Home / Berita / ”Asisten Pribadi” dalam Genggaman di Jawa Barat

”Asisten Pribadi” dalam Genggaman di Jawa Barat

Aplikasi berbasis internet dikembangkan di Jawa Barat berisi info peta, lalu lintas, kepariwisataan, dan kebencanaan. Masih terbilang awal, tetapi inovatif. Pemerintah daerah bersiap memaksimalkan.

Salah satu tampilan menu JabarHUB. Di layar ponsel terlihat beberapa ikon kamera pemantau yang bisa diakses. Namun ada beberapa kamera yang masih dalam proses integrasi sehingga pantauannya belum terlihat.–KOMPAS/MACHRADIN WAHYUDI RITONGA (RTG)–16-06-2019

KOMPAS/MACHRADIN WAHYUDI RITONGA–Salah satu tampilan menu JabarHUB. Di layar ponsel terlihat beberapa ikon kamera pemantau yang bisa diakses. Meski demikian, ada beberapa kamera yang masih dalam proses integrasi sehingga pantauannya belum terlihat.

Mudik kali ini tidak akan sama bagi Senapati Panji (28). Pemudik asal Panyileukan, Kota Bandung, itu semringah karena bisa melihat kondisi lalu lintas menuju Garut, Jawa Barat, dari layar ponsel pintarnya. Melalui Jabar Transport HUB, Senapati dapat merancang waktu perjalanan menuju kampung istrinya di Santolo dengan melihat kondisi lalu lintas secara waktu nyata atau realtime.

Jelang akhir Ramadhan lalu, ia berencana berangkat setelah sahur. Perjalanan darat 150 kilometer pun ia rancang. Pilihan menu yang sederhana dan menggunakan bahasa Indonesia dalam aplikasi memudahkan dirinya. Biasanya, ia menggunakan aplikasi lain, tetapi petunjuk kepadatan lalu lintasnya terkadang tidak akurat. Dengan Jabar Transport HUB, ia berharap lebih baik.

Dihubungi setelah arus balik Lebaran untuk mengetahui kenyataan di lapangan, Senapati mengaku terbantu. Hanya saja, ia kehilangan momen penting karena beberapa kamera tak menyala sehingga kondisi waktu nyata di jalan yang hendak ia lintasi tak terpantau.

”Tadinya saya mau mengecek lalu lintas di Cileunyi. Kalau macet, saya akan menggunakan Jalan Raya Sapan sebagai alternatif. Semoga kinerja aplikasi ini bisa ditingkatkan sehingga maksimal,” tuturnya, Minggu (16/6/2019).

Aplikasi Jabar Transport HUB merupakan inisiasi bersama Dinas Perhubungan Jabar dengan PT Hade Indo Sejahtera, pengembang aplikasi di Bandung. Teknologi dijadikan teman masyarakat mengakses pelayanan informasi lalu lintas. Jika aplikasi lain butuh 30 menit menyesuaikan kondisi sebenarnya, aplikasi ini bakal menghadirkan waktu nyata. Dapat diunduh melalui Google Play Store, tak ada ketentuan khusus bagi siapa pun yang berminat. Selain gratis, aplikasi ini tak membebani kapasitas memori telepon pintar.

Aplikasi ini menawarkan dua pilihan, JabarHUB (Jabar Terhubung) dan BandungHUB (Bandung Terhubung). Di menu JabarHUB, ada empat ikon sesuai kebutuhan pengguna, yaitu ikon peta, dinas perhubungan, dinas pariwisata, dan kebencanaan. Khusus bagian peta, pengguna bisa memilih kamera pengawas lalu lintas berwarna merah di atas peta Google. Pengguna bisa menyaksikan kondisi jalan raya secara aktual dari kamera CCTV di Jabar.

Saat ini ada 50 CCTV di jalan nasional di Jabar yang terkoneksi aplikasi ini. Bahkan, beberapa titik keramaian di ujung timur Jabar, seperti Pangandaran dan Banjar, bisa diamati. Area peristirahatan juga tak hanya yang ada di jalan tol, tetapi juga di jalur non-tol, seperti beberapa jembatan timbang di Garut dan Tasikmalaya. ”Koneksi dan integrasi dengan CCTV itu hanya secuil dari banyak keunggulan yang ditawarkan aplikasi ini,” kata CEO PT Hade Indo Sejahtera Vaughan Finnegan.

Kapasitas data yang digunakan, misalnya, tak terlalu besar sehingga bisa diakses dengan jaringan non-4G. Artinya, Jabar Transport HUB bisa digunakan di luar kota tanpa sinyal kuat. ”Saya pernah mengakses di jaringan 2G dan bisa mengamati kamera pengawas di jalan-jalan Kota Bandung,” ujarnya.

Aplikasi ini juga memiliki enam paten yang terdaftar dalam hak kekayaan intelektual. Keenam paten itu meliputi sistem aplikasi IndoHUB, fitur obrolan di setiap bagian kamera pengawas, dan notifikasi pemerintah atau pimpinan daerah masyarakat. Selain itu, ada juga fitur penanggulangan kebencanaan dan kebakaran, aplikasi IndoHUB sukarelawan penanggulangan bencana, dan Hub Student/Hub Public/jemputan anak sekolah serta karyawan.

Jika aplikasi dari luar hanya punya sistem pemantauan, Jabar Transport HUB menyediakan fitur obrolan sehingga ada komunikasi di dalamnya. Tidak hanya informasi searah. ”Sejak diluncurkan akhir Mei, Jabar Transport HUB telah diunduh lebih dari 6.000 pengguna,” kata Vaughan.

Transparansi
Menurut Kepala Seksi Lalu Lintas dan Keselamatan Bidang Transportasi Darat Dinas Perhubungan Jabar Teguh Kristianto, gagasan aplikasi ini menghimpun informasi melalui interaksi dengan publik. Komunikasi antarpengguna dan pengaduan dari masyarakat akan dihimpun menjadi ”Big Data” pemerintah, khususnya perilaku masyarakat berlalu lintas.

”Pihak lain seperti kepolisian, mobil derek, dan penanganan korban kecelakaan ikut serta dengan ruang kendali ada di Dishub Jabar. Jika ada laporan, kami akan meneruskan ke lembaga terkait agar bisa memberi penanganan efektif dan efisien,” ujarnya.

Teguh mengungkapkan, pengembangan aplikasi sekompleks ini butuh biaya tak sedikit, meliputi biaya persiapan perangkat keras alat-alat pemantau, baik untuk ruang kendali maupun kamera pengawas di lapangan, serta pengembangan perangkat lunak yang lebih efektif dan minim gangguan.

Vaughan menjelaskan, perusahaannya menginvestasikan Rp 10 miliar untuk mendesain dan membangun sistem. Selain itu, aplikasi ini diproyeksikan menjadi media sosial yang memberikan layanan publik dari pemerintah.

Demi optimalisasi, dibutuhkan dana hingga Rp 100 miliar untuk membangun jaringan dan infrastrukturnya. Salah satunya, rencana menambah 250 kamera pengawas dengan spesifikasi pemantauan 360 derajat. Jadi, di satu titik persimpangan tidak perlu lagi ada beberapa kamera. Menurut rencana, tahun 2020 akan direalisasikan.

Kepala Dinas Perhubungan Jabar Hery Antasari mengatakan, pembiayaan aplikasi ini akan masuk rencana APBD Perubahan Jabar 2019. ”Kami masih menghitung pembiayaan,” katanya.

Aplikasi ini tak hanya khusus untuk kebutuhan dishub. Sektor-sektor lain juga bisa bergabung di Jabar Transport HUB untuk menjalankan layanan publik berbasis digital. ”Ada dua hal saya janjikan kepada Gubernur Jabar saat lelang jabatan, yaitu konektivitas dan digitalisasi. Aplikasi ini menjadi titik tolak kami bertransformasi ke arah digitalisasi layanan. Ini akan jadi wajah baru pelayanan dishub agar lebih dekat dengan masyarakat,” ujarnya.

Tidak hanya Gubernur Jabar, Senapati juga ingin janji itu lekas ia rasakan. Pengembangan aplikasi ini sangat ia nantikan. Tak hanya jalur nasional saat mudik Lebaran, tetapi jalur rawan macet, rentan bencana, dan kawasan wisata hingga pelosok Jabar juga perlu pemantauan.

Jika terwujud, Jabar masuk golongan perintis daerah peduli publik berbasis teknologi. Asisten pribadi dalam genggaman.–MACHRADIN WAHYUDI RITONGA

Sumber: Kompas, 17 Juni 2019

Share
x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: