Home / Berita / Bintang Jauh Bima Sakti dari Galaksi Lain

Bintang Jauh Bima Sakti dari Galaksi Lain

Bintang-bintang di tepi Bima Sakti kemungkinan besar berasal dari galaksi lain. Mereka tak berada di piringan galaksi, seperti Matahari, tetapi berada jauh di tepi halo Bima Sakti. Simulasi komputer dilakukan Marion Dierickx dan Avi Loeb dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian, Amerika Serikat, Rabu (11/1), dalam rentang 8 miliar umur semesta menunjukkan 5 dari 11 bintang berjarak 300.000 tahun cahaya dari pusat Bima Sakti dari galaksi katai Sagittarius.

Galaksi Sagittarius berjarak 3,4 juta tahun cahaya dari Bumi. Setiap Sagittarius mendekati Bima Sakti, sepertiga bintangnya dan 90 persen materi gelapnya tertarik gravitasi Bima Sakti. Enam bintang lain dari galaksi lain. Di sekitar Bima Sakti, ada belasan galaksi mini. ”Tarikan gravitasi Bima Sakti menghasilkan tiga aliran kelompok bintang berbeda pada bintang berjarak 1 juta tahun cahaya dari inti Bima Sakti. Mereka meregang sampai tepi halo Bima Sakti,” ujarnya. (SPACE/CFA.HARVARD.EDU/MZW)
——————-
Bakteri Rekrut Anggota Lewat Sinyal Listrik

Bakteri ternyata bisa hidup di satu komunitas dengan mikroorganisme dari beragam jenis. Menurut hasil riset, bakteri bisa merekrut mikroorganisme dari spesies lain menjadi anggota komunitas atau biofilm, dengan sinyal listrik jarak jauh. Biofilm ialah komunitas berisi beragam jenis mikroorganisme. Temuan itu penting untuk mencari metode efektif menangkal dampak kuman, seperti infeksi bakteri Staphylococcus di rumah sakit. Para peneliti biologi di San Diego Center for Systems Biology and Howard Hughes Medical Institute–Simon Faculty Scholar di Universitas California, San Diego, Amerika Serikat, mengintegrasikan eksperimen di laboratorium dengan pemodelan matematis, menemukan biofilm spesies tunggal bakteri Bacillus subtilis merekrut bakteri Pseudomonas aeruginosa lewat pengiriman sinyal listrik. ”Bakteri seperti mengirim pesan elektronik ke teman,” ucap penulis utama studi, Jacqueline Humphries. Studi dipublikasikan di jurnal Cell, Kamis (12/1). (SCIENCEDAILY/JOG)
———————
Mantan Kepala Lapan, Ibnoe Soebroto, Berpulang

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) periode 1987-1991, Marsda (Purn) Ibnoe Soebroto (82), meninggal, Sabtu (14/1), sekitar pukul 17.00, di kediamannya, Jalan Wirabudi J2, Kompleks Jatiwaringin, Jakarta Timur. Jenazah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Minggu (15/1). Menurut Adi Sadewo Salatun, Kepala Lapan (2006-2011), almarhum meninggal akibat penyakit jantung. Pada masa kepemimpinan Ibnoe, Lapan mulai mengembangkan pembuatan roket kendali. Riset roket jangan hanya untuk riset, tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata untuk pertahanan wilayah RI, demikian pernah diungkapkan almarhum. Ketika itu, Adi ditunjuk sebagai Kepala Bidang Teknologi Wahana Antariksa Lapan untuk menjalani proyek spin off roket kendali. Adapun menurut Kepala Lapan Thomas Djamaluddin, Ibnoe mendorong pengembangan riset kedirgantaraan dengan menyediakan fasilitas litbang memadai. ”Sebagai mantan Asisten Logistik TNI AU, beliau paham betul perlunya fasilitas Lapan dilengkapi. Para peneliti diminta mengusulkan fasilitas-fasilitas riset yang perlu dipenuhi,” kata Djamaluddin. (YUN)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Januari 2017, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.

———————

Galaksi Jauh Hijau Berumur 11 Miliar Tahun

Hijau bukanlah warna umum galaksi jauh yang juga galaksi tua, tetapi putih dengan sedikit variasi tergantung dominasi bintang di dalamnya. Namun, temuan Matt Malkin dari Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat, dan rekan menunjukkan warna hijau pada galaksi jauh menunjukkan galaksi itu terbentuk 2-3 miliar tahun, setelah alam semesta terbentuk atau setelah dentuman besar berlangsung. Artinya, kini, galaksi itu berumur 11 miliar tahun, jauh lebih tua dari Bumi dan Tata Surya yang berumur 4,6 miliar tahun. Meski demikian, warna hijau juga ditemukan pada galaksi dekat yang biasanya berupa galaksi katai, berumur muda dan jumlahnya sangat sedikit. Pada galaksi dekat, warna hijau diperoleh dari oksigen yang terionisasi dua kali atau kehilangan dua elektronnya. Oksigen itu dari bintang bersuhu sangat tinggi, 50.000-60.000 derajat kelvin (Matahari hanya 5.700-6.000 derajat kelvin). Menurut Malkin, seperti dikutip space.com, Kamis (12/1), galaksi tua yang terbentuk di awal semesta tak punya keragaman senyawa kimia, khususnya unsur berat seperti karbon, besi, dan oksigen yang biasa ditemukan pada galaksi muda. (SPACE/MZW)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Januari 2017, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: