Home / Berita / Cinta Laura dan Pelajaran Verifikasi

Cinta Laura dan Pelajaran Verifikasi

Semua bermula dari sebuah keisengan. Pembuat konten ulasan di Youtube, Michael Prajanto, mendapati sebuah gambar yang diunggah aktris Cinta Laura Kiehl di akun Instagramnya, @claurakiehl pada 14 Januari lalu. Foto tersebut menampilkan aktris itu tengah berpose membelakangi latar gedung perkantoran hanya ditemani teks ”Happy Saturday”.

Keterangan lokasi yang diimbuhkan di unggahan tersebut adalah Santa Monica, California. Cinta memang sering bolak-balik Indonesia-Amerika Serikat untuk mengejar karier di industri perfilman Hollywood demi cita-cita menjadi bintang internasional.

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Geolokasi merupakan salah satu metode verifikasi sebuah gambar dengan mencocokkan ke posisi geografis, salah satunya dipandu oleh layanan peta yang tersedia secara gratis. Dengan metode ini, pengguna bisa memanfaatkan petunjuk visual, seperti bentang alam atau informasi lain dari gambar.

Namun, ada sesuatu yang mengganggu Michael saat melihat foto itu. Dia mengenali bentuk gedung yang ada di latar belakang foto tersebut. Misalnya, gedung milik Hotel Manhattan yang ada di sebelah kiri atas maupun bangunan semipermanen yang digunakan untuk proyek pembangunan kereta ringan (LRT) Jabodetabek di Jalan Rasuna Said Jakarta.

”Begitu melihat gedung warna gelap dari Hotel Manhattan, saya langsung mengenalinya,” ujar Michael yang dihubungi Jumat (19/1).

 

Memanfaatkan fitur streetview di Google Maps, Michael mendapatkan gambaran pandangan mata secara 360 derajat dari lokasi sekitar dua titik itu untuk memperkirakan titik temunya dan didapatkan pada Hotel JS Luwansa. Pencarian singkat di mesin pencari Google atas nama JS Luwansa menghasilkan gambar interior, termasuk lantai atap yang memiliki teras yang menghadap Jalan Rasuna Said, menyerupai foto yang diunggah Cinta.

Michael pun mengunggah ”hasil penyelidikan” di akun Facebook-nya tanpa ada kesimpulan apa pun. Karena memang itu saja yang terjadi, iseng semata. Dari teman-temannya, gambar itu ditanggapi dengan canda.

Akan tetapi, tidak disangka, gambar-gambar penyelidikan itu beredar luas, hingga akhirnya terlepas dari konteks awal. Yang terjadi seolah Cinta telah membuat kebohongan dan ada seorang warganet yang berhasil membongkarnya. Belakangan akun Instagram Cinta menghapus keterangan lokasi.

Michael pun sampai memutuskan untuk memberikan klarifikasi bahwa apa yang dia lakukan tidak memiliki niat yang merugikan Cinta. Warga Jakarta Selatan itu mengaku sering hilir mudik di kawasan tersebut sehingga dengan cepat mengenali gedung di latar belakang foto Instagram itu.

Gambar yang diunggah Cinta pun seharusnya bisa dimaklumi mengingat kesibukan yang mengharuskan dia mengunggah setelah tiba di Amerika Serikat. Pengimbuhan lokasi di Instagram hanya memuat lokasi ponsel saat itu juga, terlebih bila foto tersebut diambil oleh perangkat lain, seperti kamera digital sehingga informasi lokasi tidak terbaca.

Wawancara dengan Kompas yang berlangsung awal Desember 2017 juga melengkapi hal itu. Saat itu Cinta berada di Indonesia untuk libur akhir tahun sampai pertengahan Januari.

”Saya mengikuti shooting untuk film bersama Raditya Dika berjudul Target yang akan diputar bulan puasa tahun ini,” kata Cinta yang ditemui saat itu.

Kejadian ini sebetulnya tidak perlu disikapi secara berlebihan, tidak ada niat buruk dari Cinta. Setidaknya itu pula yang dirasakan Michael yang juga menerima dampak yang tidak mengenakkan berupa ”serangan balik” dari penggemar sang aktris yang tidak terima melalui komentar di media sosial.

Petunjuk visual
Pelajaran berharga yang bisa ditarik dari peristiwa tersebut adalah verifikasi visual. Apa yang dilakukan Michael dengan gambar Instagram Cinta Laura adalah menyatukan informasi berdasarkan petunjuk visual. Ingatannya mengenai gedung yang dikenali ditambah perbandingan dengan gambar streetview adalah langkah yang lazim diambil para jurnalis untuk memverifikasi sebuah gambar.

Verifikasi gambar menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak di era banjir informasi, saat sebuah gambar atau video bisa menyeruak dan mengklaim sebagai rekaman satu peristiwa. Kewajiban dari jurnalis maupun pengguna internet pada umumnya adalah memastikan kebenarannya, salah satunya dengan memverifikasi lokasi pembuatan.

Merajut verifikasi dari sebuah gambar bisa mengandalkan detail yang tersebar di sebuah gambar, entah dari papan usaha, bahasa yang terlihat, baju yang dikenakan, bentang alam, bangunan yang unik, pelat nomor kendaraan, hingga logo maupun bendera. Dari petunjuk-petunjuk kecil itu, setidaknya bisa diketahui apakah gambar atau video ini memang terjadi di daerah yang dimaksud.

Salah satu contoh adalah video yang kerap dibagikan melalui grup layanan perpesanan, Whatsapp, soal pelaku kejahatan yang membacok orang yang keluar dari gerai anjungan tunai mandiri. Video tersebut menggambarkan pria paruh baya yang berlumuran darah membelakangi beberapa mesin ATM.

Pesan yang menyertai video berantai itu adalah imbauan untuk berhati-hati saat mengunjungi gerai ATM di satu daerah di Serpong. Video tersebut memang menimbulkan kekhawatiran dalam grup, tetapi dengan pengamatan lebih saksama, akan terlihat bahwa video itu berasal dari luar negeri, seperti terlihat dari logo-logo bank di mesin ATM yang tidak ada di Indonesia.

Jurnalis Aqwam Fiazmi Hanifam menggunakan teknik verifikasi visual untuk laporannya di media Tirto.id dengan mencari tahu hotel yang digunakan pimpinan sebuah media massa yang sedang bermasalah hukum.

Beberapa layanan yang disediakan Google bisa dimanfaatkan siapa saja untuk memverifikasi sebuah gambar menggunakan peta, seperti Google Maps dan Google Earth. Begitu pula layanan Google Images yang bisa dimanfaatkan untuk mencari kecocokan gambar dengan arsip yang disimpan di server Google, tujuannya memastikan gambar itu baru atau pernah diunggah beberapa waktu sebelumnya.

Google sendiri mengembangkan inisiatif Google News Lab berupa seperangkat modul pembelajaran bagi jurnalis untuk memanfaatkan layanan mereka dalam memverifikasi informasi di internet. Manfaatnya memang dirasakan kedua belah pihak, lembaga pers bisa memverifikasi lebih baik dan Google bisa terbantu dalam memilah informasi yang mengalir melalui layanannya.

Kabar baiknya, modul pembelajaran tersebut bisa diakses siapa pun. Dengan demikian, semua pengguna internet bisa terlibat dalam verifikasi informasi untuk mengurangi peredaran konten hoaks. Asalkan punya pengamatan yang jeli, perangkat untuk memverifikasi sebuah gambar tersedia bebas di internet.–DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas, 23 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: