Home / Berita / Astronomi / China Mulai Bangun Stasiun Luar Angkasa Baru

China Mulai Bangun Stasiun Luar Angkasa Baru

China meluncurkan elemen utama dari stasiun luar angkasa China yang baru bernama Tianhe atau Harmoni Surgawi. Modul utama stasiun luar angkasa China yang baru itu diluncurkan menggunakan roket Long March-5B Y2.

XINHUA/LIANG XU—-Model utuh dari modul utama stasiun luar angkasa China yang dinamai Tianhe ditampilkan dalam Pameran Dirgantara Internasional China Ke-12 di Zhuhai, Guangdong, 5 November 2018. Modul utama Tianhe itu diluncurkan ke orbit rendah Bumi, Jumat (29/4/2021), dari Bandar Antariksa Wenchang di Provinsi Hainan.

Pandemi Covid-19 tak menghalangi pengembangan teknologi luar angkasa China. Jumat (29/4/2021) pagi, China meluncurkan elemen utama dari stasiun luar angkasa China yang baru bernama Tianhe atau Harmoni Surgawi. Pembangunan stasiun luar angkasa yang diletakkan di orbit rendah Bumi itu diharapkan tuntas pada akhir 2022.

Peluncuran modul utama stasiun luar angkasa yang dinamai Tianhe itu dilakukan dari Bandar Antariksa Wenchang, Pulau Hainan, barat daya China, pada Jumat pukul 11.23 waktu setempat atau pukul 10.23 WIB. Seperti diberitakan Xinhua, modul utama stasiun luar angkasa China yang baru itu diluncurkan menggunakan roket Long March-5B Y2.

Setelah 8 menit 14 detik kemudian, Tianhe berhasil lepas dari roket pendorongnya dan memasuki orbit rendah Bumi yang direncanakan. Sekitar satu jam berikutnya, panel surya Tianhe mulai membuka dan mampu berfungsi dengan baik.

Pesawat kargo China, Tianzhou-2, akan mengunjungi modul tersebut pada Mei 2021 dan tiga taikonot, sebutan untuk antariksawan China, akan dikirim pada Juni 2021 menggunakan Shenzou-12.

Presiden China Xi Jinping yang memberi ucapan selamat atas keberhasilan tersebut mengatakan, peluncuran Tianhe menandai tahap implementasi penuh pembangunan stasiun luar angkasa China.

Modul Tianhe ini akan berfungsi sebagai pusat kontrol dan manajemen dari stasiun luar angkasa Tiangong yang berarti Istana Kahyangan. Tianhe yang merupakan salah satu modul dari Tiangong itu memiliki panjang 16,6 meter, diameter maksimum 4,2 meter, serta bobot 2,5 ton. Ini adalah wahana antariksa terbesar yang pernah dikembangkan China.

XINHUA/JU ZHENHUA—Roket peluncur Long March-5B Y2 yang membawa modul utama Tianhe dari bangunan stasiun luar angkasa China diluncurkan dari Bandar Antariksa Wenchang di Provinsi Hainan, barat daya China, pada Jumat (29/4/2021) pagi. Pengiriman modul Tianhe ini menandai dimulainya pembangunan stasiun luar angkasa China yang diharapkan tuntas pada akhir tahun 2022.

Wakil kepala perancang stasiun luar angkasa dari Akademi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Antariksa China (CAST), Bai Linhou, mengatakan, Tianhe mampu menampung tiga pesawat luar angkasa yang ingin sandar secara bersamaan untuk kunjungan singkat atau dua pesawat antariksa untuk kunjungan dalam jangka waktu lama.

Setelah modul utama itu diluncurkan, berikutnya akan diluncurkan dua modul lain yang lebih kecil. Saat pembangunan itu selesai, ketiga modul stasiun luar angkasa China itu akan membentuk formasi huruf T. Tianhe akan menjadi modul inti, sedangkan dua modul kecil yang diletakkan di ujung kiri dan kanan dari Tianhe dan masing-masing memiliki bobot 20 ton akan digunakan sebagai laboratorium.

Untuk mewujudkan stasiun luar angkasa tersebut, pesawat kargo China, Tianzhou-2, akan mengunjungi modul tersebut pada Mei 2021 dan tiga taikonot, sebutan untuk antariksawan China, akan dikirim pada Juni 2021 menggunakan Shenzou-12 untuk memastikan pembangunan stasiun luar angkasa berjalan baik. Ketiga antariksawan itu akan tinggal di orbit selama tiga bulan.

”Kami akan mengangkut material pendukung, suku cadang, dan peralatan lebih dulu, baru kemudian awak stasiun luar angkasanya,” kata Direktur Badan Penerbangan Antariksa Berawak China (CMSA).

Proses pembangunan itu akan dilanjutkan dengan pengiriman pesawat kargo Tianzhou-3 dan pesawat berawak Shenzou-13 yang akan diluncurkan pada akhir tahun 2021. Ketiga antariksawan yang dibawa Shenzou-13 itu akan tinggal di orbit selama enam bulan.

Lamanya tinggal di orbit itu akan menjadi prestasi tersendiri bagi pengiriman wahana berawak China ke luar angkasa. Saat ini, rekor antariksawan China tinggal di luar angkasa yang terlama adalah 33 hari. Selama ini, air dan oksigen mereka dikirim dengan pesawat kargo dari Bumi.

CMSA—Modul utama stasiun luar angksa China yang dinamai Tianhe sebelum peluncuran dilakukan. Selanjutnya, modul itu disatukan dengan roket peluncur Long March-5B Y2 yang akan membawanya ke orbit rendah Bumi. Roket peluncur dan modul itu diluncurkan dari Bandar Antariksa Wenchang di Provinsi Hainan, barat daya China, pada Jumat (29/4/2021) pagi.

Namun, lanjut Bai, untuk tinggal di orbit selama enam bulan, kebutuhan air dan oksigen itu harus dihasilkan oleh sistem pendukung yang ada. Pengiriman air dan oksigen dari Bumi tidak lagi bisa dilakukan karena jumlahnya akan menjadi terlalu besar.

Saat stasiun luar angksa China itu nanti sudah beroperasi penuh dan ada pesawat berawak dan pesawat kargo sandar, berat keseluruhan dari wahana tersebut akan mencapai 100 ton. Stasiun ini akan mengorbit di orbit rendah Bumi pada ketinggian 340-450 kilometer dari Bumi.

Stasiun luar angkasa ini dirancang memiliki umur hidup 10 tahun. Namun, dengan perawatan dan perbaikan yang tepat, masa hidupnya bisa diperpanjang hingga 15 tahun.

”Kami akan belajar merakit, mengoperasikan, dan memelihara stasiun luar angkasa di orbit. Kami bertekad menjadikan Tiangong laboratorium ruang angkasa yang mendukung antariksawan untuk tinggal lama, melakukan percobaan ilmiah, hingga aplikasi teknologi skala besar,” tambah Bai.

Satu dekade
Meski megaproyek ini diluncurkan di tengah keprihatinan global atas pandemi Covid-19 yang berdampak pada semua aspek kehidupan manusia, termasuk riset dan program antariksa, ide untuk memiliki stasiun luar angkasa itu sudah digagas China sejak satu dekade lalu.

Dikutip dari Space, landasan awal pembangunan stasiun luar angkasa itu dimulai dari peluncuran purwarupa laboratorium ruang angkasa yang dinamai Tiangong-1 pada September 2011. Wahana itu jadi tonggak bagi China untuk mengembangkan kemampuan dan penguasaan teknologi luar, termasuk dalam merakit dan memelihara stasiun luar angkasa di orbit Bumi. Namun, sejumlah kalangan menyebut, Tiangong-1 bukanlah purwarupa laboratorium luar angkasa, melainkan sudah menjadi stasiun luar angkasa.

Dua bulan sejak itu, tepatnya 1 November 2011, pesawat luar angkasa tidak berawak Shenzou-8 merapat secara otonom di Tiangong-1. Selanjutnya, Shenzou-9 yang membawa tiga taikonot merapat di laboratorium luar angkasa itu pada Juni 2012 dan tinggal di sana selama dua minggu.

Setahun kemudian, tiga taikonot lain yang dibawa oleh Shenzou-10 kembali merapat di Tiangong-1. Mereka pun punya waktu dua minggu untuk tinggal di laboratorium luar angkasa itu. Setelah itu, tidak ada lagi misi berawak yang dikirim ke Tiangong-1.

Namun, pada September 2016, China meluncurkan Tiangong-2. Wahana ini juga menerima kunjungan tiga taikonot melalui misi Shenzou-11 satu bulan berikutnya. Ketiga antariksawan itu tinggal di Tiangong-2 selama satu bulan.

Selanjutnya, pada April 2017, pesawat kargo Tianzhou-1 yang tidak berawak juga berlabuh di Tiangong-2 untuk mengisi bahan bakar laboratorium tersebut. Lima bulan berikutnya, proses pengisian bahan bakar itu dilakukan Tianzhou-1 hingga dua kali. Kemampuan pengisian bahan bakar wahana ini sangat penting dalam pengoperasian stasiun luar angkasa.

Meski demikian, baik Tiangong-1 maupun Tiangong-2 tidak ada yang bertahan di orbit. Tiangong-1 akhirnya jatuh kembali ke Bumi secara tidak terkendali pada April 2018 hingga akhirnya habis terbakar di selatan Samudra Pasifik. Sementara untuk Tiangong-2, China tetap berusaha mengendalikannya hingga akhirnya wahana itu kembali memasuki atmosfer Bumi pada Juli 2019 dan habis terbakar juga di selatan Samudra Pasifik.

Stasiun penelitian
Saat proses konstruksi stasiun luar angkasa tersebut sudah jadi, dimensi Tiangong hanya sekitar 20 persen dari ukuran Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Tiangong dirancang mampu menampung tiga taikonot sekaligus, sedangkan ISS bisa dihuni oleh tujuh astronott, sebutan antariksawan Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA), secara bersamaan.

Meski setelah jadi nantinya Tiangong tidak akan sebesar ISS, China telah menyiapkan berbagai aktivitas penelitian. Seperti dikutip dari

Scientific American, 21 April 2021, stasiun luar angkasa China itu telah dilengkapi 14 rak untuk percobaan di dalam wahana dan 50 titik untuk menempatkan instrumen di luar wahana guna mengumpulkan data lingkungan luar angkasa.

Pengelola Tiangong juga sudah memiliki sekitar 100 percobaan untuk dilakukan di stasiun luar angkasa tersebut. Beberapa percobaan, terutama yang terkait pengumpulan data, sudah akan dilakukan mulai tahun depan.

Aneka percobaan itu tidak hanya dilakukan oleh peneliti dan perekayasa China. Sembilan penelitian internasional telah dipilih untuk bisa dilakukan di Tianhe sebagai bentuk kerja sama antara CMSA dan Kantor Urusan Luar Angkasa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

CMS—Modul utama stasiun luar angksa China yang dinamai Tianhe digabungkan dengan roket peluncur Long March-5B Y2. Roket dan muatannya itu dibawa ke landas luncur pada 23 April 2021 dan diluncurkan dari Bandar Antariksa Wenchang di Provinsi Hainan, Jumat (29/4/2021).

Pelibatan ilmuwan internasional itu, seperti dikutip dari Xinhua, diharapkan bisa menjadi kontribusi Tianhe bagi pembangunan dan pemanfaatan sumber daya antariksa secara damai.

Namun, tak satu pun dari sembilan rencana penelitian internasional di Tiangong itu berasal dari peneliti atau perekayasa AS. Hal itu tidak mengejutkan mengingat undang-undang AS melarang NASA serta Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih untuk bermitra dengan China dalam pengembangan riset dan teknologi luar angkasa.

Kerja sama AS dan China dalam pengembangan riset dan teknologi luar angkasa hanya bisa dilakukan jika sudah ada persetujuan dari Kongres AS sebelumnya. Larangan yang diberlakukan sejak 2011 ini dikenal sebagai Wolf Amendment.

Selain itu, China bukan negara mitra dalam konsorsium pengembangan ISS. Saat ini, ISS dibangun dan dikelola bersama oleh lima badan antariksa dunia, yaitu NASA, Badan Antariksa Rusia (Roscosmos), Badan Antariksa Eropa (ESA), Badan Eksplorasi dan Penerbangan Antariksa Jepang (JAXA), serta Badan Antariksa Kanada (CSA).

Bagaimanapun, ambisi China menguasai teknologi luar angkasa secara mandiri patut diacungi jempol. Investasi untuk pengembangan riset dan teknologi luar angkasa tidaklah mudah dan murah. Dibutuhkan persiapan panjang untuk bisa menguasai berbagai teknologi yang ada. Semua itu hanya bisa terwujud jika ada visi bangsa yang jelas terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi luar angkasa.

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumbr: Kompas, 30 April 2021

Share
%d blogger menyukai ini: