Home / Berita / Ancaman HIV Begitu Dekat

Ancaman HIV Begitu Dekat

Jika mayoritas remaja di daerah lain hanya mengenal penyakit infeksi menular seksual dan HIV/AIDS sebagai pelajaran di sekolah, kebanyakan remaja Papua, termasuk di Pegunungan Tengah, menghadapinya sebagai tantangan hidup sehari-hari. Tingginya kasus HIV dan perilaku seks berisiko membuat ancaman HIV/AIDS di Papua begitu nyata.

Salemi Wenda (18) dan Nikson Wenda, dua pelajar SMA di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, sekaligus pengajar sebaya atau peer educator HIV/AIDS, Rabu (25/2), berkumpul bersama teman-teman mereka dari sejumlah SMA di Tiom, ibu kota Kabupaten Lanny Jaya. Mereka tergabung dalam kelompok Sahabat Sumber Informasi.

Kelompok yang diinisiasi Wahana Visi Indonesia, organisasi kemanusiaan mitra World Vision International, itu rutin mengadakan pertemuan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait sosialisasi HIV/AIDS di kalangan remaja. Kampanye HIV/AIDS itu juga dilakukan melalui Radio Voice of Baliem Children di Wamena.

Kasus HIV/AIDS di Papua memang perlu mendapat perhatian serius. Laporan Perkembangan HIV/AIDS Triwulan III-2014 Kementerian Kesehatan menunjukkan, 16.051 orang di Papua terinfeksi HIV atau menduduki peringkat ketiga setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur. Namun, prevalensi HIV di Papua berdasarkan Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku 2013 merupakan yang tertinggi di Indonesia sebanyak 2,3 persen.

f0d1e78f427e40a98bc75d56055090c4Yanius mengisap lem berefek memabukkan di Pasar Jibama, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (30/4/2012). Kalangan remaja di Papua terpapar pengaruh buruk dari luar daerah, termasuk mengisap lem dan perilaku seks berisiko sejak dini. Mereka juga rentan terjangkit penyakit menular seksual dan infeksi HIV.—KOMPAS/AGUS SUSANTO

Kondisi AIDS lebih menyedihkan. Jumlah orang dengan AIDS terbanyak di Indonesia ada di Papua, yakni 10.184 orang atau hampir seperlima kasus AIDS yang dilaporkan di semua wilayah di Indonesia. Dari 100.000 penduduk Papua, 359 orang di antaranya terkena AIDS. Itu artinya, prevalensi AIDS di Papua 15 kali lebih besar dibandingkan dengan prevalensi nasional yang hanya 23 orang per 100.000 penduduk.

Berisiko tertular
Mereka yang terkena HIV/AIDS tersebut tersebar di semua wilayah Papua, termasuk Pegunungan Tengah yang meliputi sejumlah kabupaten. Meski sebagian besar orang dengan HIV/AIDS (ODHA) berumur 20-40 tahun, angka kasus itu di kalangan remaja berusia 15-19 tahun juga banyak. Pemicunya terutama berasal dari hubungan seksual.

Di kalangan remaja Pegunungan Tengah, sebagian dari mereka rentan berhubungan seks sejak SMP setelah mereka mengenal ketertarikan kepada lawan jenis dan mulai berpacaran. Apalagi, peredaran video porno, khususnya lewat telepon seluler, kian marak. ”Setelah melihat video porno, banyak teman ingin melakukannya,” kata Salemi, siswa kelas XII IPA SMA YPK Betlehem, Wamena.

Kondisi tersebut diakui Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Jayawijaya Johanis Lobja. Menurut dia, sejumlah pelajar SMP menderita penyakit infeksi menular seksual, gerbang menuju penularan HIV. Namun, belum ada laporan anak-anak SD menderita penyakit itu.

Selain penyakit, perilaku seks berisiko membuat banyak remaja putri rentan terhadap kehamilan tidak diinginkan. Kehamilan tersebut bisa membuat mereka menghadapi persoalan baru, mulai dari ketiadaan pertanggungjawaban dari pasangan, tuntutan dari keluarga untuk melakukan aborsi, hingga rentetan risiko kematian karena aborsi tidak aman ataupun akibat kehamilan pada usia amat muda.

”Sebagian remaja yang memilih meneruskan kehamilannya umumnya anaknya akan diasuh orangtua sang remaja,” kata Merry Yigibalom (16), pelajar SMA Negeri 1 Tiom.

Laporan Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2006 menyebutkan, makin tingginya kecenderungan penduduk usia 15-24 tahun yang berhubungan seks pertama pada usia 15 tahun dibandingkan dengan kelompok umur lain. Kondisi itu diperparah dengan rendahnya kesadaran untuk memakai kondom. Hanya 2,8 persen warga Papua yang menggunakan kondom.

Pengawasan lemah
Selain dipicu perilaku seksual berisiko, lemahnya pengawasan orangtua turut memberi andil. Perilaku tersebut, menurut Salemi, juga didukung banyaknya rumah kosong, luasnya wilayah dengan lokasi permukiman berjauhan, dan ada tekanan pergaulan yang menganggap mereka yang belum berhubungan seks sebagai pribadi lemah.

Perilaku itu juga didorong oleh pemahaman keliru tentang budaya tukar gelang. Pendeta Tibet Yikwa dari Gereja Kemah Injil Indonesia mengatakan tukar gelang sejatinya merupakan media untuk saling mengenal di antara para bujang suku Dani di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah, Papua.

Semula, tukar gelang adalah upaya penghiburan pada rangkaian upacara kematian atau sejumlah kegiatan adat lain, seperti peresmian rumah baru. Hal itu bertujuan memperkuat kekerabatan dan pelaksanaannya diawasi orangtua, tokoh adat, dan tokoh agama karena mereka yang bertukar gelang tak boleh berasal dari kelompok marga yang sama.

”Dari tukar gelang itu, jika ingin diteruskan ke hubungan pacaran atau pernikahan, terserah ke setiap pasangan dan keluarga,” ujarnya.

Kini, sebagian remaja bertukar gelang secara diam-diam dan pada berbagai kesempatan. Maknanya pun sudah bergeser menjadi upaya mencari pasangan, termasuk mencari pasangan yang bisa diajak berhubungan intim. Bahkan, kini kegiatan tersebut diwarnai perjudian.

”Sekarang sudah terjadi distorsi. Tukar gelang menjadi bermakna sangat buruk yang mencederai gereja dan budaya,” kata Ketua Lembaga Penguatan Kearifan Lokal Jayawijaya Papua Niko Lokobal.

Apa pun penyebabnya, remaja Papua harus segera diselematkan dari penyakit-penyakit infeksi menular seksual dan HIV/AIDS. Pengetahuan tentang perilaku seks yang aman harus terus dikampanyekan agar tulang punggung pembangunan Papua pada masa depan itu tetap sehat dan produktif.—–M ZAID WAHYUDI
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Mei 2015, di halaman 14 dengan judul “Ancaman HIV Begitu Dekat”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: