Home / Artikel / Antara Iptek dan Seni Budaya Bangsa

Antara Iptek dan Seni Budaya Bangsa

TULISAN ini diturunkan dengan memanfaatkan momentum peringatan ulang tahun ke-45 Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta, oleh karena kedudukan pendidikan tinggi tersebut sangat strategis di tengah sala satu pusat kebudayaan Indbnesia.

Istilah ilmu pengetahuan dan teknologi (lptek) dapat dikatakan mencakup sebagian besar disiplin ilmu, tetapi sesuai dengan maksud dan tujuan tulisan ini, maka Iptek di sini lebih banyak dikaitkan dengan disiplin ilmu, yang dapat dirangkum dalam pendidikan teknik dalam program S-3, S-2, S-1, S-0 atau bahkan dalam tingkat pendidikan menengah. Sedangkan seni budaya bangsa kiranya dapat diartikan secara utuh sebagai hasil kegiatan dan penciptaan akal batin manusia yang indah, yang dipergunakan untuk memahami lingkungan dan bagi kesejahteraan hidupnya maupun bangsanya.Tentu saja seni budaya bangsa juga mencakup aspek yang sangat luas, sehingga pembahasan di sun hanya akan dibatasi pada aspek, yang kiranya menyangkut Iptek tersebut di atas.

Dengan batasan-batasan tersebut, saling pengaruh antara iptek dan seni budaya bangsa yang akan dibahas adalah dari segi pembaharuan (innovation) dan sarana pencatatan, serta bagaimana pemanfaatannya bagi perkembangan Iptek dan seni budaya bangsa dalam kaitannya dengan pembangunan nasional.

Pembaharuan
Dunia selalu berubah dalam segala aspek dan ada indikasi bahwa laju perubahan dunia makin cepat, dengan makin makin dan tingginya Iptek yang dikuasai oleh manusia. Setiap perubahan yang dapat dikendalikan oleh manusia, umumnya merupakan perubahan ke arah pembaharuan dalam rangka memahami lingkungan dan memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dalam hal ini, yang akan dibahas lebih lanjut adalah Iptek yang merupakan salah satu sasaran pembaharuan tersebut.

Akan tetapi, upaya pembaharuan Iptek yang dianggap baik atau benar oleh pihak tertentu (terutama pelakunya), belum tentu diterima dengan baik atau bahkan dihambat oleh pihak lain baik karena ketidaktahuan ataupun karena perasaan, bahwa suaatu pembaharuan Iptek akan merugikan atau mengancam kedudukan/ kesejahteraannya (dalam arti luas, misalnya moral, materil, spirituil, dan sebagainya) yang sudah mapan/ baik, atau bisa juga karena merasa tidak sanggup mengikuti perubahan.

Untuk mendapatkan penerimaan yang baik secara sadar atau sukarela, maka para pembaharu Iptek menempuh berbagai cara, tergantung dari reaksi lingkungannya terhadap gagasan pembaharuannya, dan juga dari sikap dan kedudukan pembaharu itu sendiri. Apabila reaksinya lunak, maka proses pemasaran gagasan Iptek baru ini sederhana, tapi bila reaksinya makin keras, makin rumitlah proses pemasaran ini. Sebagai contoh, ada seorang ilmuwan yang dipaksa menarik kembali gagasannya (Galileo), dan sebaliknya banyak juga gagasan yang perlu diterapkan melalui peraturan atau undang-undang agar dilaksanakan oleh masyarakat.

Yang menarik untuk dibahas di sini adalah, bila pihak pembaharu Iptek menyajikan gagasannya dalam bentuk karya indah, dengan maksud agar tingkat menerimanya (acceptance) lebih tinggi. Konsekuensinya, makin keras reaksi pihak penghambat, harus makin halus, indah, dan agung karyanya. Bentuk karyanyapun dapat beraneka ragam, tergantung dari situasi dan kondisi yang ada, yaitu dapat berupa monument, candi, senjata, kendaraan, cerita, hikayat, legenda, tarian, musik, lukisan, dan sebagainya.

Pada saat disiplin Iptek belum seluas sekarang ini, kemampuan untuk memasarkan gagasan Iptek baru melalui karya seni masih bisa dimiliki oleh perseorangan. Misalnya, Leonardo da Vinci bisa menyajikan gagasannya untuk membuat mesin terbang melalui lukisan-lukisan dan pepatah/syair yang indah, karena ia berkualifikasi sebagai insinyur, ilmuwan, dan seniman. Demikian juga dengan para empu kita zaman dulu yang juga unggul dalam kemampuan spiritualnya. Dengan makin terspesialisasinya Iptek, makin diperlukan kerja sama berbagai disiplin untuk dapat menyajikan Iptek dalam bentuk seni budaya.

Sebaliknya apabila gagasan pembaharuan Iptek memang behar-benar sangat dirasakan manfaatnya oleh semua pihak, sehingga tingkat sikap penerimaanaya sangat tinggi, maka penyajiannya dalam bentuk karya indah kurang diperlukan lagi, misalnya jembatan layang, terminal kedatangan di Bandara Los Angeles, Bandara Charles de Gaulle, jaringan transmisi tegangan tinggi, traktor, dan sebagainya. Hal ini juga berlaku dalam lingkungan masyarakat yang sangat adaptatif terhadap setiap pembaharuan Iptek.

Dengan demikian, mungkin dapat dibuktikan, bahwa sebagian dari seni budaya bangsa merupakan sarana dari pembaharuan Iptek, yang dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan gagasan pembaharuan Iptek tersebut. Sebaliknya dapat dikatakan juga, bahwa Iptek yang sudah dikuasai dengan baik merupakan sebagian dari seni budaya bangsa.

Sarana pencatatan
Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, banyak sekali pengalaman, fenomena alam, dan permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Umumnya manusia berkeinginan untuk memahami lingkungannya atau memecahkan permasalahannya, dengan tujuan untuk memenuhi kesejahteraan hidupnya. Untuk, memenuhi keinginan tersebut, banyak upaya manusia yang dilakukan melalui pengembangan Iptek sesuai dengan kemampuannya pada zamannya masing-masing. Banyak Iptek yang berhasil dikembangkan untuk keperluan tersebut, yang kemudian berkembang menjadi Iptek yang dimiliki oleh manusia sekarang ini, tapi ada juga yang belum berhasil dikembangkan sampai saat in. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan, bahwa suatu Iptek penting telah hilang. Oleh sebab itu, manusia di setiap zaman berusaha untuk mencatat sampai di mana tingkat perkembangan Ipteknya.

Suatu contoh pencatatan pengalaman dan fenomena alam zaman lalu adalah peristiwa gempa bumi, hujan meteor, bintang berekor, halilintar, gerhana, banjir besar, dan sebagainya. Oleh karena Iptek saat itu belum mampu memahaminya, maka dibuatlah catatan yang tidak mudah dilupakan, yaitu dalam bentuk seni budaya yang indah berupa cerita rakyat legenda, tradisi, tarian, pahatan ukuran dan sebagainya, dengan harapan agar dapat digunakan sebagai rujukan bagi generasi mendatang untuk mempelajari dan memahaminya.

Ada juga suatu contoh keberhasilan penerapan Iptek dalam memecahkan permasalahan, misalnya penggunaan tombak dan kapak batu untuk berburu, yang kemudian dicatat dalam bentuk ukuran dalam gua atau dalam bentuk tarian, dengan maksud tersebut di atas. Akan tetapi, dalam rangka mengembangkan Iptek untuk suatu keperluan, kadang-kadang secara sengaja atau tidak terbukalah rahasia aIam, yang apabila dikembangkan akibatnya atau paling tidak dampaknya mungkin sangat merugikan, karena kemampuan Iptek manusia pada zaman itu belum sanggup untuk mengendalikannya.

Dalam menghadapi hal ini, ada orang yang ingin menaklukkan alam dengan menggali Iptek habis-habisan, sehingga nampaknya sangat maju di satu pihak, tapi di pihak lain menghasilkan dampak yang makin lama makin sulit dikendalikan, baik oleh generasi dia sendiri maupun generasi anak cucunya.

Tetapi, ada juga orang yang ingin menyatu serasi dengan alam serta mendekati Penciptanya, dengan memilih untuk menyimpan rahasia alam yang telanjur terbuka ini, dalam bentuk catatan sandi berupa karya seni budaya yang agung dan indah. Harapannya adalah agar di kemudian hari ada generasi penerus yang dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia, setelah Iptek yang dikuasainya mampu mengendalikannya.

Oleh sebab itu, sebagian dari seni budaya suatu bangsa mungkin juga berupa catatan peristiwa, pengalaman, fenomena alam, dan pemecahan permasalahan berdasarkan tingkat perkembangan Iptek dalam zaman yang bersangkutan.

Pemanfaatannya
Melalui pembahasan saling pengaruh antara Iptek dan seni budaya bangsa dari segi pembaharuan dan sarana pencatatan, dapatlah diambil manfaatnya dalam mengembangkan Iptek dan seni budaya bangsa, dalam rangka pembangunan nasional.

Setiap insan Indonesia yang memilih untuk berkecimpung dalam bidang Iptek, perlu memahami seni budaya bangsa. Dengan modal penguasaan Iptek dan pemahaman seni budaya bangsa, kita dapat menggali seni budaya warisan nenek moyang kita. Kita dapat mencoba memecahkan pesan-pesan Iptek yang mungkin disampaikan kepada generasi kita melalui candi, keris, gamelan, musik, tari, legenda, tradisi, dan sebagainya.

Mungkin kita dapat merekayasa kembali, apa Iptek yang dikuasai/ dikembangkan untuk membangun kerajaan-kerajaan besar di bumi Nusantara, dan Iptek apa yang tidak berhasil dikuasai atau tidak dikembangkan, sehingga kerajaan-kerajaan itu runtuh. Pengalaman yang dapat kita paroleh dari sini, selain dapat kita gunakan untuk mengembangkan Iptek modern dan memasyarkatkannya melalui seni budaya bangsa, juga dapat kita gunakan untuk membuktikan, bahwa bangsa yang mampu mengelola pembaharuan Iptek akan tetap tangguh dalam menghadapi perubahan dunia yang makin lama makin cepat.

Akan tetapi, perlu kita perhitungkan juga, bahwa para ahli Iptek zaman dahulu umumnya generalis sedangkan ahli Iptek zaman ini makin menjurus ke arah spesialis, sehingga upaya untuk penggalian, pengembangan maupun pemasyarakatan Iptek melalui seni budaya perlu dilaksanakan secara multidisipliner, untuk mencapai kualifikasi yang minimal sama dengan kualifikasi ahli Iptek zaman dahulu. Kerja sama multidisinliner ini kelihatannya rumit, tetapi akan dipermudah apabila tujuannya sama, yaitu mewujudkan kesejahteraan bangsa.

Manfaat lain yang didapat dengan mempergelarkan seni budaya bangsa, dengan dukungan Iptek, di seluruh penjuru Tanah Air, mungkin kita dapat mencontoh prestasi yang dicapai oleh kota kembaran Jakarta, yaitu Los Angeles. Kota Los Angeles dan sekitarnya dapat menarik sekitar 7 juta wisatawan
tiap tahun, tanpa menizinkan prostitusi dan judi. Yang ditawarkan adalah keunikan alamnya, yang memiliki pantai, gunung, padang pasir panas, dan salju di tempat yang tidak terpisah jauh, serta atraksi seni budaya Western yang didukung atau dipadukan dengan teknologi mutakhir, seperti yang terdapat di Palm Spring, Disneyland, Observatorium, dan sebagainya. Tentu saja masih ada faktor pendukung yang lain, seperti kesiapan masyarakatnya dalam hal keberhasilan ketertiban, keramahan, dan lain-lain.

Lagi pula, saling pengaruh antara Iptek dan seni budaya dapat menghasilkan perkembangan Iptek maupun seni budaya yang lebih terarah untuk kepentingan pembangunan nasional yang berkepribadian. Secara psikologis kita juga mendapatkan kebanggaan tersendiri sebagai pembawa misi yang penting, yaitu memasarkan pembaharuan serta membukakan lembaran catatan Iptek melalui seni budaya. Siapa tahu, hal ini akan berkembang menjadi saling asah, asih, dan asuh antarbangsa dan menjadi daya tangkal dampak negatif wisatawan dari mana pun.

Akhirnya, tulisan ini ditutup dengan ucapan selamat berulang tahun ke-45 kepada FT UGM. Semoga keberadaannya di tengah salah satu pusat kebudayaan bangsa, dapat senantiasa menghasilkan kombinasi Iptek dan seni budaya yang berdasarkan Pancasila dalam setiap diri alumni maupun masyarakat lingkungannya, sesuai dengan cita-cita yang terkandung dalam lambang “Surya Binolong”-nya.

Bambang Priambodo, dosen Institut Teknologi Indonesia, Universitas Trisakti, dan Atma Jaya, Jakarta

Sumber: Kompas, 20 Februari 1991

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak-anak muda. Jika ...

%d blogger menyukai ini: