Home / Berita / Deteksi Dini Longsor Masih Minim

Deteksi Dini Longsor Masih Minim

Penggunaan alat pendeteksi tanah rawan longsor dinilai masih sangat minim. Saat ini, anggaran pengadaan peralatan pencegahan dan deteksi dini longsor sangat terbatas dibanding dengan anggaran tanggap darurat serta rehabilitiasi dan rekonsiliasi pasca bencana. Padahal, dengan peringatan lebih dini, dampak bencana longsor dapat diminimalkan.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, bencana longsor adalah bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa di 2018. Sejak Januari hingga Februari 2018, setidaknya tercatat 19 orang tewas akibat bencana longsor.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Pekerja membersihkan material longsor dan memasang bambu-bambu untuk menahan material di area bekas longsor di Jalan Raya Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jumat (9/2).

Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adrin Tohari, Selasa (13/2) di Jakarta, menyampaikan, belum adanya alat deteksi longsor yang dipasang di lokasi lereng menjadi salah satu faktor yang menyebabkan evakuasi dini tidak optimal. Pemerintah pusat melalui BNPB saat ini masih sebatas memberikan informasi lokasi daerah rawan longsor.

“Permasalahannya adalah masyarat tidak pernah tahu di mana dan kapan longsor akan terjadi sehingga bencana tetap terjadi. Bencana longsor dapat diminimalisir jika dilakukan pemasangan alat deteksi longsor di daerah yang sudah diketahui tingkat kerawanannya,” ujar Adrin.

DEONISIA ARLINTA UNTUK KOMPAS–Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adrin Tohari.

Menurut Adrin, upaya pencegahan longsor harus memiliki porsi anggaran yang besar. Dengan anggaran yang optimal, diharapkan pengurangan risiko bencana longsor pun bisa maksimal. Saat ini, anggaran untuk pencegahan masih terbatas. Alokasi anggaran masih dititik beratkan untuk kondisi tanggap darurat dan rekontruksi.

Secara terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, anggaran untuk pengadaan dan pemasangan alat pendeteksi dini bencana longsor masih sangat terbatas. Selama periode 2015-2017, terhitung baru 150 alat yang dipasang di sejumlah daerah rawan longsor. “Kita tiap tahun anggarkan untuk pengadaan alat deteksi dini, tetapi memang terbatas,” katanya.

Sutopo menambahkan, apabila mempertimbangan peta rentan longsor di Indonesia, dibutuhkan ribuan alat deteksi longsor. Jumlah ini bisa lebih banyak dari alat pencatat gempa yang tersedia. Untuk itu, saat ini pemasangan alat masih diutamakan untuk wilayah yang tingkat risiko longsornya paling tinggi, seperti di wilayah Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Melihat keterbatasan itu, pemerintah daerah pun diminta untuk berperan dalam pengadaan alat deteksi dini di wilayahnya. Diharapkan, pengadaan alat deteksi longsor ini bisa dimaksimalkan untuk mengurangi dampak bencana yang terjadi.

Selain memasang alat, lanjut Sutopo, masyarakat pun diajak untuk berperan dalam penanggulangan bencana. Hal tersebut dilakukan dalam pembangunan sistem deteksi dini, pembuatan denah evakuasi bencana, dan penyuluhan terkait titik rawan longsor yang ada di wilayah tersebut.

Inovasi teknologi
Adrin mengatakan, beberapa peneliti LIPI sudah sering menyatakan secara informal terkait pentingnya upaya pencegahan bencana, seperti longsor. Pihaknya pun terus mendorong pemerintah untuk memanfaatkan hasil penelitian yang ada. Salah satu bentuk konkret yang dilakukan adalah melalui hasil penelitian LIPI sendiri berupa teknologi Wiseland dan The Greatest.

Suryadi, Kelompok Penelitian Optoelektronik Pusat Penelitian Fisika LIPI menyampaikan, teknologi Wiseland atau Wireless Sensor Network for Landslide Hazard and Structural Health Monitoring menggunakan sistem untuk memantau gerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel. Sistem ini dapat memberikan peringatan dini dari ancaman berbagai jenis gerakan tanah di daerah yang luas, baik pada gerakan tanah dalam maupun dangkal.

DEONISIA ARLINTA UNTUK KOMPAS–Suryadi, peneliti dari kelompok Penelitian Optoelektronik Pusat Penelitian Fisika LIPI.

Secara teknis, teknologi ini memanfaatkan sensor nirkabel berupa sensor ekstensometer, tiltmeter, modul sensor, dan rain gauge. Sensor ini memiliki peran masing-masing, baik untuk mendeteksi pergerakan tanah, peningkatan muka air tanah, dan intensitas curah hujan. Selain itu, disiapkan pula sistem gateway dan alarm yang digunakan untuk mengirimkan sinyal peringatan adanya bencana. Dari seluruh sistem ini dapat dipantau melalui laman web sehingga aksesnya lebih mudah.

Sementara, teknologi The Greatest atau Teknologi Gravitasi Ekstraksi Air Tanah untuk Kestabilan Lereng berfungsi untuk menurunkan muka air tanah dalam lereng. Tujuannya, untuk mencegah kelongsoran lereng saat musim hujan.

Adrin yang juga menjadi ketua penelitian ini menyampaikan, cara kerja teknologi ekstraksi air tanah ini menggunakan sistem siphon yaitu berdasarkan perbedaan tekanan air tanah di bagian atas dan bawah lereng. Untuk itu, sistem ini hanya dapat digunakan pada gerakan tanah dalam.

Pada gerakan tanah dangkal disebabkan oleh proses penjenuhan lapisan tanah bukan kenaikan muka air tanah, sehingga siphon tidak bisa digunakan untuk gerakan tanah dangkal.

Uji coba alat ini sudah dilakukan di lereng rentan longsor yang berlokasi di Kampung Cibitung Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung; Jembatan Cisomang ruas tol Cipularang, Kabupaten Purwakarta; dan Desa Clapar, Kabupaten Banjarnegara. “Untuk hasil uji coba di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, misalnya, menunjukkan teknologi ini dapat mengeluarkan air tanah dengan debit sebesar 120 liter per jam melalui flushing unit. Selain itu, alat ini juga dapat menurunkan muka air tanah pada lokasi sumur hingga kedalaman maksimal lima meter,” ujarnya.

DEONISIA ARLINTA UNTUK KOMPAS–Adrin Tohari, Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memamerkan contoh Flushing unit yang digunakan pada teknologi Wiseland.

Dari hasil uji coba tersebut menghasilkan kesimpulan, kinerja drainase siphon dipengaruhi ketinggian muka air tanah dan kualitas air tanah. Investigasi kedalaman muka air tanah di dalam lereng dan kedalaman bidang gelincir juga perlu dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik dan geoteknik.

Adrin berharap, kedua hasil penelitian ini dapat diterapkan secara sinergis dan masif untuk mencegah serta mendeteksi bencana longsor sejak dini. Dengan begitu, dampak bencana longsor, terutama untuk meminimalisir korban jiwa bisa optimal. (DD04)

Sumber: Kompas, 14 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: