Home / Berita / Biaya Pendidikan; Cara Berguru ke ”Negeri Kanguru”

Biaya Pendidikan; Cara Berguru ke ”Negeri Kanguru”

”Negeri Kanguru” masih menjadi tempat menarik bagi pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi. Salah satu daya tariknya ialah reputasi sejumlah perguruan tinggi di Australia yang berkelas dunia.

Masyarakatnya yang multikultural merupakan magnet lain Australia sebagai salah satu tujuan belajar. Hidup di beberapa kota tujuan pelajar internasional, seperti Sydney, Melbourne, Perth, atau Brisbane, tak membuat kita merasa asing. Pengalaman melanjutkan kuliah di Australia pun bakal lebih dari sekadar belajar di kampus, tetapi juga memberi pelajaran hidup sebagai bagian warga dunia.

Namun, bagi mahasiswa asal Indonesia yang tak ingin sepanjang masa pendidikan berada di Australia, terdapat alternatif yang memudahkan. Ada peluang untuk meraih gelar alumni universitas ternama Australia itu tanpa harus sepenuhnya di ”Negeri Kanguru” selama 3 atau 4 tahun untuk gelar sarjana.

Sejumlah perguruan tinggi ternama di Australia menawarkan alternatif untuk tembus kuliah lewat pra-universitas atau persiapan intensif (foundation) dan college yang nanti menjamin mahasiswa itu diterima di universitas untuk meraih gelar sarjana, master, atau doktor.

Sebagian waktu kuliah bisa dimulai di Indonesia, lalu masuk ke universitas di Australia sebagai mahasiswa tahun pertama atau kedua. Kualitas pendidikan foundation atau college yang digelar di Indonesia mendapat kontrol yang ketat dari kampus di Australia.

Di Indonesia dan Australia
Geoffrey Charis Prasetyo (18), alumni SMA Binus Internasional Serpong, Banten, berencana menyusul kakaknya yang sudah terlebih dahulu kuliah di Monash University yang berpusat di Melbourne. Dia bergabung dengan Monash College Jakarta yang bermitra dengan Jakarta International College (JIC).

”Nilai saya hanya 70. Padahal, untuk bisa masuk ke program teknik di Monash University nilainya minimal 80. Jadi, saya pilih gabung di foundation dulu karena bisa ada dua pilihan tempat kuliah di Australia atau Inggris,” ujar Geoffrey.

Geoffrey memutuskan mengambil foundation di Monash College dulu di Indonesia untuk menghemat biaya. Dari foundation ini, dia bisa diterima di tahun pertama di Monash University, bisa juga di universitas lain di Australia dan Inggris.

Sundari, orangtua Inggrid (18), menyiapkan anaknya kuliah diploma di Monash College di Jakarta terlebih dahulu sebelum ke Australia. Anaknya yang hendak kuliah di bidang bisnis bergabung dengan diploma bisnis di Monash College sekitar delapan bulan. Jika lulus, Inggrid bisa dijamin masuk ke Monash University di tahun kedua.

”Setelah ditimbang-timbang, dengan memulai diploma di Monash College lebih hemat. Ini juga meringankan biaya, tetapi nanti tetap bisa berangkat ke Melbourne,” kata Sundari.

05c39ca3c13d476381ad630c44eeaf5dManager Marketing & International Relationship JIC Patricia Rubena mengatakan, Monash College di Indonesia termasuk yang diperhitungkan sebab lulusannya dinilai memuaskan dibandingkan dari Monash College lain di beberapa negara. Alternatif kuliah ke Australia lewat college dapat menghemat separuh biaya kuliah di Australia. Penghematan ini bisa disiapkan untuk langsung melanjutkan program master di Australia.

Reputasi Monash College Indonesia inilah yang membuat Simon Nayak (19), warga India, bergabung di diploma bisnis untuk bisa tembus ke Monash University di Melbourne. ”Saya justru direkomendasikan Monash University untuk gabung dengan Monash College di Jakarta saja karena lulusannya dinilai bagus untuk bisa lanjut ke tahun kedua di Melbourne,” ujar Simon.

Nicholaas Sosrowibowo dari Kantor Internasional Monash University Australia, mengatakan, mahasiswa Indonesia termasuk dalam sepuluh besar mahasiswa internasional di salah satu universitas yang masuk Group of Eight di Australia. Universitas tersebut mengakui lulusan SMA nasional Indonesia sehingga bagi yang memenuhi syarat bisa langsung masuk tahun pertama. ”Kalau universitas lain, mewajibkan lewat foundation dulu,” kata Nicholaas.

Jaminan masuk langsung ke universitas ternama lainnya di Australia juga ditawarkan Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University di Melbourne. Universitas yang termasuk bergengsi untuk bidang teknologi dan sains itu menawarkan persiapan di RMIT Foundation Studies Jakarta. Siswa kelas XI bisa menjalani program itu 8-12 bulan, lalu transfer ke RMIT University sebagai mahasiswa tingkat pertama di Melbourne.

Alternatif lainnya untuk bisa mendapat gelar dari RMIT University dengan mengikuti program gelar bersama (joint degree) Universitas Pelita Harapan (UPH)–RMIT University. Program itu terbuka untuk sarjana bidang manajemen, pemasaran, akuntansi, dan komunikasi. Dalam waktu tiga tahun, mahasiswa bisa lulus dengan dua gelar sarjana dari UPH dan RMIT University. Mahasiswa juga bisa bergabung kuliah di RMIT di Melbourne.

”Ada banyak pilihan kuliah di RMIT yang bisa dipilih mahasiswa. Kami punya kemitraan yang luas dengan banyak institusi di banyak negara,” kata Andrew MacIntyre, Wakil Rektor RMIT dan Deputy Vice-Chancellor International. Dengan reputasi sebagai pendidikan profesional dan vokasi dan riset terapan, RMIT University menyiapkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja di seluruh dunia.

Jalan masuk menuju salah satu kampus Universitas Teknologi Sydney (UTS) bagi pelajar Indonesia yakni dengan bergabung di UTS: Insearch di Sydney. Bagi pelajar lulusan SMA di Indonesia dengan kurikulum nasional, untuk bisa tembus di kampus ini harus melalui UTS: Insearch.

Bergabung di UTS: Insearch memberi bekal bagi mahasiswa untuk sukses. Alumni UTS dari Indonesia mampu berkembang secara global. Robby Tjia dari Indonesia bekerja sebagai desainer untuk rumah mode Kenzo di Paris, Perancis. Prestasinya antara lain memenangi Lancome Colour Design Award ketika masih berkualiah di UTS, meraih hadiah utama dalam Grog Carven Competition, juara kedua dalam Gucci Ecological bag Competititon, dan bekerja bagi Nicolas Ghesquire dari rumah mode internasional Balenciaga.

Matthew Holt, Program Manager for Design UTS: Insearch saat kunjungan ke Indonesia beberapa waktu lalu mengatakan, kampus ini menjadi salah satu tempat untuk menciptakan lulusan desain di Indonesia dengan reputasi internasional. Karena di, UTS melengkapi mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan siap kerja. Hal itu karena ada kebutuhan berorientasi desain (design-thinking) untuk merancang ulang proses, sistem, produk, layanan konsumen, dan bahkan strategi bisnis.

Di UTS ada lebih dari 100 program S-1 dan 150 pascasarjana S-2 dalam bidang studi, desain arsitektur dan bangunan, creative intelligence dan inovasi, teknik insinyur, teknologi informasi, sains. Model pembelajaran di UTS mendorong pengajaran yang dinamis, mengintegrasikan teori dengan praktik dan memberikan sebuah pendidikan yang praktikal melalui berbagai platform pengajaran. Para dosen memperkaya mahasiswa dengan pengalaman yang menggunakan akses langsung ke industri serta jaringan terbaru. Program-program dikembangkan dan dikaji secara reguler oleh profesional dari industri ternama supaya program-programnya memiliki unsur praktik dan teori yang seimbang. UTS bermitra lebih dari 150 perusahaan.

Untuk mahasiswa internasional ada dukungan mulai dari dukungan bahasa Inggris, dukungan akademik, konseling keuangan, kesehatan, dan layanan tempat tinggal. (ELN)

Sumber: Kompas, 30 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: