Home / Berita / “Bioslurry”, Si Pupuk “Ajaib”

“Bioslurry”, Si Pupuk “Ajaib”

Lusi dan Lisa mengunyah rumput sambil sesekali melenguh di kandang, di Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, suatu siang, awal Agustus lalu. Sementara majikan mereka, Purwanto, menyiram lantai dengan air dan menyapu kotoran sapi ke lubang di kandang.

“Airnya dua ember tiap membersihkan kandang pagi dan sore,” kata Purwanto. Kotoran sapi itu dihanyutkan ke biodigester, kubah dari bata dan semen yang dikubur di sebelah kandang. Dalam setengah jam, biodigester penuh.

Fungsi utama biodigester ialah menghasilkan gas lalu dialirkan ke dapur rumah Purwanto lewat pipa ke dua kompor. Saat dinyalakan, api berwarna biru dan stabil. Berkat gas itu, satu tahun ini Purwanto sekeluarga tak lagi membeli gas.

Manfaat biodigester milik Purwanto bisa dinikmati warga Desa Keningar, yakni bioslurry. Berkat air yang disiramkan ke kotoran sapi, kotoran encer tak mengendap dalam biodigester, tapi mengalir ke kolam penampungan di permukaan tanah.

Di sebelah kolam itu, Gambir, pendamping lapangan dari Yayasan Sedya Samahita Memetri Indonesia, berdiri. Ia menggayung bioslurry alias kotoran sapi bercampur urine dan air itu ke sejumlah jeriken. “Nanti dicampur molase tebu dan difermentasikan seminggu, baru menjadi pupuk organik,” ujarnya.

Menghemat biaya
Proyek bioslurry baru dilakukan beberapa bulan terakhir. Di tiga desa di Kecamatan Dukun, yakni Keningar, Sumber, dan Ngargomulyo, ada 10 biodigester. Pemiliknya rata-rata memiliki 2-3 ekor sapi. Modal membuat satu biodigester Rp 20 juta. Meski hasil biogas baru dinikmati pemilik biodigester, dengan bioslurry, warga yang jadi petani menghemat biaya pupuk.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Gambir, pendamping Yayasan Sesami untuk Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah, mengambil bioslurry dari kolam transisi di biodigester. Campuran feses dan urine sapi itu akan dicampur molase tebu dan difermentasikan sebelum bisa menjadi pupuk organik.

Contohnya Asih yang memanen cabai rawit. Dulu ia butuh dana Rp 2 juta hingga Rp 4 juta untuk membeli pupuk kimia. “Satu tahun, masa tanam cabai bisa 10-15 kali. Mahal sekali biayanya,” tuturnya.

Kini berkat bioslurry, petani tak perlu mengeluarkan banyak modal. Satu botol bioslurry hasil fermentasi dilarutkan dengan 5 botol air dan dimasukkan ke tabung semprot. Setiap hari, Asih bersama rekan sesama petani cabai menyemprot tanaman dengan pupuk cair itu. Tanaman yang mengambil nutrisi dari bioslurry tak hanya cabai, tetapi juga kayu sengon dan tomat.

Selain menyuburkan tanaman, pupuk “ajaib” itu membuat tanaman cabai lebih produktif. Asih yang biasanya memanen cabai maksimal 15 kali per tahun kini bisa 25 kali. “Produksinya stabil, tak turun,” ujarnya.

Purwanti, petani cabai dan sengon, menuturkan, pupuk cair itu amat berguna merehabilitasi lahan bekas tambang pasir. Ia menanam sengon di lahan itu untuk menjaga ekosistem dan kayunya bisa untuk produksi. Sengon yang disiram bioslurry tumbuh pesat. Dalam tiga bulan sudah setinggi 1-1,5 meter.

Direktur Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Medrilzam, saat berkunjung ke Keningar, terkesan saat melihat pemanfaatan bioslurry. Namun, perlu riset bioslurry oleh dinas pertanian dan bersama perguruan tinggi. “Harus ada rumus baku jumlah air, kotoran, urine, molase, dan zat lain untuk membuat pupuk cair agar hasilnya stabil,” ujarnya.

Selain itu, perlu dipantau perkembangan jenis tanaman, masa tanam, dan mutu produk dihasilkan. Jika ditemukan hasil baku, terjamin mutu produk. Ke depan, bioslurry bisa dikembangkan di daerah lain.(LARASATI ARIADNE ANWAR)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 September 2017, di halaman 14 dengan judul “”Bioslurry”, Si Pupuk “Ajaib””.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: