Home / Berita / Banjir Ambon; Alarm Alam Sudah Lama Berbunyi

Banjir Ambon; Alarm Alam Sudah Lama Berbunyi

Peringatan atau alarm datangnya bencana banjir dan longsor di Kota Ambon, Maluku, pada 29 Juli 2013, sebenarnya sudah lama berbunyi. Peneliti geoteknologi LIPI, Edi Prasetyo Utomo, menunjukkan alarm itu dari foto-foto hasil risetnya beberapa tahun sebelumnya.

Seperti kondisi Sungai Batu Merah di jantung Kota Ambon, yaitu Kelurahan Desa Merah, Kecamatan Sirimau. Sebelumnya, sungai tersebut diperkirakan memiliki lebar sekitar 100 meter. Melalui foto-fotonya pada Juli 2012, Edi menunjukkan lebar sungai itu menciut drastis menjadi hanya dua meter!

Foto bangunan rumah di Kelurahan Batu Gajah yang diambil 13 Juli 2012 menunjukkan posisinya berada di tebing curam dengan posisi berdiri sempurna. Foto pada lokasi sama yang diambil tanggal 2 Agustus 2012—kurang dari tiga minggu setelahnya—menunjukkan sebagian gedung sudah roboh akibat tanah longsor.

”Banyak faktor alam memengaruhi bencana banjir dan longsor yang akan selalu berulang setiap tahun,” kata Edi, Selasa (30/7), di Bandung, Jawa Barat.

Dalam penelitiannya, selama kurun waktu 12 tahun antara 2001-2012 tercatat curah hujan di Ambon sangat deras bila dibandingkan di Jawa. Puncak musim hujan di Ambon pada bulan Juli-Agustus.

Musim di wilayah Maluku dan sekitarnya berkebalikan dengan musim di Jawa. Ketika di Maluku berada pada puncak musim hujan, di Jawa justru pada puncak musim kemarau. Akan tetapi, pada tahun 2013 ini tidak terjadi puncak musim kemarau di Jawa, karena kemarau basah menyebabkan hujan terjadi meski pada bulan Juli.

Rata-rata curah hujan di Ambon juga sangat tinggi, mencapai 5.800 milimeter per tahun. Dibandingkan di Jawa, rata-rata curah hujannya hanya mencapai 3.500 milimeter per tahun. Dalam intensitas hujan seperti itu pun, banjir dan tanah longsor di Jawa sering kali memakan korban.

Kondisi bentang alam atau topografi Ambon juga tergolong curam. Ditunjang litologi atau batuan penyusunnya yang tidak terkonsolidasi dan rawan gempa, itu memudahkan terjadinya pergerakan atau tanah longsor yang mematikan.

Sementara, kemampuan pori-pori tanah untuk menyerap air atau permeabilitas tanah rendah. Hal itu menyebabkan mudah terjadi banjir ketika terjadi hujan deras. Kondisi saat ini diperparah keadaan jalur sungai yang semakin menciut karena kalah terimpit permukiman penduduk.

Lima sungai di Kota Ambon, semuanya sekarang tergolong kritis. Selain Sungai Batu Merah, ada Sungai Batu Gajah, Sungai Batu Gantung, Sungai Waitomu, dan Sungai Wairuhu.

Ancaman serius berupa banjir bandang dari setiap sungai semakin dirasakan penduduk. Begitu pula ancaman tanah longsor. Bertahun-tahun lewat, begitulah kondisinya.

Alarm alam akan datangnya bencana itu, sekali lagi, sebenarnya sudah lama menyala.

Adaptasi dan mitigasi
Laporan penelitian Edi tentang risiko banjir dan longsor di Ambon juga sudah masuk jurnal ilmiah internasional, ”Journal of Natural Disaster Science” Volume 32-1 halaman 77-90, yang diterbitkan pada Juni 2013 lalu. Laporan tersebut diberi judul ”Landslide and Mudflow Disaster in Ambon Island, Indonesia”, diterbitkan di Jepang oleh Japan Associate of Landslide.

”Saya meneliti bersama Prof Dr Takeshi Ito dan Prof Dr Masatsugu Yamamoto dari Universitas Akita, Jepang,” kata Edi.

Menurut dia, hasil riset tersebut sebagai timbangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan. Sementara, masyarakat membutuhkan tindakan konkret untuk adaptasi dan mitigasi (pencegahan) bencana berdasar kebijakan berbasis riset ilmiah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, adaptasi bisa ditempuh melalui pelatihan kesiapsiagaan bencana. Melalui latihan itu, masyarakat yang rentan terkena bencana menjadi lebih siaga.

Ujung-ujungnya, masyarakat bahkan bisa mengambil keputusan sendiri sebelum bencana tiba. ”Latihan kesiapsiagaan bencana jelas mampu mengurangi jumlah korban bencana,” kata Sutopo.

Sutopo mencontohkan kejadian jebolnya bendungan alam Wai Ela di Maluku Tengah, beberapa hari sebelum banjir dan longsor di Kota Ambon. BNPB pernah memberikan latihan kesiapsiagaan bencana kepada warga yang masuk golongan rentan dan berisiko.

Proses menuju jebolnya Wai Ela juga terus dipantau. Warga sudah disiapkan untuk evakuasi sewaktu-waktu sesuai latihan yang pernah dijalani bersama.

Ketika banjir bandang menerjang, limpahan air Wai Ela yang sangat dahsyat, sedikitnya menghancurkan 450 rumah warga dan 3 orang meninggal. Kejadian memilukan itu sebenarnya bisa dicegah jauh-jauh hari sebelumnya, bila pemerintah daerah dan pemerintah pusat berani mengambil keputusan relokasi sejak awal.

Upaya mitigasi untuk mengurangi risiko banjir dan tanah longsor di Kota Ambon juga sangat penting. Menurut Edi, di Kota Ambon terdapat jenis tanaman endemik, yaitu gandaria, yang cocok untuk menjaga kestabilan tanah.

”Akar pohon gandaria itu kuat menancap ke dalam tanah dan menyebar ke mana-mana,” kata dia. Pemilihan jenis pohon yang tepat memang sangat penting dalam upaya mitigasi dan adaptasi potensi gerakan tanah di sebuah lokasi.

Salah memilih, hanya akan menempatkan masyarakat ke dalam posisi lebih rentan. Pohon besar dengan akar lemah justru akan menjadi ”mesin” buldoser alami.

Di Ambon, penanaman pohon gandaria juga memberi nilai ekonomis melalui buahnya. Semestinya, tanaman seperti ini ditanam di lokasi-lokasi rawan tanah longsor.

Akan tetapi, tetap jauh lebih baik bila ancaman bahaya yang sudah terendus segera ditindaklanjuti dengan kebijakan yang tepat. Hanya dengan itulah korban jiwa dan harta bisa diselamatkan.

Sumber: Kompas, Senin, 5 Agustus 2013

—————

Bendung Alam Dapat Terbentuk
Bupati Maluku Tengah Diminta Siapkan Lokasi

Bendung alam berpotensi terbentuk kembali di Sungai Wai Ela, Negeri Lima, Leihitu, Maluku Tengah, Maluku. Potensi tersebut berasal dari sisa-sisa bendung alam terdahulu atau longsoran tebing yang mengapit Wai Ela.

”Potensi terbentuknya bendung alam baru ini merupakan hasil investigasi pascabencana Wai Ela oleh tim kami bersama tim dari Yachiyo Engineering Cooperation Jepang pada 2 dan 3 Agustus 2013,” kata Kepala Balai Sungai Maluku Muhammad Marasabessy, di Ambon, Kamis (15/8).

Dari hasil investigasi itu, sisa-sisa bendung alam Wai Ela yang jebol pada 25 Juli masih mungkin membentuk bendung alam baru. Saat bendung alam jebol, tidak semua bagian bendung runtuh. Di lokasi masih ada sisa-sisa struktur bendung alam setinggi sekitar 35 meter. Struktur dari tanah itu bisa saja longsor dan menutup aliran sungai.

Selain itu, tim investigasi juga menemukan sejumlah bekas longsoran di tebing yang mengapit sungai di bagian hulu. Bekas longsoran menunjukkan kondisi tebing rawan longsor. Jika longsor terjadi, bukan tidak mungkin akan menutup aliran sungai sehingga membentuk lagi bendung alam.

Dengan kondisi itu, restorasi sungai perlu segera dilakukan. Restorasi di antaranya berupa perkuatan tebing di tepi Wai Ela, pembuatan tiga dam di sepanjang Wai Ela, dan pembuatan kanal di aliran Wai Ela yang lebarnya 80 meter sepanjang satu kilometer. Restorasi mencakup normalisasi sungai dan pembuatan tanggul dengan dana Rp 32 miliar.

Dia yakin restorasi sungai bisa mencegah bendung alam terbentuk kembali. Dengan demikian, warga yang rumahnya hancur oleh banjir bandang akibat jebolnya bendung alam Wai Ela bisa kembali tinggal ke tempat semula di dekat Wai Ela.

Banjir bandang akibat jebolnya bendung alam Wai Ela menerjang 30 hektar areal permukiman warga Negeri Lima. Ada 430 rumah, 6 sekolah, dan 1 puskesmas yang berada di dekat Wai Ela.

Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Maluku Ros Far Far telah meminta Bupati Maluku Tengah Abua Tuasikal membahas relokasi dengan masyarakat. Jika memang ada yang mau direlokasi, Bupati diminta mencari lokasi yang tepat. (APA)

Sumber: Kompas, 16 Agustus 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: