Home / Berita / Genom Papua Menjadi Dasar Mengatasi Masalah Kesehatan

Genom Papua Menjadi Dasar Mengatasi Masalah Kesehatan

Data terbaru tentang masyarakat Papua dan Nusa Tenggara Timur yang memiliki bauran genetika manusia purba Denisovan sangat tinggi bisa menjadi dasar bagi strategi kesehatan presisi dan perbaikan pola diet untuk mengatasi tingginya gizi buruk. Dua rantai gen Denisovan diketahui memiliki peran penting bagi peningkatan kekebalan tubuh terhadap virus dan bakteri serta metabolisme tubuh.

”Tujuan dari pemetaan genetika manusia Indonesia pada akhirnya untuk perbaikan kesehatan masyarakat. Temuan kami terbaru tentang tingginya komposisi DNA Denisovan pada orang Papua dan juga NTT (Nusa Tenggara Timur) bisa membantu memberi perspektif lebih presisi untuk menangani persoalan kesehatan populasi di kawasan ini,” kata Wakil Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Herawati Sudoyo, di Jakarta, Jumat (12/4/2019).

KOMPAS/AHMAD ARIF–Tim peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melakukan pemeriksaan darah untuk pemetaan thalasemia di Kota Sorong, Kamis (6/9/2018). Thalasemia atau kelainan sel darah merah merupakan penyakit genetik yang paling tinggi frekuensinya di Indonesia dengan variasi berbeda di tiap etnis.

Kolaborasi Eijkman dengan peneliti sejumlah negara, menemukan bahwa masyarakat Papua saat ini memiliki DNA Denisovan dengan persentase hingga 5 persen atau tertinggi di dunia. Tingginya komposisi Denisovan juga ditemukan pada populasi di sebelah timur garis Wallacena lain, meliputi Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT), dibandingkan pada manusia Indonesia di bagian barat.

Hasil kajian yang dipublikasikan di jurnal internasional Cell pada Kamis (11/4/2019) ini juga menemukan, ada dua rantai gen Denisovan yang diwariskan pada populasi orang Papua saat ini. Dua rantai gen yang memiliki peran penting terkait kekebalan dan metabolisme tubuh itu adalah TNFAIP3 dan WDFY2.

Kekebalan tubuh
Kajian secara terpisah oleh Nathan W Zammit dari Garvan Institute of Medical Research, Australia, dan timnya yang diterbitkan di jurnal bioRxiv pada Maret 2019 menemukan, rantai gen Denisovan TNFAIP3 terbukti mampu meningkatkan daya tahan terhadap virus dan bakteri tertentu.

Eksperimen terhadap tikus yang diberikan rantai gen itu meningkatkan kekebalan terhadap virus coxsackie, yang bisa menyebabkan radang meningitis hingga kelumpuhan. Di sisi lain, rantai gen itu meningkatkan kerentanan terhadap virus ektromelia, kerabat dari virus variola dan myxoma.

Disebutkan, temuan ini menunjukkan rantai gen TNFAIP3 yang diperoleh dari Denisovan ini membantu leluhur Papua, termasuk NTT dan Maluku, untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan saat baru menyeberang di sebelah timur garis Wallacea.

Sementara menurut peneliti genetika dari Lembaga Eijkman Pradiptajati Kusuma, rantai gen WDFY2 yang dimiliki orang Papua ini berperan penting dalam meningkatkan metabolisme lipid atau lemak menjadi energi. ”Rantai gen ini kemungkinan yang membantu leluhur Papua menjadi pemburu ulung di masa lalu, terutama untuk beradaptasi dengan pola hidup berpindah-pindah dan pola diet tinggi protein hewani dan rendah karbohidrat,” katanya.

–(A) Lokasi pengambilan sampel. Lingkaran luar menunjukkan komponen keturunan modern: biru-Papua, abu-abu gelap-Asia. Bagan lingkaran dalam menunjukkan perkiraan pembauran kuno: hijau- masuknya bauran Denisovan, kuning-bauran Neanderthal, abu-abu muda-bauran Neanderthal atau Denisovan. Data menunjukkan, bauran Denisovan terhadap manusia modern di Papua 13,7 kali lipat lebih besar dibandinkan di Eurasia Barat.(B) Data sampel manusia non-Afrika, menunjukkan adanya dua sumbu utama yang membedakan ”Papua” dengan Asia-Eropa, terkait komposisi genetiknya.Sumber: Guy Jacobs dan tim, jurnal Cell Press, 2019

Menurut Pradipta, rantai genetika tersebut membantu tubuh mampu menyimpan dengan baik lemak dari protein hewani yang dengan cepat dibutuhkan untuk aktivitas tinggi. Namun, perubahan pola hidup dan pola makan masyarakat Papua saat ini justru tinggi karbohidrat dan gula.

Apalagi, di Papua juga terjadi pergeseran pangan pokok dari sagu dan keladi menjadi beras yang memiliki indeks glikemik jauh lebih tinggi. Perubahan ini bisa mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh mereka.

”Rantai gen WDFY2, yang dulu berguna untuk membantu metabolisme tubuh, bisa jadi sekarang justru membawa dampak negatif. Ini perlu dikaji untuk penelitian lebih lanjut,” kata Pradiptajati.

Menurut Herawati, informasi genom ini juga penting untuk mencari pola nutrisi yang cocok bagi orang di Indonesia timur yang saat ini memiliki kerentanan tertinggi gizi buruk dan tengkes (stunting).

Berdasarkan Pantauan Status Gizi (PSG) 2017, prevalensi tengkes atau tubuh pendek akibat kurang gizi kronis pada bayi berusia di bawah lima tahun di NTT mencapai 40,3 persen, yang merupakan tertinggi di Indonesia. Sementara prevalensinya di Papua dan Papua Barat 32,8 persen.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 13 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: