Home / Berita / Dominasi Serotipe Virus Dengue Berubah-ubah

Dominasi Serotipe Virus Dengue Berubah-ubah

Demam berdarah dengue sering merebak di beberapa wilayah Indonesia. Korban jiwa pun berjatuhan. Ada yang menduga virus bermutasi, makin ganas dari waktu ke waktu. Ternyata bukan itu yang terjadi.

Tedjo Sasmono, Kepala Unit Dengue Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, menyatakan, mutasi genom bisa meningkatkan virulensi, misalnya yang terjadi di Amerika Latin. Akan tetapi, sejauh ini, dari ratusan genom virus dengue Indonesia yang diteliti, belum ditemukan adanya mutasi yang langsung berhubungan dengan keparahan penyakit.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Penelitian dengue di Laboratorium Unit Dengue Lembaga Eijkmen, Jakarta, Senin (31/10/2016). Sejauh ini, dari ratusan genom virus dengue Indonesia yang diteliti, belum ditemukan adanya mutasi yang langsung berhubungan dengan keparahan penyakit.

Semua serotipe virus dengue (DENV-1, DENV-2, DENV-3, DENV-4) bersirkulasi di Indonesia. Serotipe virus dengue yang dominan di tiap daerah berbeda-beda.

Siklus serotipe umum terjadi di Indonesia. Di Jakarta, tahun 2004 DENV-3 dominan, pada 2009 DENV-1 yang mendominasi, tahun 2018 ganti DENV-2 dominan. Tahun 1998, di Palembang, DENV-3 dominan.

Pada 2015 di Jambi, tetangga Palembang, DENV-1 yang dominan. ”Pola pergantian belum diketahui karena pemantauan virus bersifat sporadis, tidak rutin setiap tahun,” ujar Tedjo.

Keparahan penyakit dengue merupakan kombinasi dari faktor virus dan faktor manusia (respons imun). DENV-2 dan DENV-3 lebih sering menyebabkan keparahan penyakit dibandingkan dengan DENV-1 dan DENV-4. Virus yang mampu memperbanyak diri secara cepat cenderung meningkatkan keparahan penyakit. Adapun respons imun bersifat spesifik, tergantung dari tiap individu.

Beberapa faktor yang berpengaruh antara lain usia (anak-anak cenderung mengalami kebocoran plasma dibandingkan dengan dewasa), jenis kelamin (wanita cenderung lebih parah dibandingkan dengan pria), status gizi (anak kegemukan cenderung lebih parah). Selain itu, infeksi sekunder (infeksi kedua dan seterusnya) cenderung lebih parah dari infeksi primer (pertama).

Kematian akibat penyakit dengue bisa dicegah jika kita mengenal gejalanya dan segera mencari pertolongan. Demam dengue selalu ditandai dengan kenaikan suhu tubuh, tetapi tidak selalu ada bintik-bintik merah.

Ketua Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo/Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Mulya Rahma Karyanti, Sabtu (23/2/2019), menjelaskan, bintik-bintik merah menunjukkan ada penurunan trombosit atau kerentanan pembuluh darah. Namun, tidak selalu disebabkan infeksi dengue.

Bisa juga akibat idiopathic thrombocytopenic purpura, gangguan otoimun berupa rendahnya jumlah trombosit. Untuk memastikan, perlu pemeriksaan darah berupa antigen nonstruktural 1 untuk deteksi infeksi virus dengue.

”Gejala yang harus diwaspadai adalah sakit perut, muntah, diare, jarang buang air kecil, kejang demam. Jika demam reda, tapi penderita terlihat lemas, bisa jadi ada kebocoran plasma dari pembuluh darah,” kata Mulya.

Keluarnya plasma membuat darah mengental, volume darah berkurang dan sulit bersirkulasi. Kondisi ini dikenal sebagai syok hipovolemik. Akibatnya, organ tubuh kekurangan oksigen, bisa terjadi kegagalan organ tubuh dan kematian.

Penderita harus segera dibawa ke rumah sakit untuk dibantu pemberian cairan. Fase kritis umumnya berlangsung 48 jam. Jika bisa melewati fase ini, penderita akan berangsur-angsur sehat kembali.–ATIKA WALUJANI MOEDJIONO
Sumber: Kompas, 25 Februari 2019
——————
Aedes, Nyamuk yang Makin Sulit Diburu

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN–Pengasapan untuk mencegah penyebaran nyamuk vektor demam berdarah dilakukan di sebuah perumahan di Kelurahan Cinangka, Sawangan, Kota Depok, Minggu (17/2/2019). Pemerintah Kota Depok terus menggalakkan pencegahan penyebaran demam berdarah karena selama Januari lalu tercatat ada 436 penderita, meningkat 75 penderita dibanding bulan Junauari tahun lalu.–KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Peningkatan suhu dan perubahan intensitas curah hujan memengaruhi Aedes aegypti, vektor pembawa virus dengue. Nyamuk itu pun makin sulit diburu.

Nyamuk Aedes aegypti terus mengalami mutasi fisiologis dan fisik. Akibatnya, nyamuk itu kian sulit diketahui keberadaannya. Tanpa penanggulangan serentak, penularan demam berdarah makin sulit ditangkal.

Budi Haryanto dari Pusat Penelitian Perubahan Iklim UI (RCCC UI) memaparkan, iklim dan cuaca memengaruhi beberapa jenis penyakit. Peningkatan suhu dan perubahan intensitas curah hujan memengaruhi langsung Aedes aegypti—vektor pembawa virus penyebab demam berdarah.

Pemanasan global memengaruhi siklus hidup nyamuk Aedes. Siklus hidup Aedes aegypti sebelumnya 12 hari dari lahir hingga nyamuk dewasa. Dengan terjadi kenaikan suhu, nyamuk jadi dewasa dalam 7-9 hari. Akibatnya, ukuran nyamuk Aedes dewasa kini lebih kecil dibandingkan dulu.

Karena ukuran tubuh lebih kecil, bobot tubuh Aedes lebih ringan sehingga daya jelajahnya lebih jauh. Jika dulu jarak terjauh terbang lurus sekitar 120 meter, kini jadi 140 meter. Sekali terbang, nyamuk berputar-putar di radius 30 meter sekitar manusia atau hewan karena tertarik bau manusia atau hewan.

Nyamuk Aedes hanya aktif menggigit saat udara hangat, pada pagi dan sore hari. Mereka aktif makan (menggigit) pukul 07.00-10.00 dan pukul 15.00-17.00. Hanya nyamuk betina yang menggigit dan minum darah manusia. Nyamuk jantan mengonsumsi embun.

Di siang hari, manusia jarang memburu nyamuk karena sibuk beraktivitas. Di malam hari, manusia biasanya bersantai sehingga bisa memburu nyamuk penggigit. Selain itu, ukuran kecil nyamuk menyebabkan sukar dilihat dan bekas gigitan pun kecil, tak menyebabkan bentol.

Nyamuk tersebut makan 3-5 hari sekali. Selama beristirahat, nyamuk betina memproduksi telur. Setelah bertelur hingga 100 butir, ia mengisap darah lagi.

Sejumlah faktor
Kepala Laboratorium Dengue, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Tedjo Sasmono, di Jakarta mengatakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi infeksi dan penyebaran DBD antara lain nyamuk Aedes sebagai penular DBD atau vektor penyakit. Berikutnya faktor virus dengue, dan manusia sebagai penderita.

Dari faktor nyamuk, perkembangbiakannya dipengaruhi berbagai hal misalnya iklim, resistensi insektisida, dan lingkungan lainnya. Curah hujan yang tinggi namun dalam waktu singkat diselingi beberapa hari tanpa hujan seperti saat ini memudahkan nyamuk berkembang biak dibandingkan curah hujan tinggi yang berlangsung lama.

Saat curah hujan sangat tinggi, tempat perindukan nyamuk cenderung selalu terlimpas air hujan dan tidak memberikan kesempatan jentik nyamuk untuk berkembang menjadi dewasa.

Selain itu, adanya resistensi nyamuk terhadap insektisida yang biasa digunakan untuk pengasapan juga menjadi faktor penghambat usaha pengendalian nyamuk Aedes. Faktor kebersihan lingkungan yang rendah, misalnya dengan banyaknya sampah dan barang bekas yang bisa menampung air hujan, bisa juga memicu ledakan jumlah nyamuk Aedes yang selanjutnya mempermudah penyebaran DBD.

Imunitas populasi
Dari faktor virus dengue, menurut Tedjo, ada siklus wabah lima-enam tahunan. Hal ini juga berkaitan erat dengan faktor manusia, yakni imunitas populasi (herd immunity) . Secara sederhana, adanya empat serotipe virus dengue yang berbeda memungkinkan dominasi salah satu serotipe virus yang bergantian dalam satu musim penghujan ke musim berikutnya. Hal ini berimplikasi pada imunitas populasi yang tinggi setelah terekspos empat serotipe virus akan menekan penyebaran DBD.

Namun dengan kelahiran bayi-bayi yang masih belum mempunyai imunitas terhadap DBD pada tahun ke lima atau ke enam bisa jadi akan terjadi peningkatan jumlah kasus DBD pada populasi rentan tersebu. “Kondisi ini akan berulang dan menjadi siklus lima-enam tahunan,” kata dia.

Faktor virus dengue yang cepat bermutasi, menurut Tedjo, juga bisa berperan dalam tingginya jumlah kasus. Virus-virus yang bermutasi akan terseleksi secara alami untuk menjadi galur virus yang lebih mudah ditransmisikan oleh nyamuk. Di lain pihak, mutasi-mutasi virus juga akan bisa menyeleksi galur-galur virus dengan peningkatan keganasan sehingga menyebabkan meningkatnya keparahan penyakit pada pasien yang terjangkit virus tersebut.

“Jadi kombinasi ketiga faktor utama tersebut memang menjadikan DBD penyakit yang cukup sulit untuk ditanggulangi. Selain itu, dengan masih kurang efektifnya vaksin DBD yang saat ini sudah tersedia, menyebabkan sulitnya penanggulangan penyakit ini dari sisi peningkatan kekebalan manusia,” kata dia.

Penelitian Lembaga Eijkman dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tentang seroprevalensi DBD pada tahun 2014 yang terbit di jurnal PLoS Neglected Tropical Diseases menunjukka asanya kompleksitas ini. Kajian ini berhasil mendeteksi adanya antibodi terhadap DBD pada anak-anak usia 1-18 tahun di 30 kecamatan yang tersebar di 14 provinsi di Indonesia.

Hal itu menunjukkan lebih dari 80 persen anak-anak usia 10 tahun mempunyai antibodi terhadap virus dengue, yang berarti anak-anak itu pernah terjangkit DBD setidaknya satu kali. Bahkan secara keseluruhan untuk penduduk berumur 15-18 tahun, prevalensi antibodinya lebih tinggi mencapai 89 persen.

Namun prevalensi yang tinggi itu tak merata di seluruh Indonesia. Contohnya populasi anak-anak yang mempunyai antibodi terhadap DBD di Lampung dan Tasikmalaya hanya sekitar 45 persen, di Ponorogo hanya 35 persen, dan Toraja sebesar 47 persen, dibandingkan dengan populasi di Tangerang yang mencapai 88 persen dan Surabaya 85 persen.

“Rendahnya imunitas populasi pada daerah-daerah di luar Jawa ataupun di daerah rural di Jawa menyebabkan populasi di daerah tersebut menjadi rentan terhadap wabah atau KLB DBD,” kata dia.

Faktanya, pada tahun 2015, di daerah-daerah dengan seroprevalensi DBD rendah tersebut terjadi peningkatan jumlah kasus DBD, misalnya di Ponorogo dan Lampung. Jadi, faktor imunitas populasi berperan penting dalam meningkatnya kasus DBD di suatu daerah. “Memang cara paling mudah meningkatkan imunitas populasi sekaligus memutus siklus DBD adalah vaksinasi, namun disayangkan vaksin yang tersedia belum efektif dan tak tersedia luas,” ujarnya.

Dengan kompleksitas ini, tambah Tedjo, penanggulangan DBD di Indonesia harus dilakukan dari berbagai sektor, tidak bisa hanya satu atau dua sektor saja. Pengendalian vektor nyamuk mungkin menjadi solusi paling mudah saat ini yang bisa melibatkan masyarakat langsung. Program 3M plus, Satu Rumah Satu Jumantik, mobilisasi masyarakat, dan peran media massa dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap DBD jadi hal penting untuk menekan jumlah kasus DBD.

Dari sisi akademisi dan peneliti, penggunaan teknologi terbaru pengendalian vektor nyamuk misalnya dengan rekayasa genetik nyamuk, teknik serangga mandul untuk menekan populasi Aedes, atau penggunaan teknologi Aedes aegyptiber-Wolbachia untuk mencegah penularan DBD bisa dilakukan bersamaan program pengendalian vektor konvensional seperti fogging.

Dari faktor manusia, peningkatan imunitas terhadap DBD dengan vaksinasi bisa juga dilakukan. Penelitian dan pengembangan vaksin DBD harus selalu didukung oleh semua pihak baik dari pemerintah, akademisi, dan swasta. Penemuan obat-obat antivirus juga saat ini masih terus dilakukan walaupun masih belum berhasil menemukan antivirus yang manjur.

Penelitian surveilans virus juga penting dilakukan untuk memantau keberadaan galur-galur virus yang berpotensi menyebabkan wabah atau peningkatan keparahan penyakit. “Semua usaha yang dilakukan secara sinergis diharapkan bisa membantu penanggulangan DBD di Indonesia,” ujarnya.–BRIGITTA ISWORO LAKSI DAN AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 25 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: