Home / Berita / 50 Tahun LIPI, Meneliti Sumber Hayati Indonesia

50 Tahun LIPI, Meneliti Sumber Hayati Indonesia

Sebagai negeri kepulauan di katulistiwa, Indonesia berlimpah sinar mentari dan curah hujan. Area hangat dan lembap ini jadi habitat beraneka biota dan membuatnya kaya keragaman hayati. Kekayaan alam ini telah diinventarisasi dan diteliti manfaatnya. Pendayagunaannya menghasilkan sejumlah inovasi, sebagian telah digunakan industri.

Indonesia memiliki 838 juta hektar lebih hutan. Di dalamnya berisi 30.000-40.000 tumbuhan atau 15 persen dari tumbuhan yang ada di dunia. Di lautnya ada 6.869 jenis biota laut dan 126.000 biota di teresterial. Keragaman flora begitu kaya jadi tumpuan ekonomi negara dan masyarakatnya.

Salah satu yang jadi sumber penghasilan devisa utama sebelum akhir 1990-an ialah jenis pohon kayu. Kini populasi dan luas kawasan hutan tereksploitasi itu turun pesat, terkonversi untuk berbagai peruntukan.

Perubahan kondisi keragaman hayati jadi fokus para peneliti di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang secara reguler menghitung dan memvalidasi jenis tumbuhan asli Indonesia. Berdasarkan hasil riset flora, Puslit Biologi LIPI meluncurkan buku berjudul Prekursor Buku Daftar Merah Indonesia Volume 1 : 50 Jenis Pohon Kayu Komersial.

Peluncuran buku yang disusun Kusumadewi Sri Yulita, Tukirin Partomihardjo, dan Wita Wardani ini diadakan di Bioresources Science Week Fair, Cibinong Science Center-Botanical Garden, Senin (4/9). Buku setebal 260 halaman itu mendeskripsikan pohon yang banyak dikenal, seperti kayu hitam, gaharu, dan ramin, serta yang sudah dibudidayakan, seperti ulin dan cendana.

Selain itu ditampilkan pohon terancam punah, yakni Resak atau Kokoleceran (Vatica bantamensis) dan Palahlar atau Kruing (Dipterocarpus littoralis). Untuk itu LIPI menyusun strategi dan rencana konservasi.

Pameran karya inovasi
Dalam rangka menyambut 50 tahun LIPI, hasil riset dan karya inovasi yang dihasilkan di Kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati dipamerkan di BSF selama sepekan atau hingga Sabtu (9/9). “Karya penelitian itu berupa hasil penangkaran, pembibitan, rekayasa genetika, dan rekayasa material,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati.

Di empat kebun raya dikelola LIPI, yaitu di Cibodas, Purwodadi, Eka Karya Bali, dan Cibinong, ada konservasi sumber daya hayati eks situ, mengoleksi, melakukan pembibitan, dan reintroduksi tanaman langka. Koleksi beragam plasma nutfah dilakukan LIPI, termasuk koleksi mikroba atau jasad renik.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Pekerja menggiling batang sorgum yang dijadikan bahan riset di Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Cibinong Science Center Botanical Garden, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Pada usia 50 tahun, LIPI dituntut lebih berperan menghasilkan karya inovasi yang bisa dipakai industri dan memenuhi target dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Dalam riset, Puslit Biologi LIPI juga menemukan 31 jenis baru flora, fauna, dan mikroba. Temuan baru itu membuka peluang pengembangan pemuliaan dan pemanfaatannya sebagai obat baru. Sumber daya hayati yang diteliti telah dipakai untuk bahan pangan, energi, obat, dan rehabilitasi lingkungan.

Untuk fauna yang terancam punah, Puslit Biologi menangkar dan mengembangbiakkan di areal seluas lebih dari 24.000 meter persegi. Mamalia liar yang berhasil ditangkarkan, antara lain kukang, tarsius, kuskus, kancil, trenggiling, dan landak.

Adapun burung yang ditangkarkan, antara lain jenis burung paruh bengkok (Psittacidae), yaitu kakatua besar jambul kuning (Cacatua galerita), kasturi dagu merah (Charmosyna placentis), perkici lembayung (Psitteuteles golden) dan betet jawa (Psittacula alexandri). Peneliti di pusat riset ini juga mengembangbiakkan beragam jenis kupu-kupu.

Di Puslit Bioteknologi, peneliti mengembangkan teknologi biologi molekuler dan merekayasa genetika tanaman pangan, mikroba bagi industri, bioremediasi, pakan, dan energi. Penerapan biologi molekuler bagi produksi protein terapetik dan kit diagnostik kanker payudara. Hasil inovasi yang dipatenkan atas nama Destriyani akan diproduksi badan usaha milik negara, yakni Phapros.

Di Puslit Biomaterial dihasilkan material unggul, kayu lengkung, antara lain menghasilkan sepeda kayu, konstruksi bangunan tahan gempa, biopertisida, dan perekat biomattex. Sejumlah inovasi itu diterapkan di industri kecil, antara lain di Tasikmalaya dan Sukabumi.

Dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pemanfaatan sumber daya hayati, Deputi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang Kemasyarakatan dan Kebudayaan Subandi berharap LIPI lebih berperan mencapai 17 target pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Itu terutama terkait pengentasan masyarakat dari kemiskinan, perbaikan sanitasi dan kesehatan, ketahanan pangan, serta energi.

Menurut Bambang Subiyanto, Pelaksana Tugas Kepala LIPI, untuk mencapai target SDG, LIPI akan menyusun program jangka panjang sampai 2030 dan mengubah orientasi riset dengan fokus riset untuk mengatasi soal air, energi, dan pangan. Jadi, riset ke sejumlah daerah akan ditingkatkan demi membantu masyarakat dan pemerintah daerah dalam memecahkan masalah.–YUNI IKAWATI
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 September 2017, di halaman 14 dengan judul “Meneliti Sumber Hayati Indonesia”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: