Home / Berita / Astronomi / 50 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonesia, Memenuhi Panggilan Alam Raya

50 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonesia, Memenuhi Panggilan Alam Raya

HALL of Astronomers, inilah satu bagian dari situs Internet yang mengasyikkan untuk dibaca. Di sinilah orang dapat mengenal para astronom-orang yang mempelajari alam semesta dan segala obyek yang dikandungnya-dari masa ke masa, dari astronom yang mempelajari Bulan, planet, dan anggota Tata Surya lain, hingga mereka yang
mempelajari warna dan kecerlangan bintang, serta mereka yang mempelajari benda-benda nan jauh di tepian Alam Semesta dan yang eksotik seperti bintang hantu atau lubang hitam (black hole).Misalnya saja ada Aristoteles (384-322 Sebelum Masehi), filsuf Yunani yang menyusun teori tentang astronomi. Ia lah pemikir yang tanpa melakukan pengamatan menduga, bahwa-karena lingkaran merupakan bentuk sempurna-alam semesta juga berbentuk bola (sferik), berhingga, dan berpusat di Bumi.

Lalu Nicolaus Copernicus (1473-1543), astronom amatir asal Polandia yang mengembangkan konsep Tata Surya, di mana bukan Bumi sebagai pusat, tetapi Matahari.

Lalu pada bagian modern, ada misalnya Subrahmanyan Chandrasekhar (kelahiran Lahore, India, 1910, meninggal di Chicago 1955). Ia lah ahli astrofisika India-Amerika yang mempelajari fisika bintang dan evolusinya dan menyadari, bahwa jalan atau nasib kematian bintang bergantung pada massa (atau bobotnya). Chandrasekhar menetapkan massa limit (yakni 1,4 massa Matahari), yang di atas itu bintang akan mengakhiri hidupnya dengan keambrukan ekstrem, bukan menjadi bintang katai putih.

Tentu saja masih banyak astronom besar lain-seperti penemu planet, peneliti galaksi, penggagas teori bintang hantu, dan sebagainya-yang menghiasi galeri ini. Misalnya saja ada Edwin Hubble, juga Arthur Eddington, dan masih banyak lagi.

Itulah di antara nama-nama harum dalam studi mengenai alam semesta dan isi yang dikandungnya.
Indonesia juga-tergolong unik untuk negara-negara berkembang ternyata juga memiliki pendidikan untuk melahirkan astronom, dan secara formal pendidikan itu-pada bulan Oktober 2001 ini-telah mencapai usia setengah abad. Akhir pekan ini, tonggak dimulainya pendidikan formal astronomi di Indonesia ini diperingati dengan
serangkaian acara di ITB dan Observatorium Bosscha, Lembang.

Satu-satunya
Dewasa ini, pendidikan astronomi ITB masih merupakan satu-satunya pendidikan formal astronomi modern di Indonesia. Menurut riwayatnya, pendidikan ini diawali dengan pengukuhan Dr GB van Albada sebagai Guru Besar Astronomi dan penyerahan Observatorium Bosscha kepada Pemerintah Indonesia pada tanggal 18 Oktober 1951. (Catatan: Observatorium Bosscha sendiri berdiri tahun 1928 setelah mulai dibangun tahun 1923 oleh pemrakarsa dan penyandang dananya, Karl Albert Rudolf Bosscha, pengusaha perkebunan teh di Malabar, Jawa Barat yang kaya raya).

Meski jerih payah para pendahulu dalam memperjuangkan eksistensi institusi astronomi dan mengembangkannya hingga mencapai usia 50 tahun dipandang amat membanggakan, pihak yang kini sehari-hari mengelola lembaga dan pendidikan itu juga menyadari bahwa untuk masyarakat negara berkembang seperti Indonesia, bidang astronomi masih sering dipandang sebagai ilmu yang kurang relevan dan sulit dipahami, apalagi di masa krisis seperti sekarang ini, di mana sebagian besar urusan direduksi menjadi survival dan kebutuhan dasar.

Meskipun demikian, astronomi secara alamiah akan hidup terus karena ia berkaitan dengan fenomena alam, yang terhampar luas di atas langit Indonesia, negara dengan rentang geografis besar, dengan histori cukup panjang dalam pengamatan benda-benda angkasa.

Bila di zaman dulu, pengetahuan tentang perbintangan dimanfaatkan, misalnya, oleh petani yang acap mengacu pada rasi bintang Waluku (Orion) untuk mengerjakan pertanian, atau rasi Bintang Salib Selatan (Southern Crux) untuk pelayaran, kini manusia memanfaatkan astronomi selain untuk mengembangkan pengetahuan tentang benda-benda langit dan alam semesta-olah pikir yang penting untuk mengolah kecerdasannya-studi bidang ini diharapkan juga dapat memicu kemajuan di bidang lain, mulai dari kegiatan eksplorasi antariksa, yang
berikutnya juga akan memicu penemuan dan kegiatan di bidang yang lebih praktis.

Kini, setelah eksis selama 50 tahun, Jurusan Astronomi ITB telah menghasilkan 150 alumni-rincian di bawah-yang juga telah memberikan sumbangan di bidangnya masing-masing.

Di lingkungan astronomi Indonesia, masyarakat mengenal astronom senior seperti Prof Dr Bambang Hidayat (yang dikenal sebagai penelaah struktur galaksi), Dr Jorga Ibrahim (yang bergerak dalam lapangan kosmologi-matematika teoretis), Dr Winardi Sutantyo (yang menaruh perhatian besar pada teori evolusi bintang, menggabungkan teori dan observasi). Ketiganya bisa diibaratkan sebagai angkatan pertama astronom asli Indonesia. Setelah mereka ada Dr Iratius Radiman (menaruh perhatian pada soal-soal Matahari), Dr Djoni
Dawanas (berminat pada bintang-bintang dengan cahaya berubah-ubah), Dr Suryadi Siregar (peneliti mekanika benda langit), dan Dr Suhardja Wiramihardja (ahli pengamatan galaksi).

Di bawah mereka ada antara lain Dr Moedji Raharto, astronom observasional yang kini menjadi Kepala Observatorium Bosscha, Dr Taufiq Hidayat yang kini menjadi Ketua Jurusan Astronomi ITB, juga dari Hakim Malasan, astronom yang ahli instrumentasi, satu keahlian yang vital juga dalam astronomi, serta Dr Premana Premadi yang mengikuti jejak Dr Jorga Ibrahim mendalami kosmologi.

Sementara di antara alumninya yang masih bekerja di bidang yang cukup dekat dengan astronomi misalnya saja adalah Dr Mezak A Ratag di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Drs Darsa Sukartadiredja, Direktur Planetarium Jakarta.

Ketika ditanyakan tentang arah perkembangan pendidikan astronomi di ITB, Ketua Departemen Astronomi ITB Dr Taufiq Hidayat Selasa (16/10) mengatakan, bahwa astronomi idealnya tetap merupakan bagian tak terpisahkan dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

“Warna Astronomi sebagai sains dasar tetap perlu dipertahankan, walaupun pengembangan multidisiplin/interdisiplin perlu lebih ditingkatkan, baik di dalam MIPA sendiri maupun dengan bidang
keteknikan (engineering),” tambahnya.

Dengan meningkatnya minat sarjana S1 untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, Jurusan Astronomi ITB pun kini menyelenggarakan pendidikan S2. Hal ini dimungkinkan karena perbandingan jumlah pengajar dan mahasiswa sekarang ini, menurut Dr Taufiq masih “relatif ideal”.

Jumlah total mahasiswa S1 Astronomi kini 83 orang, S2 baru empat orang, dan dosen 23 orang, sehingga rasionya 1:4. Tetapi sebenarnya jumlah dosen harus dikurangi delapan (untuk mereka yang sedang tugas belajar di luar/dalam negeri), jadi tinggal 15 orang. (Rata-rata rasio ITB adalah 1:10)

Satu hal penting yang disampaikan oleh ketua jurusan ini adalah bahwa pendidikan astronomi bukanlah bersifat massal/kolosal. Walaupun jumlah dosen mencukupi, ia merasanya tidak “realistis” jika jurusannya harus meningkatkan kapasitas, misalnya, menerima 50 mahasiswa/tahun. Ini tentu saja didasarkan pada kesadaran, bahwa bagaimanapun daya tampung bagi alumninya terbatas.

Mengenai minat untuk mempelajari bidang astronomi, Dr Taufik menjelaskan, bahwa sekarang ini setiap tahunnya ada sekitar 300-400 lulusan SMU yang berkompetisi melalui UMPTN untuk memasuki Departemen Astronomi ITB. Kisaran ini relatif konstan, sehingga dari segi peminat, untuk studi astronomi tidak kekurangan.
Dari segi biaya operasional, sebenarnya pendidikan astronomi juga relatif tidak lebih mahal dibandingkan yang lain. Hanya kalau orang mempersoalkan unit cost-yang dihitung berdasarkan biaya total dibagi dengan jumlah populasi mahasiswa-mungkin saja, karena populasinya sedikit, muncul kesan mahal.

Dengan perkembangan ITB-BHMN (Badan Hukum Milik Negara) yang mencita-citakan ITB sebagai perguruan tinggi berbasis riset, maka situasi tersebut akan sangat baik buat Departemen Astronomi. Pengembangan program magister astronomi menjadi sangat penting, di mana mahasiswa dilibatkan dalam penelitian para dosen. Kendala terpenting dalam hal ini adalah penyediaan beasiswa, karena bagaimanapun di tingkat pascasarjana (graduate) (seperti umumnya di luar negeri), beasiswa haruslah disediakan termasuk untuk bidang astronomi ini. Bila ada good will, pembiayaan dapat pula diusahakan melalui kompetisi penelitian, misalnya RUT (riset unggulan terpadu),
hibah bersaing, dan sebagainya.

Tidak di bidangnya
Seperti telah disinggung di atas, selama berdiri 50 tahun, Jurusan Astronomi ITB telah meluluskan sarjana sebanyak 150 orang. (Mereka yang tidak selesai, oleh berbagai alasan, juga tidak kurang yang sukses di pekerjaannya). Dari jumlah tersebut menurut statistik yang dipegang oleh Taufiq, 30 persen menjadi astronom (di ITB, LAPAN, Planetarium, luar negeri), 10 persen di bidang litbang (misalnya eks-IPTN), 10 persen mejadi dosen non-astronomi dan ada pula yang menjadi guru di sekolah menengah (karena hobi mengajar). Jadi pada
dasarnya, sekitar 50 persen dari alumni kita bekerja di astronomi, dan bidang berkaitan yang tidak jauh dari kemampuan dasarnya.

Selanjutnya ada 19 persen yang bekerja di sektor industri/ jasa/ komersial (lumayan besar), sektor finansial/perbankan sembilan persen, sektor media massa lima persen, dan ada pula yang
berwiraswasta lima persen, serta lain-lain 12 persen (yang termasuk lain-lain ini, misalnya, TNI, ormas sosial, atau tidak diketahui datanya).

Melihat ada sebagian alumninya yang bekerja di industri dan bidang lain, Rektor ITB Prof Lilik Hendrajaya sempat mengkritik, kalau begitu untuk apa menyelenggarakan pendidikan astronomi? Taufiq sendiri bisa menerima adanya situasi dan kondisi tertentu dan tak terelakkan yang menyebabkan seorang alumnus tidak melanjutkan
karier di bidang astronomi. Di luar negeri pun banyak PhD astronomi yang bekerja di luar astronomi. Hal sama bisa juga bisa ditengok di bidang lain seperti matematika atau sastra.

Dalam hal ini, Taufiq sendiri ingin memandang pendidikan sebagai salah satu proses penambahan nilai yang tidak dibatasi oleh kotak-kotak bidang ilmu saja.

Sementara menyangkut subyeknya sendiri, sebagaimana juga terjadi dalam lingkup internasional, pendidikan astronomi terus berkembang, baik itu untuk telaah Tata Surya, bintang-bintang, galaksi, sampai ke kosmologi, serta kaitannya dengan aplikasi. Memahami semuanya menurut Taufiq merupakan satu hal yang mustahil.

Jadi yang kini diusahakan adalah memfokuskan pendidikan ke bidang spesialisasi tertentu, sampai sedalam-dalamnya, berdasarkan kepakaran di Departemen.

Dukungan peralatan
Menurut pandangan Dr Taufiq, di negara berkembang seperti Indonesia, astronomi teoretis lebih mungkin dikembangkan berkat adanya Internet, misalnya, karena akses kepada informasi terkini relatif lebih mudah didapat saat ini, meski bekal kecerdasan (brainware) tetap utama.

Sedangkan untuk astronomi pengamatan (observasional), dewasa ini arahnya adalah menuju instrumentasi dan teleskop supercanggih yang sedemikian rupa majunya (misalnya, Very Large Telescope, Keck, ALMA), sehingga untuk memiliki observatorium kedua di Indonesia setelah Bosscha dengan cara swadana hampir tidak mungkin, karena biaya yang diperlukan sangat besar.

Namun juga perlu dicatat, bahwa astronomi internasional dewasa ini tidak dikembangkan dalam iklim kompetisi, tetapi kolaborasi. Sejumlah komunitas bergabung mengusulkan sebuah proyek besar kepada penyandang dana (misalnya NASA, ESA, NSF, CNRS, NASDA, dan sebagainya). Di sinilah astronom Indonesia dapat berkolaborasi, baik secara personal maupun formal, dalam suatu proyek tertentu. Selain itu, teleskop-teleskop besar di dunia juga terbuka, dan dapat diakses melalui proposal yang diajukan pengamat. Jika proposal diterima, pengamat pelamar memperoleh alokasi waktu pengamatan.

Selain itu, kini juga terdapat berbagai data dari satelit yang bersifat publik, sehingga dapat dimanfaatkan oleh astronom dari negara mana pun.

Banyak karya-karya yang diterbitkan di jurnal internasional dari para astronom Indonesia yang dilakukan dengan kolaborasi semacam itu. Hal lain yang sedang dicoba dijajaki adalah berkolaborasi dengan proyek astronomi radio dengan konsorsium internasional.

Misalnya dengan menempatkan salah satu antena di wilayah Indonesia (dibiayai oleh konsorsium), hingga dengan demikian kesempatan berpartisipasi di dunia internasional akan terbuka lebar.

“The happy few”
Melihat perjalanan sejarah 50 tahun terakhir, tampak bahwa astronomi tetap merupakan bidang yang digerakkan oleh komunitas kecil. Itu sebabnya, dibandingkan dengan ilmuwan lain, astronom masih sering disebut the happy few (Sedikit yang bahagia). Akan tetapi, dalam kesedikitan, dalam kesunyian kerja-karena banyak
di antaranya yang harus bekerja malam hari, di observatorium yang jauh dari keramaian-dan tak jarang diwarnai keterbatasan dana, para astronom dengan teguh membawa ruh dan semangat murni bagi kecintaan
pada alam raya, serta ketekunan menjalankan tugas penelitian memenuhi panggilan untuk menguak rahasia pengetahuan, yang itu sendiri sejatinya merupakan watak adi-kodrati manusia.

Itulah astronomi, tidak kenal tidak sayang. (Ninok Leksono)

Sumber: Kompas, Sabtu, 20 Oktober 2001

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: