Home / Berita / Belajar “Meniti Angin” dari Korban Stigma Sejarah

Belajar “Meniti Angin” dari Korban Stigma Sejarah

Hidup di bawah keterancaman selama bertahun-tahun menjadikan masyarakat Buton tumbuh sebagai manusia yang berintuisi tajam dan mampu beradaptasi di segala situasi. Karena menerapkan aneka macam strategi untuk bertahan hidup, Buton harus rela dicap sebagai “pengkhianat” karena bersekutu dengan Belanda.

Menandai peringatan ulang tahunnya ke-65, sejarawan Universitas Indonesia Prof Susanto Zuhdi menyampaikan orasi ilmiah “Buton dan Kesadaran pada Ruang Sejarah”, Rabu (4/4/2018) di Auditorium Gedung I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Orasi ini disambung dengan diskusi dan peluncuran buku Susanto berjudul Sejarah Buton Yang Terabaikan: Labu Rope Labu Wana dengan pembahas dosen sastra FIB UI Tommy Christommy, peneliti Pusat Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PMB-LIPI) Dedi Supriadi Adhuri, dosen Sejarah FIU UI Kasijanto, serta moderator Saraswati Dewi.

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN–Prof Susanto Zuhdi bersama Dekan FIB UI Adrianus LG Waworuntu (keempat dari kiri) dan dosen sastra FIB UI Tommy Christommy (kedua dari kiri), peneliti Pusat Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PMB-LIPI) Dedi Supriadi Adhuri (kedua dari kanan), dosen Sejarah FIU UI Kasijanto (paling kanan), serta moderator Saraswati Dewi (paling kiri) saat memaparkan Orasi Ilmiah “Buton dan Kesadaran pada Ruang Sejarah”di Auditorium Gedung 1 FIB Universitas Indonesia, Rabu (4/4).

Dilihat dari letak geografisnya, Pulau Buton di Sulawesi Tenggara berada di lokasi yang sangat strategis karena berada di perlintasan jalur pelayaran internasional. Dalam sejarahnya, Kesultanan Buton terus-menerus berupaya menegakkan kekuasaan dan kedaulatan dari ancaman konflik internal maupun eksternal.

Dinamika konflik internal biasanya muncul saat pemilihan dan penetapan sultan Buton yang berasal dari tiga kelompok bangsawan kaomu, yaitu tanailandu, tapi-tapi, dan kumbehawa. Sementara itu, ancaman eksternal datang dari arah timur yang diidentikkan dengan “angin timur”, yaitu Ternate dan “angin barat” yaitu Gowa. Dari sisi utara, Buton juga harus berhadapan dengan perompak Tobelo dari Halmahera.

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN–Prof Susanto Zuhdi saat memaparkan Orasi Ilmiah “Buton dan Kesadaran pada Ruang Sejarah”di Auditorium Gedung 1 FIB Universitas Indonesia, Rabu (4/4).

“Fakta keterancaman yang selalu datang secara periodik dari segala penjuru telah menghasilkan manusia Buton yang memiliki intuisi tajam dalam merespon perubahan ruang sejarah. Karena ancaman Gowa dan Ternate yang terus-menerus muncul, maka Buton bersekutu dengan VOC (Belanda). Dalam konteks inilah, sejarah panjang Buton masih diingat secara kolektif oleh masyarakat yang menyebut Buton sebagai ‘pengkhianat’karena bersekutu dengan Belanda,”kata Susanto.

Buton terbebas dari serangan Gowa secara besar-besaran pada 1655 setelah dibantu armada VOC Belanda di bawah pimpinan Cornelius Speelman. Menurut Susanto, stigma Buton sebagai pengkhianat tidak tepat karena dengan sebutan itu, Indonesia tiba-tiba ditarik garis lurus jauh ke belakang seolah-olah sudah ada sejak masa lampau.

“Indonesia adalah konsep baru yang baru muncul awal abad ke-20. Kita mesti memahami sejarah lokal masing-masing (kerajaan), jangan tiba-tiba melompat ke sejarah negara Indonesia. Stigma Buton itu terus-menerus diwariskan karena sejarah kurang dipahami secara kontekstual. Persekutuan antara Buton dengan VOC pada masa itu adalah persoalan bagaimana mereka harus bertahan terhadap tantangan-tantangan di sekitarnya,”paparnya.

Kesalahan pemahaman sejarah ini pula yang diduga menyebabkan kegagalan pengajuan usulan calon pahlawan nasional asal Buton, Sultan Himayatuddin 2011 lalu. Sultan Himayatuddin merupakan seorang Sultan Buton yang tidak mau tunduk pada VOC, ia bahkan pernah memimpin perang melawan VOC pada 1755.

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN–Buku karya Prof Susanto Zuhdi berjudul “Sejarah Buton Yang Terabaikan: Labu Rope Labu Wana”(Edisi Revisi)

Paling adaptif
Karena ditempa oleh tantangan yang berat, banyak orang Buton akhirnya mampu beradaptasi dengan mudah terhadap situasi-situasi baru. Orang-orang Buton banyak ditemui di pulau-pulau daerah timur karena kepiawaian mereka terhadap laut.

“Orang Buton ada di mana-mana. Mereka berani mengikuti arus laut, bermigrasi bersama arah ikan tuna, dan sebagainya,”kata Dedi.

Referensi naratif Buton mengatakan tempat tinggal mereka seperti perahu. Menurut Tommy, mekanisme kultural ini akhirnya memudahkan mereka untuk memobilisasi masyarakat ketika ada ancaman. “Ada posisi di mana mereka dianggap sebagai pengkhianat. Tapi, bagi orang Buton, itu adalah upaya mereka untuk menyelamatkan ‘perahu’,”kata dia.

Ko-promotor Susanto dalam ujian disertasi, Prof Taufik Abdullah mengingatkan bagaimana kita selama ini sibuk dengan darat dan melupakan lautan. “Santo konsisten memperkenalkan sejarah kelautan Indonesia. Hanya ada dua orang yang selama ini mendalami tentang sejarah kelautan, pertama (almarhum) AB Lapian dan kedua Susanto Zuhdi,”tambahnya

Senada dengan Taufik, Kasijanto mengatakan sejarawan (almarhum) AB Lapian sebagai “Raja Laut” yang memelopori dan meletakkan dasar-dasar sejarah kelautan. “Jika pak AB Lapian dalah ‘Raja Laut”, maka Susanto adalah ‘bajak lautnya’,”seloroh Kasijanto.

Dalam konteks sejarah kelautan Nusantara, kepada Susanto, Kasijanto berharap agar Susanto menuliskan secara khusus buku tentang metodologi sejarah bahari.–ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 5 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: