Home / Berita / Alam, Inspirasi Belajar yang Tak Habis-habisnya

Alam, Inspirasi Belajar yang Tak Habis-habisnya

Hampir dua dekade sekolah alam mewarnai sistem persekolahan di Indonesia. Awalnya sekolah ini dianggap aneh karena bentuk dan gaya belajarnya nyleneh. Namun, di balik itu, sebenarnya pendidikan jenis ini hendak mengembangkan karakter, logika, dan kepemimpinan anak dengan cara belajar yang menyenangkan.

Mendekati alam dan menjadikan alam sebagai sumber inspirasi belajar adalah keseharian iklim belajar siswa di sekolah alam. Ada “kebebasan” yang membuat siswa merasa senang belajar. Mereka diajak untuk mengeksplorasi, mengalami, bukan sekadar membaca buku teks pelajaran yang hampir seragam di Indonesia.

Suasana sekolah alam itu bukan dihadirkan untuk siswa semata, melainkan juga pengelola sekolah dan guru. Setidaknya itu tergambar dari Jambore Sekolah Alam Nusantara III di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, pertengahan Oktober lalu, yang diikuti sekitar 180 pengelola dan guru dari 56 sekolah alam yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JASN). Kegiatan yang berpusat di pantai di Laguna Helau itu sekaligus menyuntikkan spirit untuk menghayati potensi besar kemaritiman di Nusantara.

Deru ombak pagi mengiringi pembukaan jambore yang digelar di alam terbuka. Kegiatan diskusi dilangsungkan di rumah panggung terbuka. Aktivitas kelompok dilakukan di sekitar pantai berpasir putih dan dikelilingi pepohonan hijau.

Permainan sambil belajar tidak lepas dari keseharian belajar sekolah alam. Para guru dalam jambore diperkenalkan dengan pengembangan baru dalam memperkuat karakter, kepemimpinan, dan kecakapan siswa lewat program Sekolah Alam Student Scouting.

d791da0bf36a4108bce4b27f3899722aKOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Para guru dan pengelola sekolah alam dari sejumlah daerah di Indonesia mengeksplorasi cagar alam Anak Gunung Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan saat Jambore Sekolah Alam Nusantara, pertengahan Oktober lalu. Di sekolah alam, pembelajaran dikembangkan melalui pengalaman bersentuhan langsung dengan alam.

Para guru dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan aktivitas luar ruang. Ada pos untuk menguji kebugaran fisik dengan berlari. Ada pula pengalaman menentukan navigasi, mulai dengan memanfaatkan jam analog, membaca kompas, atau dengan arah bayangan. Ada juga beragam permainan tradisional, mulai dari gobak sodor hingga belajar memanah atau melempar kapak.

“Metode pendidikan dengan permainan efektif sebab dunia anak adalah bermain, apalagi di alam terbuka. Karakter asli anak muncul karena seluruh panca indera terlibat,” kata Cahya Jaelani, pengembang program Sekolah Alam Student Scouting.

Permainan yang menggabungkan pramuka dan outbound ini diarahkan untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kecakapan siswa. Guru ditantang untuk melakukannya sebelum mengembangkannya di sekolah masing-masing.

Penyelenggaraan Jambore Sekolah Alam Nusantara mempertemukan pengelola dan guru sekolah alam dari sejumlah daerah untuk saling berbagi. Hal itu juga untuk membangun keyakinan bahwa pilihan penyelenggaraan sekolah alam telah memberi inspirasi untuk menghadirkan sekolah yang bukan sekadar “bangunan”, melainkan menghidupkan semangat belajar sepanjang hayat di dalam diri anak.

“Indonesia banget”
Lendo Novo, penggagas sekolah alam, yang hadir dalam jambore, mengatakan, sekolah alam dihadirkan untuk mewujudkan model pendidikan yang “Indonesia banget”. Sekolah jenis itu menggambarkan potensi negeri ini. Sekolah alam pertama kali didirikan di Ciganjur, Jakarta Selatan, tahun 1998. Dimulai dengan delapan siswa. Lalu, Lendo mengembangkan School of Universe di Parung, Kabupaten Bogor. Konsep sekolah alam lantas berkembang ke seluruh Nusantara.

Sekolah alam hadir dengan ruang-ruang kelas terbuka, bangunan ramah lingkungan, bahkan kadang saung sederhana. Anak bebas mengeksplorasi alam untuk belajar dan sering tidak diwajibkan mengenakan pakaian seragam. Semua itu membuat sekolah alam dianggap aneh. Namun, kini sekolah jenis ini kian diminati karena melahirkan anak-anak yang senang belajar dan mandiri.

Lendo Novo meyakini, keberhasilan sekolah alam bukan soal karena infrastruktur, melainkan lantaran didukung guru berkualitas, metode belajar yang tepat, dan buku sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Ini bisa sangat murah asalkan para guru memiliki idealisme tinggi.

Dalam pembelajaran, siswa diajak melakoni serangkaian kegiatan pengamatan dan pengalaman, yang kemudian diteorikan. Hal itu berbeda dengan sekolah umum, yang lebih mengutamakan siswa untuk membaca buku pelajaran, baru kemudian diamalkan. Sekolah alam membentuk karakter siswa dengan metode teladan. Logika dikembangkan dengan metode belajar bersama alam. Sifat kepemimpinan diperkuat lewat outbound training. Naluri wirausaha dipertajam melalui magang dan belajar dari ahlinya.

Citra Persada, pendiri Sekolah Alam Lampung, mengatakan, sekolah alam menekankan hidup ramah lingkungan di setiap aktivitas pembelajaran. Pembentukan karakter diutamakan dengan pengalaman langsung. Guru harus tampil sebagai teladan.

Dalam jambore, para guru memberi contoh untuk tidak membuang sampah sembarangan. Setiap orang membawa botol minuman yang bisa berulang kali dipakai. Setelah makan, para guru meletakkan piring kotor di tempatnya. Sikap keseharian seperti itulah yang coba dibangun di sekolah alam.

“Belajar itu lebih dari sekadar mencari nilai, tapi membentuk karakter, logika, kepemimpinan, dan kemandirian,” kata Citra.

Menurut Ketua JASN Nurul Khamdi, sekolah alam berkembang untuk menjadi gerakan menyelamatkan generasi muda. Sekolah alam ingin memajukan peradaban Indonesia dengan mengembangkan nilai-nilai positif dalam diri anak.

(ESTER LINCE NAPITUPULU)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 November 2015, di halaman 10 dengan judul “Alam, Inspirasi Belajar yang Tak Habis-habisnya”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...