Home / Berita / arkeologi-antropologi / Gigi Purba Mengungkap Ketidaksetaraan Jender di Zaman Perunggu

Gigi Purba Mengungkap Ketidaksetaraan Jender di Zaman Perunggu

Analisis gigi berusia 2.500 tahun di era Dinasti Zhou Timur di dataran tengah China membuka jendela adanya sejarah ketidaksetaraan jender selama zaman perunggu di China.

KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENG–Peneliti Balai Arkeologi Makassar, Budianto Hakim, menunjukkan gigi geraham yang diduga milik manusia purba dari ras Austromelanesoid, di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (24/4/2015). Gigi itu ditemukan bersama tengkorak oleh tim peneliti dari Balai Arkeologi Makassar dalam penggalian di goa karst Bala Metti, Desa Pattuku, Kecamatan Bontocani, Bone, Sulsel, pada 13-23 April 2015.

Gigi manusia berusia 2.500 tahun yang berasal dari dataran tengah China, dari Dinasti Zhou Timur (771-221 SM), mengungkap banyak informasi tentang pola menyusui, menyapih, evolusi diet, dan perbedaan apa yang dimakan anak perempuan dan laki-laki. Hal ini diketahui dari hasil pemeriksaan dentin gigi atau jaringan tulang yang membentuk sebagian besar struktur gigi pada gigi 23 individu dari dua situs arkeologi yang berbeda.

Dengan menggunakan analisis isotop stabil, para peneliti dari Universitas Otago, Selandia Baru, dapat menunjukkan jenis dan jumlah berbagai elemen dalam dentin, termasuk karbon dan nitrogen, yang membuka informasi tentang kehidupan dan diet 23 individu tersebut. Temuan yang dipublikasi di American Journal of Physical Anthropology pada Kamis (19/3/2020) ini menunjukkan sebuah gambaran perubahan masyarakat.

”Kami sudah tahu periode waktu (Dinasti Zhou Timur) ini menunjukkan peningkatan ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Apa yang dapat kami temukan adalah bahwa perbedaan-perbedaan ini bahkan terbukti dalam apa yang dimakan orang dan bagaimana mereka merawat anak-anak mereka, seperti perbedaan jender dalam berapa lama bayi disapih dan makanan yang diberikan pada mereka saat anak-anak,” kata ketua peneliti, Dr Melanie J Miller, dari Departemen Anatomi Universitas Otago.

Gigi, sebagaimana dalam penelitian Laurie Reitsema, bioarkeologis dan asisten profesor antropologi di Sekolah Tinggi Seni dan Sains Franklin, Universitas Georgia, Amerika Serikat, berfungsi sebagai catatan tentang apa yang dimakan manusia selama masa kecil mereka. Dia meneliti tentang diet anak-anak Italia abad pertengahan.

Sebagai perbandingan, dalam penelitian yang dipublikasi di American Journal of Physical Anthropology pada 2016, Reitsema menemukan bahwa anak-anak yang berasal dari status sosial tinggi dan rendah pada dasarnya makan makanan yang sama, dengan penekanan pada protein hewani. Namun, ketika dewasa, diet mereka menyimpang beberapa, dengan laki-laki dari keluarga berstatus rendah sosial tidak lagi makan banyak protein.

Media pembeda
Hasil analisis tim peneliti Universitas Otago terhadap 23 individu tersebut menunjukkan perbedaan antara makanan anak laki-laki dan anak perempuan pada zaman perunggu. Anak-anak disusui hingga mereka berusia antara 2 tahun 6 bulan dan 4 tahun. Penyapihan yang dilakukan dengan pemberian makanan padat—sebagian besar terdiri dari gandum dan kedelai—terjadi sedikit lebih awal pada anak perempuan daripada pada anak laki-laki.

”Untuk dua komunitas yang kami pelajari, makanan adalah aspek integral dari identitas, dan itu adalah media pembedaan antara perempuan dan laki-laki. Kami menemukan perbedaan pola makan antara jenis kelamin yang dimulai pada anak usia dini dan berlanjut sepanjang hidup. Itu berarti makanan yang dimakan orang secara teratur sedikit berbeda jika mereka anak laki-laki atau anak perempuan, dan kemudian laki-laki atau perempuan (dewasa),” papar Miller.

Dia mengatakan, laki-laki terus makan lebih banyak dari tanaman tradisional, milet (biji-bijian sereal yang banyak tumbuh di wilayah beriklim hangat dan setengah gersang), sementara perempuan lebih banyak mengonsumsi makanan ”baru” seperti gandum dan kedelai. Makanan gandum dan kedelai adalah komponen penting dari diet masa kanak-kanak. Ini menunjukkan makanan itu dimasukkan ke dalam praktik kuliner lokal sebagai makanan penyapihan.

KOMPAS/HERPIN DEWANTO PUTRO–Koleksi gandum di Museum Vodka, Saint Petersburg, Rusia, Rabu (11/7/2018). Museum ini menyediakan informasi lengkap mengenai perjalanan sejarah minuman vodka yang menjadi minuman kebanggaan Rusia.

Dinasti Zhou Timur adalah periode yang sangat penting dalam sejarah China dan perubahan budaya China. ”Ini adalah masa Konfusius dan intelektual terkenal lainnya. Dan, kita melihat beberapa bentuk ketimpangan sosial paling awal antara laki-laki dan perempuan muncul selama ini, dan hasil diet ini menggarisbawahi bagaimana kehidupan sehari-hari perempuan dan laki-laki semakin dibedakan, bahkan dalam praktik sehari-hari seperti makanan apa yang dimakan seseorang,” kata Miller.

Dr Miller mengatakan, teknik kimia yang digunakan dalam jenis bioarkeologi ini memungkinkan untuk mempelajari praktik diet manusia purba selama masa hidup orang-orang itu. ”Dengan pendekatan ini, kita dapat melihat secara pribadi kehidupan orang-orang kuno. Itu dapat mengungkapkan aspek signifikan dari pengalaman hidup mereka, termasuk hal-hal seperti perpecahan jender dan ketidaksetaraan sosial,” ujarnya.

Oleh YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 20 Maret 2020

Share
x

Check Also

Antarktika 90 Juta Tahun Lalu Berupa Hutan Hujan Beriklim Sedang

Pada 90 juta tahun lalu, benua Antarktika masih berupa hutan hujan beriklim sedang. Kini, Antarktika ...

%d blogger menyukai ini: