Home / Berita / Demam Berdarah dan Gejalanya

Demam Berdarah dan Gejalanya

KIKI (5) terserang demam. Ketika dibawa ke dokter, didiagnosis kena radang benggorok dan diberi beberapa jenis obat. Dua hari kemudian panas Kiki belum kunjung turun, sehingga dibawa ke dokter lagi. Hasil pemeriksaan darah tidak menunjukkan gejala demam berdarah, jumlah trombosit normal, Kulitnya juga tidak ada bintik-bintik merah, sebagaimana lazimnya pada penderita demam berdarah.

Tiga hari kemudian, kondisi Kiki makin memburuk. Suhu badan yang tadinya tinggi, 41 derajat Celsius, turun drastis. Denyut nadinya lemah, tekanan darahnya rendah. Dokter langsung merujuk untuk dirawat di rumah sakit dengan diagnosis demam berdarah. Meski masuk dalam kondisi kritis, Kiki mampu bertahan dan lolos dari maut.

Demam yang disebabkan virus dengue, menurut dr Tjahjani Mirawati Sudiro PhD dari Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), memang masih banyak diselimuti kegelapan. Selain gejala awalnya tida khas, hal-hal yang berkaitan dengan virusnya juga banyak yang belum jelas. Sejauh ini dikenal ada empat tipe virus dengue, yaitu tipe 1, tipe 2, tipe 3 dan tipe 4. Namun, tidak ada manifestasi klinis yang khas pada setiap tipe.

”Setiap tipe bisa menimbulkan gejala dari yang paling ringan sampai yang paling berat,” ucap Mira. ”Secara umum diketahui, infeksi virus yang menimbulkan manifestasi klinis berat di Indonesia adalah dari tipe 3, sedang di Thailand tipe 2.”

MANIFESTASI infeksi virus dengue beragam. Dari yang tanpa gejala, demam ringan (mild undifferentiated febrile illness), demam dengue (dengue fever), demam berdarah dengue (dengue haemorrhagic fever) dan sindrorn renjatan dengue (dengue shock syndrome).

Kenyataannya, kasus dengan manifestasi klinis ringan, dari yang tanpa gejala sampai demam ringan, merupakan mayoritas. Kasus dengan manifestasi demam berdarah dengue hanya sekitar lima persen dari saeluruh kasus infeksi virus dengue.

Menurut Mira, penelitian yang dilakukan di Jepang menunjukkan, salah satu faktor penentu berat ringannya manifestasi klinis adalah faktor genetik virus. Peneliti mengisolasi virus dengue dari penderita yang manifestasi klinis berat dan ringan. Ternyata, virus yang menginfeksi tipenya sama, namun secara genetik ada perbedaan. ”Seperti halnya manusia, penampilan fisiknya bisa sama, tetapi secara genetik ada perbedaan,” jelasnya.

Selain genetik virus, perbedaan manifestasi klinis juga bisa disebabkan oleh tuan rumah virus alias penderita, baik dari segi genetik, kecukupan gizi serta infeksi primer atau sekunder.

Manusia yang memiliki HLAA (Human Lymphocytic Antigen A) umumnya akan mengalami
manifestasi klinis yang berat. Demikian juga yang berstatus gizi baik. Hal ini karena manifestasi klinis infeksi virus dengue berkaitan dengan reaksi imunologis, sehingga makin kuat daya tahan tubuh, makin kuat reaksi imunologisnya dan makin berat renjatan (shock) yang terjadi. Karenanya, mereka yang bertubuh besar dan kuat justru perlu lebih waspada terhadap virus dengue, karena akibatnya lebih fatal.

Teori yang dikemukakan Dr Scott Halstead menyatakan, infeksi sekunder atau infeksi kedua oleh virus dengue yang berbeda dengan virus yang menginfeksi pertama akan berakibat serius, karena immune enhancement mechanism. Ketika seseorang terinfeksi virus, tubuhnya akan membentuk antibodi. Jika terinfeksi virus yang berbeda, antibodi yang lebih dulu terbentuk justru membantu replikasi virus. Makin banyak sel terinfeksi membuat pelepasan zat yang secara biologis aktif makin banyak, permeabilitas pembuluh darah yang bocor makin banyak, renjatan makin berat.

MENGENAI demam berdarah dengue, menurut Organisasi Kesehaten Dunia (WHO), secara klinis diagnosis ditegakkan jika ditemukan dua kriteria klinik ditambah trombositopenia (penurunan kadar trombosit), yaitu kurang dari 100.000 per ml serta adanya hemokonsentrasi atau peningkatan hematokrit 20 persen.

Kriteria klinik itu adalah demam mendadak, tinggi dan berlangsung dua sampai tujuh hari, timbul fenomena perdarahan berupa bintik merah di bawah kulit. Selain itu ada pembesaran hati dan terjadi renjatan.

Sejauh ini obat antiviral untuk infeksi virus dengue belum ada, demikian juga dengan vaksinnya. Pengobatan bersifat simptomatik dan suportif. Artinya, jika kekurangan cairan diberi minum atau infus. Jika terjadi perdarahan berat di bawah kulit, mimisan, muntah atau buang air darah, diberi tranfusi trombosit. Virus dengue termasuk self limiting virus yang akan mati sendiri setelah tujuh hari. Jika penderita mampu melewati masa krisis, ia akan sembuh total. (atk)

Sumber: Kompas, 29 Februari 2000

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: