Home / Berita / Gebrakan Elektrik Hyundai Ioniq

Gebrakan Elektrik Hyundai Ioniq

Perjalanan Jakarta-Bandung pergi pulang tanpa setetes pun bensin menjadi pembuktian awal Hyundai Ioniq. Namun, tak hanya itu gebrakan yang dibawa mobil listrik murni asal Korea Selatan itu.

KOMPAS/EDDY HASBY–Hyundai Ioniq, mobil listrik pertama yang dimasukkan Hyundai ke Indonesia, berada di depan Gedung Sate Bandung, Selasa (04/08/2020) malam.

Perjalanan Jakarta-Bandung pergi pulang tanpa setetes pun bensin menjadi pembuktian awal Hyundai Ioniq. Namun, tak hanya itu gebrakan yang dibawa mobil listrik murni asal Korea Selatan itu ke Indonesia.

Secara simbolis, mobil bermodel liftback ini menandai kehadiran baru Hyundai di Tanah Air. Keagenan mereknya di sini baru saja dipindah dari PT Hyundai Mobil Indonesia (HMI) ke PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) yang dikendalikan langsung dari markas besar Hyundai Motor Company di Seoul, Korea Selatan.

”Mobil ini akan diluncurkan resmi di Indonesia tahun ini, kemungkinan sekitar September, dibarengkan dengan perkenalan manajemen baru Hyundai di Indonesia yang menandai era baru Hyundai di Indonesia,” kata Astrid Ariani Wijana, General Manager Marketing PT HMID, saat memperkenalkan Ioniq kepada Kompas di Jakarta, Senin (3/8/2020).

Seperti disebutkan di atas, Ioniq adalah mobil listrik murni. Jantung penggeraknya adalah baterai polimer litium-ion berkapasitas 38,3 kilowatt hour (kWh) yang tersimpan di sekujur lantai mobil. Baterai ini menjadi sumber tenaga bagi motor listrik dengan keluaran tenaga maksimum 100 kilowatt (136 HP) dan torsi puncak setara dengan 295 Nm untuk menggerakkan roda depan.

Mobil ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia dalam bentuk transportasi publik dalam jaringan (daring) yang dioperasikan Grab Indonesia, 27 Januari 2020. Sebagai langkah awal, Grab Indonesia akan mengoperasikan 20 unit GrabCar Elektrik ini di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Rencananya sampai dengan akhir tahun ini mereka akan mengoperasikan hingga 500 unit (Kompas.ID, 27/01/2020).

Sosok luarnya mengesankan sebuah mobil modern, dengan bagian buritan tinggi yang kemudian miring melandai makin rendah ke depan. Grilnya terkesan tertutup rapat khas mobil listrik walau di baliknya masih ada radiator untuk mendinginkan cairan pendingin baterai. Saat tutup mesin dibuka, di dalamnya masih terlihat perangkat penggerak mobil, berupa inverter baterai dan motor listrik.

KOMPAS/EDDY HASBY–Dapur pacu Hyundai Ioniq berisi inverter dan motor listrik peggerak roda depan. Cairan warna biru adalah cairan pendingin baterai.

Di lembar spesifikasi, Hyundai mengklaim, dalam kondisi baterai terisi penuh 100 persen, Ioniq bisa menempuh perjalanan hingga sejauh 373 kilometer (km). Kompas pun menantang klaim ini dengan menguji Ioniq dalam perjalanan jauh ke luar kota, yakni ke Bandung, salah satu tujuan favorit warga Ibu Kota dan sekitarnya.
Ini menjadi uji kendara jarak jauh pertama yang dilakukan Kompas untuk sebuah mobil listrik murni.

Dicas penuh
Maka hari Selasa (4/8/2020), Hyundai Ioniq warna putih yang odometernya baru mencatatkan perjalanan sejauh sekitar 375 km ini kami persiapkan untuk perjalanan ke Bandung. Proses pengisian baterai dengan charger portabel bawaan mobil berjalan lancar di rumah dengan daya listrik 3.500 watt. Arus pengisian dipilih paling kecil, yakni 8 ampere.

Jika dikalikan dengan tegangan jaringan listrik rumah tangga 220 volt, daya pengisian mobil sebesar 1.760 watt atau 1,7 kilowatt. Ini adalah laju pengisian terkecil yang dimungkinkan.

Wajar apabila waktu pengisian berjalan cukup lama. Saat pengecasan baru dimulai, posisi baterai ada di posisi sekitar 46 persen (17,6 kWh). Sehingga secara teori, untuk mengisi hingga penuh 38,3 kWh, dibutuhkan waktu setidaknya 11,7 jam. Pada faktanya, baterai yang dicas mulai pukul 22.00 itu baru terisi penuh sekitar pukul 14.00 keesokan harinya, atau makan waktu hingga 16 jam. Ini sesuai perkiraan yang ditampilkan di layar multi information display mobil.

Dalam kondisi baterai penuh, kami meluncur menuju kantor PLN Distribusi Jakarta Raya (Disjaya) di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, untuk menyimulasikan perjalanan dalam kota sekaligus untuk mencoba stasiun pengisian kendaraan listrik untuk umum (SPKLU) ultracepat milik PLN di kantor tersebut. Perjalanan sekitar 39 km menghabiskan 11 persen baterai.

Dengan sisa baterai 89 persen, mobil kami isi dengan SPKLU ultracepat berdaya 150 kW milik PLN itu. Karena baterai masih di atas 80 persen, pengisian berdaya puncak tidak dilakukan. Seperti juga pengecasan baterai, laju pengisian listrik di atas 80 persen akan diperkecil untuk mencegah kerusakan baterai. Perangkat SPKLU pun hanya mengeluarkan daya 15,1 kW dari total daya terpasang 150 kW, dan hanya dibutuhkan waktu sekitar 35 menit untuk mengisi penuh baterai kembali.

Dalam kondisi baterai 100 persen, terlihat pada panel instrumen mobil sisa jarak yang ditempuh adalah 340 km pada mode berkendara Eco. Ada tiga mode berkendara pada Ioniq, yakni Eco, Normal, Sport. Seperti namanya, mode Eco adalah mode paling efisien dalam menggunakan daya baterai, sementara Sport adalah mode paling boros.

Sepanjang perjalanan dari Gambir, Jakarta Pusat, menuju tempat istirahat Km 57 melalui Jalan Tol Layang Cikampek, mobil dikemudikan dengan mode Eco. Kecepatan maksimum yang direkomendasikan pada mode ini adalah 90 km per jam. Apabila mobil melaju di atas kecepatan tersebut, alarm peringatan akan berbunyi.

Fitur modern
Untuk mempertahankan kecepatan pada batas maksimum ini, Kompas mengaktifkan fitur cruise control yang sudah menjadi perangkat standar. Tanpa menginjak pedal gas, mobil meluncur menembus kegelapan malam yang dihiasi bulan purnama kala itu.

Hanya saja, cruise control pada Ioniq belum berteknologi adaptif, artinya kita masih harus mengerem secara manual saat ada rintangan atau mobil lain yang melaju lebih lambat di depan kita. Setiap pengereman akan ”menghadiahkan” pengisian listrik ke baterai karena selazimnya mobil listrik, Ioniq juga dilengkapi sistem pengereman regeneratif (regenerative braking). Energi kinetik putaran roda akan dikonversi menjadi energi listrik saat kita melakukan deselerasi, mulai dari melepas pedal gas hingga mengerem.

Uniknya, mobil ini dilengkapi dengan tiga level regenerative braking saat pedal gas dilepas. Semakin tinggi levelnya, sistem ini akan menahan laju mobil lebih berat, seperti layaknya efek pengereman mesin atau engine brake pada mobil konvensional. Level ”pengereman” ini bisa diatur dengan paddle shift di balik roda kemudi.

Memang, karena mobil tidak memiliki transmisi, paddle shift yang pada mobil biasa berfungsi untuk menaik-turunkan rasio gigi transmisi itu pun berubah fungsi menjadi tuas selektor level regenerative braking.

Kabin Hyundai Ioniq  –Lokasi PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya Selasa (04/08-2020)–KOMPAS/EDDY HASBY

Karena tidak ada koneksi mekanikal lagi dengan transmisi, tuas pengendali gerak mobil ini juga unik. Alih-alih berupa tongkat untuk berpindah dari posisi P-R-N-D seperti pada mobil bertransmisi otomatis, Ioniq memiliki empat tombol, yakni tombol P di tengah dan dikelilingi tombol R, N, dan D searah jarum jam. Jadi saat kita hendak bergerak maju, tinggal tekan tombol D, atau tekan tombol R untuk mundur, dan N untuk netral, tanpa menggerak-gerakkan tongkat lagi.

Sepanjang perjalanan yang santai itu, kami pun bisa mencermati berbagai fitur kenyamanan di dalam mobil. Ioniq yang kami uji ini sudah dilengkapi head unit dengan layar sentuh ukuran 8 inci. Kualitas audionya lumayan, belum bisa dikatakan premium walau tidak jelek-jelek amat. Yang jelas, head unit ini sudah dilengkapi konektivitas Apple Car Play dan Android Auto yang sangat membantu menampilkan fitur-fitur di ponsel, seperti fitur pemutar musik atau navigasi, ke layar mobil.

O ya, bicara soal ponsel, ada ceruk untuk menaruh ponsel di bagian depan konsol, yang juga berfungsi sebagai pengecas nirkabel untuk ponsel generasi terbaru. Sementara untuk konektivitas dan pengecasan ponsel model lama, disediakan dua socket USB standar, satu di bagian bawah dasbor, satu lagi di dalam kotak konsol mobil.

Panel kontrol digital untuk sistem penyejuk udara juga dioperasikan dengan panel sentuh. Tak ada lagi pencet-pencet tombol. Ioniq yang masih didatangkan utuh dari Korsel yang memiliki empat musim juga masih dilengkapi pemanas udara dan pemanas kursi pada kursi depan.

Keunikan dari sistem penyejuk udara Ioniq adalah adanya pengaturan Driver Only. Jadi untuk memaksimalkan efisiensi pemakaian baterai, embusan udara AC hanya diberikan kepada sisi pengemudi saja. AC pun bekerja cukup prima. Dalam pemakaian di Jakarta dan sekitarnya, suhu 23 derajat celsius sudah memberikan kesejukan cukup untuk pemakaian siang hari.
Di sisi keamanan, mobil juga sudah dilengkapi alarm Blind Spot Collision Warning dan 7 kantung udara. Lampu depan LED dan sistem pengatur kursi elektronik juga sudah standar, walau hanya untuk kursi pengemudi.

Keuntungan ganda
Duduk di belakang terasa cukup lega berkat jarak antar poros roda sepanjang 2.700 mm. Posisi sandaran kursi yang tidak terlalu tegak membuat duduk di belakang terasa nyaman di mobil berdimensi panjang 4.470 mm, lebar 1.820 mm, dan tinggi 1.475 mm ini. Ground clearance sebesar 150 mm juga membuat mobil cukup leluasa melewati polisi tidur atau jalur ramp yang cukup terjal.
Bentuk bodi liftback memungkinkan penumpang belakang untuk merogoh ke area bagasi, di saat tirai penutup bagasi digulung. Bentuk bodi ini pula yang memberi keuntungan pada skema perpajakan Ioniq.

Di STNK resmi mobil, tertera model mobil adalah micro/minibus sehingga setara dengan mobil-mobil model hatchback lain di Tanah Air. Ditambah dengan statusnya sebagai mobil listrik, mobil ini pun bebas bea balik nama kendaraan bermotor (BBN KB) dan mendapat diskon Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Total pajak untuk mobil keluaran 2020 ini sesuai STNK hanya sebesar Rp 3.303.200 untuk wilayah DKI Jakarta. Ditambah mobil pun bebas melaju di jalur jalan ganjil-genap.

Jika dilihat fitur-fiturnya, Ioniq yang menurut rencana akan dibanderol sebesar Rp 600 jutaan memberikan rasa dan kelengkapan seperti mobil-mobil hatchback menengah seharga Rp 400 juta-Rp 500 juta, seperti Mazda 3 Hatchback atau Honda Civic Hatchback. Pihak Hyundai mengklaim, selisih harga ini akan terkompensasi dengan berbagai efisiensi yang didapatkan Ioniq, mulai dari bebas BBN KB, pajak yang lebih murah, hingga tidak perlu mengisi bensin dan melakukan perawatan rutin (seperti ganti oli dan berbagai filter) seperti lazimnya mobil konvensional.

Bagaimana dengan rasa berkendaranya? Selepas istirahat dari Km 57, kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung via Tol Purbaleunyi. Begitu jalur jalan mulai menanjak di Km 76, atau sekitar separuh perjalanan menuju Bandung, mode berkendara kami pindah ke Normal.

Sontak penyaluran tenaga motor listrik menjadi lebih spontan dan torsi seolah selalu tersedia untuk melahap tanjakan-tanjakan panjang di Tol Purbaleunyi. Pengendalian mobil juga terasa cukup presisi dan menyenangkan saat mobil harus bermanuver mendahului truk-truk dan bus-bus yang terseok-seok di tanjakan.

KOMPAS/EDDY HASBY–Hyundai Ioniq tengah mengisi tenaga listrik di stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya, Selasa (04/08/2020).

Memang konsumsi baterai kemudian menjadi lebih boros. Namun, saat mobil tiba di Gerbang Tol Pasteur di Kota Bandung, indikator baterai tepat menunjukkan posisi 50 persen dengan sisa jarak tempuh 175 km. Secara teori, sisa jarak tempuh ini masih memungkinkan untuk kembali ke Jakarta tanpa mengisi ulang baterai. Sisa jarak tempuh juga masih sangat leluasa bagi kita untuk menjelajah Kota Bandung untuk mencari tempat makan atau tempat nongkrong.

Namun, karena ini masih menjadi uji perdana, Kompas memilih bermalam dan mengecas ulang baterai semalam suntuk. Terbukti keesokan harinya, perjalanan pulang dengan mode Normal penuh berjalan lancar dan masih menyisakan sisa jarak 138 km saat tiba kembali di titik start di Jakarta.

Pengujian perdana ini membuktikan sebuah mobil listrik murni tidak menemui masalah sama sekali saat harus dikendarai ke luar kota, dalam hal ini Bandung, yang berada pada rentang jarak 100-200 km dari Jakarta. Untuk jarak yang lebih jauh, tentunya diperlukan pengisian ulang baterai di tengah perjalanan.

OlehDAHONO FITRIANTO

Editor:DAHONO FITRIANTO

Sumber: kompas, 13 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: