Home / Berita / Antara Hasrat dan Logika Remaja

Antara Hasrat dan Logika Remaja

Bagi remaja, munculnya keinginan untuk mengenal lawan jenis dan hasrat seksual adalah hal wajar. Namun, sebagian besar remaja Indonesia tak memiliki bekal bagaimana mengelola dan mengendalikan dorongan itu. Akibatnya, mereka terjebak berbagai masalah di tahap kehidupan mereka selanjutnya.

Alexa (19), begitu ia ingin dipanggil, berpacaran sejak kelas II SMP. Saat itu remaja putri yang tinggal di Jakarta Pusat tersebut mulai mengenal konsekuensi menjalin relasi dengan lawan jenis. ”Kalau pacaran masa SD hanya karena suka-sukaan,” ucapnya, Senin (11/2/2019).

Pada pacaran pertama selama tiga bulan, Alexa dan pacarnya biasa berpegangan tangan dan menonton di bioskop bersama. Setelah putus, menginjak kelas III SMP, Alexa berpacaran dengan siswa SMA selama lima bulan. Saat berusia 15 tahun, ia berhubungan intim pertama kali dengan pacarnya. ”Aku percaya, ia sayang aku,” ujarnya.

Saat duduk di bangku SMA, ia berpacaran selama tiga tahun dengan teman sekolah dan ingin lebih serius. Ia beberapa kali berhubungan intim dengan pacarnya, kadang tak memakai pengaman.

Kini, Alexa memilih istirahat pacaran. ”Dulu, aku berpikir kalau berhubungan intim yang penting saling sayang. Kini, aku meluruskan pikiran. Pacaran jika memungkinkan berakhir dengan pernikahan. Hubungan badan tak utama karena kalau sayang, seharusnya menjaga pacar sampai menikah,” ujarnya.

Gaya pacaran Alexa berbeda dengan Erlan (22), mahasiswa tingkat akhir sebuah perguruan tinggi di Tangerang Selatan. Semasa SMA, ia berpacaran dua kali tanpa tujuan serius. Aktivitas pacaran umumnya mengobrol di kedai kopi. ”Pacaran untuk mencari teman bercanda atau berbagi,” katanya.

Sebagai mahasiswa, dana pacaran Erlan terbatas sehingga jarang mengajak pacarnya menonton film di bioskop. Biaya pacaran dari menyisihkan uang bulanan dari orangtua. Erlan mengaku aktivitas pacaran sebatas berciuman, tidak bertindak lebih jauh. Dorongan seksual ada, tapi ia berpikir risiko jika harus menikahi pacarnya karena hamil.

”Kerja belum, mau dikasih makan apa,” ujarnya. Karena itu, ia menargetkan, setelah bekerja, akan menikahi sang pacar, setidaknya saat ia menginjak usia 28 tahun. Terlebih, sang pacar yang umurnya tak terpaut jauh juga mendesak untuk segara dinikahi setelah kuliah selesai.

–Sumber : Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (SKAP KKBPK), 2018

Membangun relasi
Bagi sebagian besar orang Indonesia, gaya pacaran Erlan, apalagi Alexa, dipandang berlebihan, terlalu bebas, dan melewati batas. Namun, batas kegiatan yang boleh dilakukan atau tidak saat berpacaran bergantung pada nilai setiap individu dan keluarga.

Gaya pacaran remaja saat ini dipandang kian bebas. Padahal, remaja generasi sebelumnya melakukan hal sama. Bedanya, ”Kini remaja lebih berani memamerkan kemesraan di muka umum,” kata anggota Forum Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, Fransisca Agatha Widhaningtyas.

–Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional 2018, menunjukkan 70 persen remaja berpacaran. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 menyebut jumlah lebih besar, 81 persen remaja putri dan 84 persen remaja putra.

Cara remaja berpacaran umumnya mirip dengan persahabatan didasari rasa sayang. Mereka umumnya pergi dan beraktivitas bersama atau berpegangan tangan. Aktivitas pacaran dengan berciuman, apalagi berhubungan intim, kurang banyak dilakukan meski kecenderungannya terus naik.

–Sumber : Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (SKAP KKBPK), 2018

Gaya pacaran bebas membuat sebagian orang menentang itu, bahkan muncul gerakan Indonesia Tanpa Pacaran dilandasi nilai agama dan budaya. Penolakan gaya pacaran bebas juga muncul di sejumlah negara. Di Amerika Serikat pada 1997, Joshua Harris menerbitkan buku berjudul I Kissed Dating Goodbye, yang menolak pacaran bebas. Buku itu diterbitkan lagi pada 2003, tetapi banyak kritik akibat pandangan seksisme sehingga orang takut membina hubungan romantis.

Dosen psikologi klinis Universitas Bina Nusantara, Jakarta, yang meneliti relasi romantis anak muda, Pingkan CB Rumondor, menilai, pacaran atau tidaknya remaja bergantung nilai dalam keluarga. Namun, pacaran bisa jadi alat melatih remaja membangun hubungan serta menyayangi lawan jenis.

Sesuai perkembangan psikologis, masa remaja ialah masa pencarian identitas diri, termasuk menjalin relasi dengan orang lain. Dengan pacaran, remaja belajar membangun relasi dengan lawan jenis. Kemampuan menjalin relasi perlu dibangun sejak remaja agar saat membangun hubungan serius, mereka siap melakukannya.

Dalam membina hubungan itu tak hanya bisa dilakukan dengan pacaran. Jadi orangtua yang menolak pacaran perlu mencontohkan cara membangun relasi tanpa pacaran.

Kekhawatiran orangtua bahwa berpacaran menjerumuskan anak melanggar norma bisa dimaklumi. Pemberian batasan bisa dilakukan karena kemampuan berpikir logis remaja belum matang. Namun, pembatasan itu harus dengan alasan jelas karena remaja tak bisa dipaksa. Makin dilarang, mereka kian melawan.

”Pacaran pada remaja itu wajar mengingat mereka sudah puber, punya hasrat seksual dan keinginan mengenal lawan jenis,” kata Pingkan. Remaja perlu diajarkan mengelola hasrat itu agar tak melewati batas.

Nyatanya, banyak orangtua tak mengarahkan atau mendampingi anaknya berpacaran, termasuk mengajarkan hal terkait kesehatan reproduksi seperti menstruasi dan mimpi basah. Remaja umumnya mendapat informasi itu dari teman dan internet yang kebenarannya sulit dijamin.

Bagi orangtua, mengarahkan remaja berpacaran tak mudah. Berkomunikasi dengan remaja butuh keterampilan karena tarikan lingkungan pada remaja lebih besar dari keluarga.

Psikolog anak dan keluarga di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani, mengingatkan, orangtua perlu menginisiasi komunikasi dengan anak remajanya agar tak terjebak perilaku pacaran berisiko. ”Diskusi orangtua dan remaja harus berjalan dua arah,” katanya.

Di tengah kian terbukanya remaja dengan soal seksual dan rumitnya relasi orangtua dan remaja, sekolah berperan besar mengajarkan isu kesehatan reproduksi. Namun, di sekolah, isu seksualitas masih tabu diajarkan karena kuatnya pandangan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi mendorong pergaulan bebas. Sebagian sekolah mengajarkan itu dengan materi terbatas.

Padahal, seperti pengakuan Erlan, pendidikan kesehatan reproduksi membantu remaja memahami tubuh dan menjaga kesehatan. ”Pandangan pendidikan kesehatan reproduksi mendorong pergaulan bebas itu terlalu berlebihan,” ujarnya.

Materi pendidikan kesehatan reproduksi dinilai Abigail Aurelia (18), remaja putri di Jakarta Pusat, tak sesuai kebutuhan remaja. Materi yang pernah ia dapat mengajarkan dampak perilaku seksual berisiko, terutama penyakit-penyakit yang bisa ditimbulkan.

”Kami lebih butuh bagaimana cara mencegah pelecehan seksual,” katanya. Belum lagi, bagaimana perempuan berani berkata tidak saat ada laki-laki yang memaksa mereka berhubungan badan.

Ketua Bidang Perencanaan dan Pengembangan Forum Generasi Berencana Indonesia, BKKBN, Nanda Rizka Saputri menekankan pentingnya materi pendidikan kesehatan reproduksi dikonsultasikan dengan remaja. Materi harus sesuai kebutuhan remaja.

Remaja perlu didampingi melalui fase pencarian identitasnya dengan menjalani pacaran ataupun tidak. Orangtua dan sekolah bisa bekerja sama hingga remaja melewati masa remaja dengan baik dan siap saat tiba waktu menjalani hubungan romantis serius.

Tanpa pengetahuan dan pendampingan itu, remaja akan berhadapan dengan berbagai persoalan kesehatan dan sosial yang bakal menurunkan kualitas hidup mereka. Itu berarti mengurangi kualitas sumber daya bangsa. Karena pada remajalah, masa depan bangsa akan bergantung.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 17 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: