737 Max, Menggoyang Simbol Kejayaan Boeing

- Editor

Selasa, 9 April 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pesawat jet seri 737 menjadi produk favorit dan amat dibanggakan oleh Boeing. Sampai akhirnya mimpi buruk datang, ketika 737 MAX—keluarga terbaru 737—mengalami dua kali kecelakaan, yang berbuntut pelarangan jet itu.

Dari dua kali berkunjung ke pabrik pesawat Boeing di Everett dan Renton di luar kota Seattle, Negara Bagian Washington, AS, kesan yang muncul sama, yaitu bahwa pabrik ini menjadi salah satu simbol kejayaan Amerika, khususnya dalam teknologi canggih kedirgantaraan.

Jika dominasi Silicon Valley telah dirongrong oleh Korea Selatan dan China, dominasi Everett pun sebenarnya sudah dipatahkan oleh Toulouse yang memproduksi jet-jet badan lebar Airbus. Tetapi, di bidang jet komersial badan lebar, sosok Boeing tetap tinggi menjulang. Sampai dioperasionalkannya Airbus A-350 yang memberi kesempatan operatornya untuk menciptakan inovasi layanan (seperti SQ yang menggunakannya untuk penerbangan nonstop Singapura-New York), Boeing 777-300ER bisa dikatakan merajai penerbangan komersial jarak jauh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/NINOK LEKSONO–Pabrik Boeing di Everett, di luar kota Seattle, Negara Bagian Washington, AS, tempat jet besar Boeing diproduksi. Sementara Boeing 737 dibuat di pabrik Renton yang terpisah sejauh sekitar 60 kilometer dari Everett. Foto dibuat bulan Agustus 2015.

Boeing juga punya mahakarya amat mengesankan, yakni 787 Dreamliner. Pesawat yang kabinnya dirancang bertekanan udara lebih baik dibanding kabin-kabin pesawat lain ini membuat penumpang jarak jauh tak akan merasa amat kelelahan karena pesawat lebih nyaman.

Di luar itu, Boeing punya produk favorit dan amat dibanggakan, yakni pesawat regional seri 737. Boeing yang sebelumnya dikenal sebagai pembuat jet besar, dengan 737 yang diperkenalkan pada dunia tahun 1967 ini, ia lalu juga dikenal sebagai pembuat “Baby Boeing”. Pesaingnya waktu itu adalah DC-9 dan BAC 1-11.

Namun, Boeing 737 terus meraih sukses, sehingga tahun 1987 ia menjadi pesawat yang paling banyak dipesan di dunia. Setelah generasi awal sukses dengan seri 100 dan 200, di tahun 1990-an diproduksi seri 300, 400, dan 500. Pada dekade itu pula, Boeing mulai mengembangkan Next Generation, yang lalu diproduksi seri 600, 700, 800, dan 900.

Adapun 737 adalah keluarga terbaru dari jet bergang tunggal ini, terdiri dari MAX 7, 8, dan 9. Ada juga MAX 200, varian yang dibuat berbasis MAX 8.

STEPHEN BRASHEAR/GETTY IMAGES/AFP–Seorang pekerja menuruni tangga keluar dari sebuah pesawat Boeing 737 MAX di Renton, Negara Bagian Washington, AS, Kamis (14/3/2019).

Didukung oleh desain struktur lebih efisien, serta lebih kurang membutuhkan pemeliharaan, jet ini diharapkan bisa memberi penghematan besar pada operatornya. Teknologi mesinnya pun senyap, sehingga tapak kebisingan operasional dan emisinya 50 persen di bawah yang ditetapkan Komite Perlindungan Lingkungan Penerbangan pada Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).

Fasilitas produksi 737 di Renton memproduksi 52 pesawat per bulan, dan hingga saat terakhir berencana meningkatkan produksi hingga 57 pesawat per bulan pada tahun 2019 ini. (Laman Boeing Co)

Kisah sukses 737, juga 777, dan juga 787, seirama dengan isi buku Flying High karya Eugene Rodgers yang mengisahkan riwayat Boeing (1996). Perusahaan yang didirikan oleh William Edward Boeing tahun 1916, saat Perang Dunia I, ini memproduksi pesawat pengebom yang memainkan peranan kunci dalam Perang Dunia II.

Namun, kejayaan di masa perang tak diikuti dengan era sesudah perang. Kontrak surut dan perusahaan nyaris bangkrut.

Nasib berubah setelah Boeing memproduksi jet penumpang pertama—seri 707 pada tahun 1950-an. Dari sukses itulah, Boeing berani melangkah pada tahun 1960-an untuk mendesain jet jumbo 747. Sejarah mencatat, meski harus melalui sejumlah ujian, Boeing meraih kejayaan dengan jet 747.

FILE PHOTO: A Boeing 747-8i plane of German air carrier Lufthansa lands at the airport in Frankfurt, Germany, February 12, 2019. REUTERS/Kai Pfaffenbach/File Photo

REUTERS/KAI PFAFFENBACH/FILE PHOTO–Pesawat Boeing 747-8i milik maskapai Jerman, Lufthansa, mendarat di bandar udara Frankfurt, Jerman, 12 Februari 2019. Meski melalui sejumlah ujian, Boeing meraih kejayaan dengan jet 747.

Dari Karawang ke Addis Ababa
Namun, kita lalu ingat pepatah, “Manusia berencana, Tuhan menentukan.” Boeing 737 MAX yang didukung mesin LEAP-1B yang tidak berisik, dengan ujung sayap terbelah, serta kelengkapan dan sistem modern lain, hari-hari ini justru tengah terpuruk. Operator dan negara-negara pengguna kini melarang terbang 737 MAX menyusul musibah jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines yang membawa 157 penumpang dan awak, Minggu (10/3/2019), di dekat ibu kota Addis Ababa, dan sebelumnya jet Lion Air pada 29 Oktober 2018 yang menewaskan 189 penumpang dan awak di perairan Karawang.

Larangan bukan saja untuk menerbangkan pesawat oleh maskapai operator, tetapi juga larangan untuk menerbangkan pesawat tersebut melewati wilayah udara negara lain. Larangan diberlakukan sampai ada kejelasan mengenai sebab musabab kecelakaan dan, yang tidak kalah penting, kejelasan mengenai keamanan 737 MAX itu sendiri.

Kedua kecelakaan di atas tak ayal menjadi mimpi buruk Boeing, yang puncaknya terjadi ketika Rabu (13/3/2019) Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan pelarangan serupa menyusul menguatnya tekanan dari berbagai pihak karena khawatir atas keselamatan penumpang. “Keselamatan rakyat Amerika dan semua warga lain merupakan pertimbangan tertinggi,” ujar Trump di depan wartawan Gedung Putih.

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat ditanya wartawan seputar pelarangan terbang 737 MAX di Indonesia.

In this image from video taken on Tuesday, March 12, 2019, a Boeing 737 Max 8 aircraft is in hangar before the inspection at Garuda Maintenance Facility at Soekarno Hatta airport, Jakarta. The Indonesian Transport Ministry on Tuesday conducted inspections of 737 Max 8 aircraft owned by Garuda Indonesia and Lion Air. (AP Photo)

AP PHOTO–Dari gambar yang diambil dari tayangan video pada 12 Maret 2019, tampak sebuah pesawat Boeing 737 Max 8 di hangar sebelum diperiksa di Garuda Maintenance Facility di bandar udara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Dari pengamatan atas musibah pesawat Ethiopia dan musibah Lion, para ahli penerbangan mengatakan, kedua musibah serupa, misalnya saja kejadiannya hanya beberapa menit setelah pesawat tinggal landas, lalu pilot meminta izin untuk kembali ke bandara asal karena pesawat bermasalah.

Sementara itu, memperkuat pertimbangan pelarangan, Badan Penerbangan Federal AS (FAA) menyebutkan bahwa keputusan diambil menyusul ditemukannya bukti baru yang dikumpulkan di dekat lokasi kecelakaan di dekat ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, serta data yang diperoleh dari satelit. (AFP, 13/3/2019)

MCAS dan fokus penyelidikan
Dari profil penerbangan jet Ethiopia dan jet Lion, para ahli, juga didukung oleh sejumlah pilot Amerika, menunjuk pada pola gerakan 737 MAX. Menurut sedikitnya empat pilot Amerika, pesawat cenderung menukik tak lama setelah lepas landas. Sebagian pilot lain lalu menghentikan sistem autopilot dan mengoreksi lintasan pesawat.

Dari musibah Lion, satu hal yang lalu menjadi pusat perhatian adalah sistem pencegah stall otomatik, dikenal dengan nama MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System), yang memang dirancang untuk secara otomatis untuk menundukkan hidung pesawat manakala ada bahaya stall. Dari penyelidikan FDR (perekam data penerbangan), pilot LION JT 610 berjuang untuk mengendalikan pesawat ketika sistem MCAS berulang kali mendorong hidung pesawat untuk menukik setelah tinggal landas. Bahwa akhirnya pesawat jatuh, hal ini menandakan pilot kalah dalam menaklukkan perangkat lunak yang dipasang Boeing pada pesawatnya. (AFP, 13/3/2019; Bloomberg, 24/11/2018)

AP PHOTO/TED S. WARREN–Seorang pekerja berjalan melewati mesin pesawat Boeing 737 MAX 8, yang dibuat untuk maskapai American Airlines di pabrik Boeing di Renton, Negara Bagian Washington, AS, 13 Maret 2019.

Terkait dengan inilah Boeing sempat dikritik karena tidak cukup menginformasi pilot 737 tentang mekanisme kerja sistem antistall yang dipasang pada jet tersebut. Boeing sendiri memasang sistem di atas untuk mengompensasi dampak pemasangan mesin yang berukuran lebih besar lebih maju ke depan dan lebih ke atas. Roda pendarat pun diperpanjang 20 sentimeter. Meski sedikit, perubahan ini mengubah postur (737 MAX lebih mendongak ke atas) dan mengubah handling pesawat. Sistem dimaksudkan membantu pilot menurunkan hidung pesawat manakala sudut serang (angle of attack) terlalu besar saat terbang manual. (The AirCurrent, Jon Ostrower, 13 Nov, 2018)

Masih ditunggu, apakah belum terkoordinasinya kerja sistem antistall MCAS dan pilot yang akan jadi fokus upaya penyempurnaan 737 MAX oleh Boeing, atau aspek yang lain. Yang jelas, banyak pihak yang menunggu kejelasan dari pihak Boeing. Sebagian terkait dengan kerugian yang harus ditanggung operator saat pesawat dilarang terbang.

Boeing mau tak mau harus berpikir keras untuk memecahkan masalah ini, mengingat ada sekitar 350 737 MAX yang sudah terjual, dan lebih dari 5.000 pesawat yang sudah dipesan oleh 100 maskapai untuk pesawat yang satunya berharga 121,6 juta dollar AS ini.–NINOK LEKSONO

Editor MUHAMMAD SAMSUL HADI

Sumber: Kompas, 16 Maret 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 8 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB