Home / Berita / Bijak Memanfaatkan Ultraungu

Bijak Memanfaatkan Ultraungu

Sinar ultraviolet atau sinar ungu untuk disinfektasi ruangan dapat dikembangkan untuk menangkal virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19. Tapi, pemanfaatan sinar ini perlu secara hati-hati agar tidak membahayakan manusia.

—Maryam (85), warga Desa Calabai, beristirahat usai menjalani operasi katarak di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (8/4). Masyarakat yang kerap beraktivitas di luar ruangan sangat dianjurkan untuk menggunakan kacamata yang bisa menyaring sinar ultraviolet untuk mencegah katarak.

Pemanfaatan sinar ultraviolet atau sinar ungu untuk disinfektasi ruangan maupun alat telah teruji secara ilmiah sejak tahun 1877. Lampu yang bisa memancarkan sinar bergelombang pendek ini pun telah banyak dijual untuk dimanfaatkan sebagai sterilisasi air hingga akuarium.

Kemampuan sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 200 sampai 280 nanometer (UV-C) dalam membunuh mikroorganisme pun telah menjadi informasi umum. Dengan logika seperti ini, masyarakat pun beramai-ramai memanfaatkan kemampuan sinar ultraviolet ini untuk membuat peralatan sendiri sebagai langkah pencegahan dan swadaya mencegah penyebaran virus korona.

Apalagi lampu sinar UV-C ini diperjualbelikan secara bebas karena umum dipakai untuk sterilisasi air isi ulang pada depo air. Namun, pemanfaatannya tak bisa dilakukan sembarangan. Sinar ultraviolet yang mampu merusak tubuh mikroorganisme, termasuk virus, tersebut juga berbahaya bagi kesehatan manusia.

Paparan radiasi dari UV-C sangat berbahaya karena menyebabkan kulit terbakar maupun kebutaan pada mata. “Target obyeknya harus benda mati. Kalau benda hidup sangat berbahaya, paparan sinar UV-C bisa membuat kulit terbakar dan merusak mata,” kata Rike Yudianti, Kepala Pusat Penelitian Fisika, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Senin (4/5/2020).

Sinar UV-C ini secara alami sebenarnya secara alami dipancarkan oleh sinar matahari. Hanya saja, sinar UV-C ini terhalang oleh lapisan ozon sehingga tak bisa menembus ke permukaan bumi. Sinar yang sampai ke permukaan bumi berupa sinar UV jenis A dan sinar UV jenis B yang radiasinya membawa manfaat hingga kerugian bagi manusia, tergantung indeks radiasinya.

Panjang gelombang UV-C berada pada rentang ukuran sejumlah mikroorganisme sehingga menjadikannya ampuh sebagai disinfektan. Pengetahuan akan manfaat sinar UV-C bagi disinfeksi dimulai sejak lama.

Illuminating Engineering Society menyebutkan pemanfaatan energi radiasi sinar UV pertama kali digunakan untuk disinfeksi pada permukaan di tahun 1877. Pada saat itu, Downes dan Blunt menemukan kemampuan cahaya matahari untuk mengendalikan pertumbuhan mikroba. Ia pun menemukan kemampuan cahaya matahari tersebut tergantung pada dosis/kapasitas penyinaran, waktu penyinaran, dan panjang gelombang radiasi.Hasil risetnya ini pun terus bergulir dan dikembangkan untuk pengendali kuman di udara di dalam medium air dan 1935 pada medium udara. Ultraviolet sebaga “senjata” antikuman telah digunakan di banyak negara, terutama di rumah sakit, hingga kini untuk pengendalian transmisi penularan lewat udara pada penyakit tuberculosis (TB).

Dari riset-riset mendasar ini, teknologi pembangkitan sinar UV-C digunakan secara komersial untuk disinfeksi. Menurut International Ultraviolet Association (IUVA), sinar UV-C telah dimanfaatkan secara ekstensif sejak 40 tahun lalu secara komersial sebagai disinfektan pada air minum, air limbah, produk farmasi, dan permukaan untuk melawan berbagai pathogen pada manusia. Organisasi ini pun menyediakan daftar jenis bakter dan virus beserta dosis kekuatan paparan sebagai acuan penggunaan.

Melawan virus korona baru
Terkait penggunaan sinar UV-C untuk melawan virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19, IUVA dan IES meyakini disinfeksi menggunakan teknologi sinar UV-C bisa dimanfaatkan dengan dosis tertentu. IUVA menambahkan sinar UV-C penting sebagai pendekatan multibarrier untuk mencegah penularan Covid-19. Ini karena UV-C telah terbukti sebagai disinfektan yang mampu digunakan di udara, air, dan permukaan benda.

Infeksi Covid-19 yang bisa ditularkan dari benda yang terkontaminasi virus lalu menyentuh wajah, bisa dikurangi dengan sterlisasi ini. Menurut penelitian-penelitian, virus dapat hidup di plastik hingga 3 hari dan baja hingga 4 jam serta udara sekitar 3 jam.

Pembersihan dengan cara mengelap atau menyemprotkan cairan disinfektan pada permukaan benda masih memungkinkan sejumlah kontaminasi. Dengan tambahan penyinaran UV-C, diharapkan dapat menyempurnakan upaya disinfeksi tersebut lebih sempurna dan memastikan permukaan benda-benda tersebut bersih.

Sementara panduan Centers for Disease and Control Prevention (CDC) menyatakan, efektivitas disinfeksi UV-C pada kuman dipengaruhi oleh sifat permukaan atau aerosol tempat organisme berada, ukuran mikroorganisme, serta berbagai faktor desain yang memengaruhi dosis UV yang diantarkan ke tubuh mikroorganisme

Dalam penelitian, penyinaran sinar UV-C mempu menginaktivasi secara efisien virus SARS-CoV-1, virus yang hampir serupa dengan penyebab Covid-19. Tesnya menggunakan dosis penyinaran UV-C dengan panjang gelombang 254 nanometer yang tersuspensi di cairan. Dengan pengalaman ini, IUVA meyakini hasil serupa juga diharapkan terhadap virus penyebab Covid-19.

Berbekal referensi ilmiah seperti ini, LIPI mengembangkan sejumlah inovasi pemanfaatan sinar UV-C sebagai disinfektasi pada permukaan. Misalnya, Si-SUSan yang dikerjakan Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI menggunakan pengendali jarak jauh (remote control) untuk mematikan dan menghidupkan lampu sinar UV-C. Peneliti juga menambahkan sensor otomatis yang langsung mematikan lampu saat pintu ruangan yang sedang disterilisasi dibuka.

Fungsi pengendali jarak jauh dan sensor tersebut untuk menghindari paparan sinar UV-C dengan manusia atau makhluk hidup yang tak sengaja memasuki ruangan. “Kalau mau bikin sendiri tanpa remote (control), saya sarankan saklar pakai kabel panjang saja biar tidak terpapar sinar UV-C,” saran Yusuf Nur Wijayanto, peneliti P2ET LIPI yang menghasilkan inovasi SI-SUSan.

Masukannya ini bisa diaplikasikan pada beberapa hasil rakitan masyarakat awam yang hanya menggunakan saklar di peralatan tersebut. Artinya, ada waktu––meski dalam hitungan detik––orang tersebut terpapar sinar UV-C saat menghidupkan dan keluar ruangan serta kembali ke ruangan untuk mematikan.

Meski beberapa detik, paparan ini tetap saja berbahaya dan agar sebisa mungkin dihindari. IES pun menyebutkan sinar UV-C relatif tak berbahaya dibandingkan radiasi cahaya matahari yang pada indeks tinggi bisa menyebabkan kanker kulit dan penyakit lain.

UV-C menembus lapisan permukaan kulit paling atas dan mata. Efek pada kulit lebih kepada sunburn ringan dan pada mata bisa sangat berbahaya karena merusak retina.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 9 Mei 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: