Home / Berita / Bertemu Mustikabumi

Bertemu Mustikabumi

Dalam kisah Mahabharata versi pujangga Jawa—dalam versi aslinya tidak ada cerita tentang keturunan Pandawa—Mustikabumi adalah cincin pusaka milik Antareja, anak Bima dengan Dewi Nagagini. Antareja mampu menembus bumi dengan cincin pusakanya itu. Dalam kehidupan nyata, Mustikabumi dan Antareja adalah nama yang diberikan Presiden Joko Widodo pada mata bor yang mengebor terowongan untuk jalur bawah tanah kereta transportasi massal cepat (MRT) Jakarta.

Meski pembangunan kereta cepat ini sudah disepakati sejak 2005, tahap konstruksinya baru dimulai Oktober 2013 saat Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama menjadi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Total ada empat mata bor yang digunakan dalam proyek ini. Semua dioperasikan 24 jam sehari, kecuali Minggu, dengan kecepatan hampir 1 rotasi per menit. Mustikabumi 1 dan Mustikabumi 2 mengebor dua terowongan dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) sampai Stasiun Setiabudi.

Sementara Antareja 1 dan Antareja 2, yang sudah lebih dulu beroperasi, sejak September 2015, membuat lorong dari Patung Pemuda Senayan ke arah Setiabudi. Mustikabumi 1 bekerja sepanjang 24 Februari 2016-27 Desember 2016. Mustikabumi 2 yang mulai dioperasikan 14 April 2016 adalah yang terakhir menembus Setiabudi, stasiun yang menjadi titik temu semua pengeboran. Bekerja dengan kecepatan sekitar 8 meter per hari, Mustikabumi 2 sampai Setiabudi pada 23 Februari 2017.

Ini berarti seluruh konstruksi bawah tanah tahap pertama, yang menghubungkan Patung Pemuda Senayan-Bundaran HI, sudah tembus. Dengan demikian, konstruksi bawah tanah sepanjang 8 kilometer itu sudah mencapai 80 persen pengerjaan. Pencapaian penting pembangunan MRT Jakarta fase pertama ini akan dilanjutkan dengan pekerjaan terkait mechanical, electrical, dan plumbing. Termasuk di antaranya memasang rel kereta, peralatan listrik, dan pipa-pipa air bersih ataupun drainase.

Presiden Joko Widodo ketika meninjau titik temu itu di Stasiun Setiabudi, Kamis (23/2), mengapresiasi kerja keras seluruh pelaksana proyek. Ia berharap MRT sudah bisa beroperasi Maret 2019 (Kompas, 24/2). Sabtu (25/2), ketika berkesempatan meninjau jalur MRT dari Dukuh Atas menuju Setiabudi, kami menyusuri terowongan di kedalaman 60 meter. Memakai sepatu bot proyek yang berat, helm, dan rompi yang menyala dalam gelap, kami menuruni tangga dengan hati-hati. Petugas yang menjelaskan tata cara keselamatan di dalam terowongan sebelumnya sudah mengingatkan, langkah akan terasa lebih berat karena efek gravitasi.

Karena itu, saat menuruni tangga proyek dianjurkan untuk berpegangan, minimal satu tangan. Di terowongan, udara terasa panas. Kipas angin besar yang dipasang di beberapa tempat tak mampu menahan keringat yang mengalir di punggung. Namun, lorong Dukuh Atas-Setiabudi sepanjang lebih kurang 800 meter itu ternyata benderang. Konstruksi beton berwarna putih abu-abu yang diterangi lampu putih sungguh melegakan.

Lorong berdiameter 6,69 meter itu terasa lapang disusuri meski kaki kadang tersuruk-suruk. Maklum, sebagian lorong sudah dipasangi rangka baja untuk membangun konstruksi rel kereta. Dukuh Atas dan Setiabudi adalah dua dari enam stasiun perhentian MRT sepanjang jalur Bundaran HI sampai Patung Pemuda. Dari Patung Pemuda sampai Lebak Bulus, MRT dilanjutkan struktur layang yang saat ini sudah selesai 50 persen. Seperti dijelaskan dalam situs resmi MRT Jakarta, secara keseluruhan MRT Jakarta didesain untuk terintegrasi dengan kereta ringan (light rail transit/LRT), bus transjakarta, dan kereta rel listrik (KRL).

Titik temu seluruh moda angkutan massal tersebut di Stasiun Dukuh Atas. Keluar dari terowongan yang dibuat Mustikabumi 1, kami bertemu dengan Mustikabumi 2 di titik Stasiun Setiabudi. ”Cincin pusaka” Antareja itu masih garang terpasang, dengan barisan gigi raksasa sebagai jari-jarinya. Setelah menunaikan tugasnya, berputar menembus perut bumi, barisan gigi itu akan dilepas satu demi satu. Terima kasih Antareja dan Mustikabumi, kalian sudah membantu mewujudkan mimpi kami.–Oleh AGNES ARISTIARINI
—————-
Sumber: Kompas 1 Maret 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: