Home / Berita / Cari Metode Pemetaan Gambut, Gelar Kompetisi

Cari Metode Pemetaan Gambut, Gelar Kompetisi

Pemerintah melalui Badan Informasi Geospasial (BIG) meluncurkan Indonesian Peat Prize. Itu adalah kompetisi yang dapat diikuti berbagai kalangan guna memberikan metode pemetaan lahan gambut yang lebih cepat dan akurat dalam mengukur luas serta ketebalan rawa gambut di Indonesia.

Perhelatan kompetisi didukung David dan Lucile Packard Foundation. Hadiah yang disediakan 1 juta dollar AS dan World Resources Indonesia (WRI) dipercaya sebagai pengelola serta pelaksana kompetisi internasional ini.

Kepala BIG Priyadi Kardono menuturkan, kompetisi ini akan menggabungkan keterampilan, kerja sama, dan kreativitas dari seluruh Indonesia, dan masyarakat dunia dalam menjawab salah satu tantangan besar pada zaman ini.

“Kami mencari metode yang bisa berlaku nasional, tidak hanya pada daerah tertentu,” kata Priyadi, Selasa (2/2/2016), dalam sosialisasi Indonesian Peat Prize.

Setidaknya terdapat tiga pulau besar yang memiliki rawa gambut, yaitu Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Dalam sosialisasi tersebut, turut hadir Direktur WRI Tjokorda Nirarta Samadhi, Ketua Himpunan Gambut Indonesia yang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor Supiandi Sabiham, serta pakar gambut Universitas Gadjah Mada, Azwar Maas.

Pemetaan gambut menjadi langkah penting untuk konservasi rawa gambut mengingat kebakaran hutan dan lahan tahun lalu juga terjadi di rawa gambut. Ketika sudah terbakar, api di rawa gambut sangat sulit dipadamkan dan biasanya padam saat sudah memasuki musim hujan.

Kebakaran selama Juni-Oktober menerjang lebih dari 2 juta hektar lahan dan menurut perhitungan Bank Dunia mengakibatkan kerugian ekonomi sekitar Rp 221 triliun. Selain itu, kajian Guido van der Werf yang dilansir Eco-business.com, emisi gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan lahan tahun lalu setara 1 miliar ton ekuivalen gas karbon dioksida atau lebih dari emisi satu tahun Jerman (Kompas, 27/1).

788eb97f26bb4318bfc4891b1a05e4afSupiandi Sabiham juga menjadi salah satu ketua bersama tim penilai. “Akurat, cepat, dan biaya terjangkau. Itu yang menjadi dasar utama bagi para peserta seleksi,” ujarnya.

Ia menambahkan, peserta yang terlibat diminta untuk menghasilkan metode yang bisa untuk membuat peta dengan skala 1 banding 50.000. Selama ini, peta rawa gambut yang ada dan dijadikan acuan menggunakan skala 1 banding 250.000 dan dinilai sangat tidak memadai untuk pengambilan kebijakan.

J GALUH BIMANTARA

Sumber: Kompas Siang | 2 Februari 2016
———–
Pemetaan Gambut;Kompetisi untuk Standarkan Metode

Pemerintah melalui Badan Informasi Geospasial mengadakan kompetisi Indonesian Peat Prize untuk memilih satu metode pemetaan rawa gambut terbaik. Metode dari pemenang akan menjadi standar nasional di seluruh Indonesia sehingga tak ada lagi peta berbeda, misalnya dari sisi luas rawa gambut, untuk objek yang sama.

Indonesian Peat Prize diluncurkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya di Jakarta, Selasa (2/2). “Kami punya peta yang antara lain dibuat BIG (Badan Informasi Geospasial), Kementerian Pertanian, dan Wetlands International,” kata Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead.

Semua lembaga pembuat peta selama ini menyatakan peta buatan mereka benar, tetapi berbeda-beda karena tak menggunakan metode standar. Padahal, peta penting untuk tugas BRG menentukan zona lindung dan budidaya pada rawa gambut.

Kepala BIG Priyadi Kardono menuturkan, untuk bisa membuat zonasi akurat, butuh peta rinci setidaknya 1: 50.000 (1 sentimeter di peta mewakili 500 meter di lapangan). Peta yang tersedia baru 1:250.000.

Untuk itu, berbagai kalangan bisa berkompetisi menghasilkan metode standar nasional pemetaan berskala 1:50.000 melalui Indonesian Peat Prize. Peserta bisa mahasiswa, perguruan tinggi, LSM, atau swasta. Peserta juga bisa tim dan lintas lembaga.

e761642589f44da49f2928e59d546b49Hadiah hanya untuk satu pemenang sebesar 1 juta dollar AS (Rp 13,69 miliar dengan kurs Rp 13.698 per dollar AS), disponsori David and Lucile Packard Foundation. World Resources Indonesia menjadi pelaksana kompetisi. Pendaftaran peserta ditutup Mei 2016. “Kami mencari metode akurat, cepat, tetapi tidak mahal,” ujar Priyadi.

Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik BIG Nurwadjedi mengatakan, pengumuman pemenang Oktober 2017. Metode harus diuji coba pada musim kemarau dan hujan.

Tidak menunggu
Nazir menuturkan, kerja BRG tidak akan menunggu kompetisi usai. Kini, lembaga itu punya empat area gambut prioritas: Pulang Pisau (Kalimantan Tengah), Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan), serta Kepulauan Meranti (Riau).

Saat ini, peta berskala 1:50.000 baru tersedia untuk Kepulauan Meranti. Nazir menargetkan peta berskala serupa untuk tiga lokasi lain selesai tahun ini. (JOG)
———–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Februari 2016, di halaman 14 dengan judul “Kompetisi untuk Standarkan Metode”
————-
Restorasi; Siapkan Bisnis Baru di Gambut

Budidaya tanaman lahan kering di rawa gambut yang dikeringkan terbukti gagal dikelola yang menimbulkan kebakaran hutan dan lahan berulang. Pemilik bisnis diminta mulai menyusun perencanaan bisnis baru untuk secara periodik mengganti jenis tanaman lahan kering itu dengan tanaman lokal yang bisa tumbuh di lahan basah.

Restorasi gambut yang mulai dijalankan pemerintah pun diharapkan menyentuh hal ini agar gambut kembali basah dan tetap membawa hasil ekonomi bagi perusahaan dan masyarakat. Hal itu juga menjamin usaha berkelanjutan karena meminimalkan risiko terbakar dan tekanan sosial/pasar akibat isu asap.

“Kalau mau optimalkan hasil dan keuntungan, risiko jadi tinggi. Pilihan harus diubah dari mengoptimalkan keuntungan atau hasil, menjadi meminimalkan risiko,” kata Satyawan Pudyatmoko, Ketua Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan, Selasa (2/2), di sela-sela diskusi Pendanaan Hijau pada Festival Iklim di Jakarta Convention Center.

Satyawan yang juga Dekan Fakultas Kehutanan UGM mengatakan, keuntungan ekonomi dari budidaya tanaman lahan kering tak sepadan dengan kerugian dari risiko kebakaran. Bank Dunia mencatat, kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2015 di Indonesia mencapai Rp 210 triliun, belum termasuk dampak kesehatan dan lingkungan.

Ia mengatakan, tanaman lokal hingga kini masih belum ada yang memiliki produktivitas seperti tanaman akasia, tetapi dari risiko lingkungan dan kebakarannya lebih kecil.

Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Palembang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, budidaya tanaman lokal bisa menggunakan ramin, jelutung, punak, dan meranti rawa yang bisa digabung dengan penanaman nanas dan budidaya perikanan. Pertumbuhan meranti rawa (Shorea belangeran) memiliki persentase hidup 96 persen, riap tinggi 150 cm per tahun, dan riap diameter 3,5 cm per tahun. Pertumbuhan diameter ini hampir mirip dengan tanaman monokultur akasia.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin mengatakan, tiga hari ke depan pihaknya akan meluncurkan desa-desa peduli api untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. “Mereka, termasuk kepala desa, dilatih, dilengkapi peralatan, dan diberi insentif,” katanya.

Pencegahan dini kebakaran efektif dilakukan pada kebakaran di gambut. Alex menyebut, ada 102 desa dilanda kebakaran hutan/lahan pada 2015 di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Ilir. Namun, baru 19 desa peduli api. (ICH)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Februari 2016, di halaman 14 dengan judul “Siapkan Bisnis Baru di Gambut”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: