Home / Berita / Dunia Melawan Sampah Plastik

Dunia Melawan Sampah Plastik

Meskipun didera berbagai kendala, pemerintah sejumlah negara, termasuk Indonesia, berupaya keras melawan deraan sampah plastik.

Laporan Ocean Conservancy pada 2015 menyebutkan, setiap tahun, lebih dari 8 juta ton sampah plastik dibuang ke laut. Lembaga yang berbasis di Washington, Amerika Serikat, itu mengatakan, separuh di antara sampah plastik itu berasal dari lima negara Asia, yaitu China, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

–Pekerja mendorong keranjang berisi botol plastik yang berhasil dipilah dari sampah kiriman warga di TPA Jambangan pada hari yang diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Surabaya, Jawa Timur, 5 Juni 2018. Pemerintah Kota Surabaya melakukan terobosan terkait pengelolaan sampah plastik. Hal yang terbaru ialah pengadaan bus umum yang ongkosnya bukan uang tunai melainkan botol plastik.

Dampaknya sangat berbahaya. Menurut lembaga itu, lebih dari 700 spesies yang hidup di laut telah tercemari sampah plastik dan menyebabkan kematian. Minggu lalu, seekor paus ditemukan sekarat di pesisir Songkhla, Thailand. Di dalam perutnya ditemukan 80 kantong plastik dan barang-barang lain seberat 8 kilogram yang juga terbuat dari plastik.

REUTERS/DANISH SIDDIQUI–Petugas kota praja yang merupakan bagian dari regu pemberantas plastik bersiap untuk berangkat dari kantor mereka di Mumbai, India, Rabu (27/6/2018).

Selain membunuh kehidupan laut, sampah plastik juga menyumbat saluran air dan diduga menjadi pemicu banjir di kota- kota besar, seperti Mumbai dan Manila.

Di pantai Pulau Christmas yang berada di pesisir Samudra Hindia, sampah plastik juga ditemukan menumpuk di pasir putih dan membunuh kehidupan laut. Penyu yang bersarang sepanjang tahun di Pulau Christmas sangat rentan.

Di pantai Pulau Christmas yang berada di pesisir Samudra Hindia, sampah plastik juga ditemukan menumpuk di pasir putih dan membunuh kehidupan laut.

Plastik menyumbat perut dan menjebak penyu sehingga tidak dapat menyelam cukup dalam untuk mencari makan. ”Kantong plastik terlihat sangat mirip dengan ubur-ubur di air dan ubur- ubur adalah makanan yang disukai penyu,” kata Kathy Townsend, dosen ekologi hewan di Universitas Sunshine Coast di Hervey Bay, Brisbane.

Di Vietnam, kondisinya tidak lebih baik. Seorang nelayan asal Provinsi Thanh Hoa, Nguyen Thi Phuong, mengatakan, ranting-ranting dan akar pohon bakau di kampungnya banyak diselimuti oleh kantong plastik. Hamparan pantai sepanjang 1 kilometer dipenuhi sandal, pembungkus biskuit, kantong plastik, tabung pasta gigi, kotak jus, jaring ikan, perabotan, dan tumpukan pakaian yang dibuang. ”Sulit bagi kami yang bekerja di sini menemukan udang dan ikan,” kata Vu Quoc Viet, nelayan lain.

Langkah penanggulangan
Melihat situasi yang membahayakan itu, sejumlah pihak menyadari perlu segera melakukan pembenahan. ”Kami menggunakan terlalu banyak plastik. Mengurangi penggunaan plastik, terutama tas sekali pakai, adalah langkah pertama dan terbesar yang bisa kami ambil,” kata ahli biologi kelautan di Thailand, Thon Thamrongnawasawat.

Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha telah mendorong perbaikan pengelolaan sampah sebagai prioritas nasional. ”Kami punya tujuan mengurangi limbah plastik melalui perubahan kebijakan dan praktik, mulai dari lini produksi, konsumen, hingga di pengelolaan sampah akhir,” kata Wijarn Simachaya dari Kementerian Lingkungan.

REUTERS/JILL GRALOW–Seorang pembeli tengah memilih barang yang dijajakan oleh supermarket Woolworths di Sydney, Australia, Jumat (15/6/2018). Woolworths tidak menyediakan kantong plastik.

Indonesia masih berjuang menurunkan timbulan sampah, terutama sampah plastiknya yang terus membebani lingkungan darat dan perairan. Mulai dari produsen hingga konsumen dilibatkan dalam pengurangan sampah agar mengurangi beban tempat-tempat pembuangan akhir.

Secara nasional, penurunan timbulan sampah diperintahkan Presiden Joko Widodo melalui Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Jakstranas). Perencanaan daerah ini harus kelar pada 23 Oktober nanti atau setahun setelah Perpres No 97/2017 ditetapkan Presiden Joko Widodo.

Dalam lampiran Jakstranas, ada proyeksi timbulan sampah serta target pengurangan dan penanganan sampah hingga 2025. Pada 2025, timbulan sampah diproyeksi mencapai 70,8 juta ton, target penurunan sebesar 30 persen atau 20,9 juta ton, serta penanganan 49,9 juta ton.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Sampah yang didominasi botol minum plastik mengambang di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Jakarta, 12 Juni 2018.

Untuk mencapai target ini, pemerintah daerah juga menyusun Kebijakan dan Strategi Daerah (Jakstrada). ”Hal yang baru, daerah diminta menyusun neraca pengelolaan sampah,” kata Novrizal Thahar, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jumat (29/6/2018).

Neraca itu menghitung detail sampah yang dihasilkan warga, lalu disandingkan dengan kemampuan pengelolaan daur ulang dan kapasitas tempat pembuangan akhir sampah serta target pengurangan. Selisih timbulan sampah yang ma-
sih belum bisa tertangani ini yang mendapatkan program dari daerah.

KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN–Para pekerja Koperasi Pemulung Berdaya memilah botol plastik bekas di Desa Kademangan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, 4 April 2018. Instalasi milik koperasi itu mengolah 3-4 ton botol plastik bekas menjadi bijih plastik per hari.

Hingga kini, pembatasan dan pelarangan penggunaan kantong keresek sekali pakai ini dilakukan di Banjarmasin (Kalsel), Balikpapan (Kaltim), Padang (Sumbar), dan Badung (Bali). Pelarangan dengan dasar peraturan wali kota ini dilakukan di ritel- ritel modern dan perlahan diberlakukan di pasar tradisional.

Mulai 3 Juli nanti, Balikpapan memberlakukan penuh larangan penggunaan kantong plastik di ritel modern. Suryanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan, menyatakan, sanksi berupa teguran lisan, tertulis, penghentian sementara, dan pencabutan izin akan diberlakukan pada ritel yang melanggar.(AFP/Reuters/ICH/JOS)

Sumber: Kompas, 30 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: