Home / Berita / 515 Spesies Hewan Vertebrata di Ambang Punah

515 Spesies Hewan Vertebrata di Ambang Punah

Sebanyak 515 spesies hewan vertebrata darat berada di ambang kepunahan, dan 77 spesies mamalia serta burung telah telah hilang pada satu abad terakhir. Proses kepuhanan semakin cepat akibat ulah manusia.

Penyusutan keanekaragaman hayati akibat ulah manusia terjadi semakin cepat dan jika ini terus berlanjut, Bumi akan semakin kehilangan daya dukungnya untuk kehidupan. Sebanyak 515 spesies hewan vertebrata darat berada di ambang kepunahan, dan 77 spesies mamalia serta burung telah telah hilang pada satu abad terakhir. Ancaman kepunahan spesies juga terjadi di Indonesia.

Semakin cepatnya laju kepunahan spesies secara massal ini dilaporkan dalam studi gabungan oleh ekolog Gerardo Ceballos dari Universitas Nasional Autonomous Meksiko, dan Paul R. Ehrlich dari Universitas Stanford, dan Peter H. Raven dari Missouri Botanical Garden di jurnal PNAS pada 1 Mei 2020.

Disebutkan dalam kajian ini, tingkat kepunahan di antara spesies vertebrata darat secara signifikan lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, dan jendela kritis untuk mencegah kehilangan mereka akan menutup lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya, yaitu dalam 10 hingga 15 tahun.

“KIta mengikis kemampuan planet ini untuk mempertahankan kehidupan, termasuk juga kehidupan manusia,” kata Gerardo Ceballos.

Sejauh ini 543 spesies telah hilang selama 100 tahun terakhir. “Setiap tahun selama abad terakhir kita kehilangan jumlah spesies yang sama yang biasanya hilang dalam 100 tahun,” kata Ceballos.

Dalam kajian ini, peneliti juga memeriksa kondisi populasi dari 29.400 spesies vertebrata yang berada di ambang kepunahan sesuai daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Ditemukan, Sebanyak 515 spesies di tepi jurang kepunahan atau 1,7 persen dari vertebrata yang dievaluasi. Sebagian besar fauna ini berad di wilayah tropis.

Spesies ini dianggap berada di jurang kepunahan karena anggota populasinya kurang dari 1.000 individu. Bahkan, sekitar setengah dari spesies ini terdiri dari kurang dari 250 individu. Dengan jumlah ini, dipastikan spesies tersebut tidak akan bisa lagi bertahan di masa depan.

Para peneliti juga memeriksa spesies dengan populasi antara 1.000 dan 5.000. Ketika para ilmuwan menambahkan 388 spesies itu ke dalam analisis aslinya, ditemukan bahwa 84 persennya memiliki ruang hidup yang tumpang tindih dengan spesies dalam kelompok yang terancam punah.

Padahal, satu spesies yang punah cenderung mempengaruhi pemusnahan spesies lain yang memiliki interaksi ekologis. Oleh karena itu, para peneliti menyimpulkan, laju pemusnahan fauna vertebrata ke depan akan semakin cepat.

Hasil kajian ini semakin menguatkan peringatan dari panel ahli Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) di bawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini tahun lalu tentang 1 juta spesies yang menuju kepunahan. Padahal, laju kepunahan ragam hayati ini telah berdampak pada keberlangsungan hidup seluruh makhluk di bumi, termasuk manusia (Kompas, 8 Mei 2019).

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA—Penjaga hewan Ponasri membawa bayi singa putih yang diberi nama Gisel keluar dari kandang untuk dijemur di Taman Safari II Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (4/6/2020). Gisel lahir pada 8 April 2020. Saat ini koleksi singa putih di Taman Safari II menjadi enam ekor.

Kondisi di Indonesia
Ancaman kepunahan spesies fauna juga terjadi di Indonesia. Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Cahyo Rahmadi menyebutkan, sejauh ini sudah lima taksa di Indonesia yang diketahui telah punah, tiga di antaranya mamalia, yaitu harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), harimau bali (Panthera tigris balica), dan tikus raksasa Timor (Coryphomys buehleri).

Cahyo menambahkan, mengacu pada data LIPI dan daftar merah IUCN , dari 720 spesies mamalia di Indonesia, sebanyak 193 di antaranya terancam punah. Sedangkan untuk burung, dari 1.605 spesies yang ada di Indonesia, 160 di antaranya terancam punah. Untuk amfibi, dari 385 spesies di Indonesia, 37 yang terancam punah, reptil dari 723 sebanyak 30 terancam punah, dan ikan dari 4.724 sebanyak 168 yang terancam punah.

Berdasarkan kajian Gerardo Ceballos dan timnya, kehilangan satu spesies akan mempengaruhi suatu ekosistem. Dicontohkan, menyusutnya spesies merpati liar (Ectopistes migratorius) yang dulu berjumlah miliaran telah memicu ledakan populasi tikus putih (Peromyscus leucopus) yang menjadi reservoir alami untuk bakteri yang menyebabkan penyakit Lyme.

Ini disebabkan, merpati liar yang mengonsumi biji-bijian ternyata menjadi pesaing dalam rantai makanan sehingga membatasi pertumbuhan populasi tikus putih. Begitu pesaingnya hilang, populasi tikus putih akan meledak. Terjadinya ledakan hama dan penyakit juga bisa dijelaskan dengan mekanisme terganggungnya keseimbangan ekosistem ini.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 5 Juni 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: