyerang pembuluh darah, tetapi kelenjar getah bening.

“Film-film banyak berikan referensi adegan yang keliru, seperti diikat atau dihisap. Harusnya tidak begitu,” ujar Maharani.

Maharani menambahkan, berdasarkan panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam penanganan bisa ular tidak sembarangan. Setelah digigit, harus dilakukan imobilisasi artinya korban dibuat tidak bergerak. Bisa saja dengan cara dibebat pada tempat yang digigit. Prakteknya seperti membebat tangan atau kaki yag patah menggunakan kayu.

Imobilisasi bertujuan agar venom pada kelenjar getah bening tidak menyebar. Karena pada saat digigit ular, venom akan bersarang di kelenjar getah bening sebelum menyebar ke tubuh, imobilisasi akan menjaga venom tidak menyebar.

“Dalam kasus Rizky, harusnya lengan kanan itu dibebat, prakteknya seperti membebat orang patah tangan tau patah kaki, sehingga ia lurus tidak bergerak,” kata Maharani.

Selain itu, rumah sakit tidak memiliki anti-venom khusus king kobra. Padahal, perbedaan jenis ular berbeda juga serum yang digunakan.

“Dokter di rumah sakit sudah tepat melakukan penanganannya tetapi bisa ular sudah menyebar, kalau dari awal Rizky dibebat atau dilakukan imobilisasi potensi selamat masih besar,” kata Maharani.

Bisa king kobra, tambah Maharani, mengandung cardiotoxin dan neurotoksin toxinatic. Cardiotoxin membuat kerja jantung tidak karuan, sedangkan neurotoksin toxinatic menyerang ujung syaraf, yang menyebabkan otot-otot lumpuh dan kemudian korban mengalami hipoksia, seperti yang dialami Rizky.

Serum yang digunakan rumah sakit di Indonesia adalah serum polivalen produksi Biofarma untuk kasus gigitan ular kobra (Naja sputatrix), welang (Bungarus fasciatus), dan ular tanah (Agkistrodon rhodostoma). (Kompas, Selasa 14 Juli 2015).

Serum polivalen memang dapat mengobati gigitan lebih dari satu jenis ular, tetapi efektivitasnya lebih rendah daripada serum monovalen (spesifik untuk satu jenis ular). Serum monovalen masih minim di Indonesia, bahkan keberadaannya dianggap ilegal karena belum teregistrasi di Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Untuk kasus Rizky, harusnya digunakan serum anti venom monovalen king kobra. “Saya kirim serum ke Palangkaraya saat Rizky masih di rumah sakit, tetapi terlambat karena kabar ke saya juga kurang cepat,” kata Maharani.

Anti venom untuk gigitan King Kobra tidak diproduksi di Indonesia. Menurut Maharani, produksi anti-venom terbaik masih dimiliki oleh palang merah Thailand buatan Queen Saovabha Memorial Institute (QSMI). Ia pun kerap memesan di sana tetapi melalui proses birokrasi yang panjang di Indonesia karena belum teregistrasi.

Atraksi ular
Tahun 2016, kasus serupa menimpa Irma Bule, penyanyi dangdut Pantura yang digigit king kobra saat beraksi di atas panggung. Irma memaksakan dirinya tetap menari selama 45 menit meski sudah digigit dan baru bereaksi sejam berikutnya.

“Belum ada aturan atau kebijakan yang mengatur soal atraksi dengan hewan berbahaya. Ini seharusnya jadi perhatian pemerintah,” kata Maharani.

Dari data WHO, angka insiden gigitan ular di Indonesia rata-rata mencapai 135.000 kasus per tahun, lebih banyak dari kasus kangker yang mencapai 133.000 kasus per tahun, ataupun HIV/AIDS dengan angka 191.000 kasus per tahun.

Tahun 2017, total terdapat 35 kasus kematian karena gigitan ular, sebanyak 17 di antaranya adalah karena digigit king kobra. Sedangkan tahun ini, dari Januari sampai sekarang sudah terdapat 25 kasus kematian karena gigitan ular, di mana 12 di antaranya karena king kobra.

King Kobra dan beberapa jenis ular lainnya merupakan hewan berbahaya yang semestinya tidak bisa dipertontonkan sembarangan apalagi daam sebuah atraksi. Bukan hanya membahayakan si pawang atau pembuat atraksi, tetapi juga penonton yang ada di dekat lokasi.

Atraksi Rizky bersama ular berakhir selamanya. Panggung atraksinya tak hanya mengundang perhatian tetapi juga keprihatinan.–DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Sumber: Kompas, 13 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: