Home / Berita / Geofisika Untuk Ungkap Jejak Peradaban Maritim Majapahit

Geofisika Untuk Ungkap Jejak Peradaban Maritim Majapahit

Metode geofisika ternyata bisa digunakan untuk mengungkap peradaban maritim zaman Kerajaan Majapahit. Tim Laboratorium Geoteknik dan Lingkungan Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya menggunakan metode tersebut agar dapat mengetahui struktur bangunan di bawah permukaan tanah tanpa melakukan eskavasi atau penggalian.

Dosen Geofisika Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya yang juga salah satu pimpinan tim ekspedisi jejak peradaban maritim Sungai Brantas, Amin Widodo, mengatakan riset dilakukan dengan mengeksplorasi jejak dermaga laut dan dermaga sungai yang terdapat di sepanjang aliran Sungai Brantas, Jawa Timur, dari hilir hingga hulu.

“Salah satu tujuannya adalah, mendapatkan gambaran geografi, kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat maritim pada saat itu,” kata Amin saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (30/3/2018).

KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTI–Tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jatim meneliti sebuah situs purbakala yang baru ditemukan warga di Desa Kedung Bocok, Kecamatan Tarik, Sidoarjo, Rabu (7/2). Situs berupa dinding sebuah bangunan itu diduga dibangun pada masa pemerintahan Raden Wijaya ketika awal dia membangun Kerajaan Majapahit.–Kompas/Runik Sri Astuti

Hasil riset juga diharapkan memperkaya referensi tentang peradaban maritim nusantara dan menjadi acuan bagi pembangunan poros ekonomi maritim masa depan. Adapun metode riset yang digunakan adalah teknik geofisika yakni geolistrik, georadar, dan teknik pengeboran untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang struktur bawah permukaan tanah.

“Pada tahap awal, penelitian difokuskan di kawasan hilir Sungai Brantas yakni Sungai Porong dan sekitarnya yang menjadi pintu masuk Majapahit dari Selat Madura. Adapun lokasi yang sudah diteliti adalah situs Carat di Kabupaten Pasuruan. Selain itu situs Terung, situs Wringin Sapta, dan situs Terik di Sidoarjo,” kata Amin.

Situs Carat yang berjarak sekitar 50 meter dari Sungai Porong, merupakan gerbang masuk pasukan Mongol dan tempat pertemuan dengan pasukan Raden Wijaya sebelum berkoalisi menyerbu Kerajaan Gelang-Gelang di Kediri. Sementara situs Terung berdasarkan Prasasti Canggu (masa kepemimpinan Rajasanegara) merupakan satu dari 44 desa penyeberangan (Niditirapradesa) yang berada di sekitar Sungai Brantas dan Bengawan Solo.

Adapun situs Wringin Sapta, berdasarkan Prasasti Kamalagyan (pada masa kepemimpinan Raja Airlangga), merupakan salah satu bendungan yang dibangun untuk mengatasi banjir di Sungai Brantas. Pekan lalu dilakukan penelitian di situs Terik atau hutan Trik, Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik yang akan dilanjutkan pertengahan April mendatang.

Sejumlah metode
Riset pertama menggunakan metode geolistrik, kemudian dilanjutkan metode georadar. Setelah itu baru dilakukan pengeboran untuk pengambilan sampel endapan tanah yang akan diteliti di laboratorium geoteknik dan lingkungan.

“Prinsip metode geolistrik adalah menyelidiki keadaan bawah permukaan dengan menggunakan sifat-sifat kelistrikan batuan, antara lain tahanan jenis (resistivity) dan kemampuan menimbulkan beda potensial,” kata Amin.

Prinsip metode geolistrik adalah menyelidiki keadaan bawah permukaan dengan menggunakan sifat-sifat kelistrikan batuan, antaralain tahanan jenis (resistivity) dan kemampuan menimbulkan beda potensial

Sementara georadar dipakai untuk mendapatkan citra bawah permukaan dengan memakai pancaran gelombang elektromagnetik. Metode geolistrik maupun georadar mampu menyelidiki keadaan bawah permukaan hingga kedalaman 20 meter. Setelah itu titik atau lokasi pengambilan sampel endapan ditetapkan agar bisa diteliti jenis sedimentasinya, apakah sedimentasi lautan atau sungai.

Riset arkeologi dengan metode geofisika mampu menghasilkan data-data yang bisa diolah dan dikonversi dalam bentuk digital untuk mendapatkan gambaran atau visualisasi kondisi bangunan di bawah permukaan tanah. Setelah diolah, hasil riset akan didiskusikan dengan para pakar di bidang arkeologi agar hasilnya kuat dan komprehensif.

Amin memprediksi riset tersebut membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk mengetahui hasilnya. Sebab, tahapan penelitian amat panjang. Setelah diteliti, perlu pengolahan hasil penelitian, kemudian kajian untuk menggali masukan dan memperkaya data. Selanjutnya hasil kajian akan diolah lagi, dilengkapi apabila masih ada yang kurang, hingga didapatkan hasil riset yang valid.

Kepala Desa Kedung Bocok, lokasi situs Terik, Muhammad Ali Ridho menyambut positif penelitian arkeologi menggunakan metode geofisika yang dilakukan ITS karena memiliki banyak keunggulan. Salah satunya adalah, mengatasi kendala terbatasnya lahan yang bisa dieskavasi.

“Situs Terik berada di atas lahan milik desa dan milik warga juga lahan makam umum. Dengan metode geofisika, struktur bangunan dibawah permukaan bisa diteliti tanpa membongkar bangunan diatasnya,” kata Ali Ridho.–RUNIK SRI ASTUTI

Sumber: Kompas, 31 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: