Home / Artikel / Zona Rawan Bencana Tsunami

Zona Rawan Bencana Tsunami

GEMPA bumi yang mengguncang Biak, Irian Jaya kembali menarik perhatian masyarakat oleh karena gempa bumi tektonik tersebut disertai munculnya gelombang tsunami. Dikabarkan bahwa gelombang tsunami menyerang pantai utara Biak dengan kedalaman (run-up) mencapai 3 sampai 7 meter, kemudian pantai Manokwari mencapai 4 meter dan Sarmi yang terletak di ujung timur Teluk Cendrawasih, terlanda tsunami dengan kedalaman lebih kurang 7 meter. Tsunami ini juga dirasakan di Jepang setinggi lebih kurang 96 cm. Teluk Cendrawasih sendiri terhindar dari terjangan tsunami karena terhalang Pulau Yapen.

Jumlah korban tercatat 108 orang meninggal dunia, 51 orang hilang dan ratusan orang terluka berat dan ringan. Sementara itu ribuan jiwa kehilangan tempat tinggal. Sarana umum terutama bangunan sekolah ikut hancur dan tidak dapat berfungsi sehingga ribuan anak tidak dapat belajar.

Akhir-akhir ini kesadaran masyarakat tentang tsunami memang meningkat.Dapat dipastikan bahwa bilamana gempa bumi tektonik terjadi di laut, maka kewaspadaan selalu ditujukan kepada kemungkinan terjadinya tsunami. Hal ini tidak mengherankan oleh karena lebih dari 70 persen gempa bumi tektonik yang terjadi di Indonesia berlokasi di lautan. Selain itu, Indonesia memiliki pantai terpanjang di dunia.

Zona patahan
Oleh karena gempa bumi berkaitan erat dengan adanya patahan-patahan atau sesar-sesar pada kulit bumi, maka wilayah-wilayah penyebab gempa dapat dikatakan sudah dapat dikuasainya pemetaan geologi Indonesia dan, meluasnya penyelidikan geologi di lautan, maka daerah-daerah lemah di lautan pun dapat pula diketahui.

Berdasarkah penyelidikan seorang ahli tsunami dari Jepang yaitu Iida, dapat disimpulkan bahwa tidak semua gempa bumi yang terjadi dilaut akan menyebabkan timbulnya tsunami. Syarat terjadinya tsunami adalah magnitude gempa harus lebih besar dari 6 sekala Richter, gerakan kulit bumi ke arah ates (up thrusting) den kedalaman gempa bumi kurang dari 80 kilometer.,

Penelitian-penelitian pada sifat gerakan kulit bumi di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat dominasi gerakan tertentu pada setiap segmen daerah lemah tersebut. Sebagaimana sudah banyak diketahui masyarakat daerah lemah di Indonesia mencakup wilayah sepanjang bagian barat Sumatera, bagian selatan Jawa Nusa Tenggara Maluku Sulawesi bagian tenggara, tengah dan utara, dan Irian Jaya.

Gerakan kulit bumi ke arah atas (up thrusting), pada umumnya terjadi di zona subduksi yaitu tempat perbenturan kerak bumi. Zona ini terdapat di Iaut lepas pantai Sumatera bagian barat, laut sebelah selatan Pulau Jawa dan menerus ke sebelah selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, selatan Sumba, selatan Timor dan membelok ke Laut Banda. Zona subduksi ini juga terdapat di Laut Sulawesi dan Laut Maluku antara Sulawesi Utara dan Halmahera. Karena zona subduksi didominasi gerakan vertikal (up thrusting), maka zona ini relatif rawan terhadap kemungkinan timbulnya tsunami. Berhadapan dengan zona subduksi biasanya juga terbentuk ”upthrusting” kecil (back-up thrust).

Sementara itu patahan yang menghasilkan terban, atau disebut patahan normal pada umumnya tidak menghasilkan tsunami. Patahan ini seringkali berkombinasi dengan patahan yang bergerak mendatar. Pergerakan mendatar pada umumnya tidak menghasilkan tsunami.

Pada kenyataannya ketiga jenis patahan, yaitu sesar naik, sesar turun, maupun mendatar acapkali berkombinasi. Pergerakan mendatar disertai pergerakan menaik seringkali mendominasi gerakan patahan yang menghasilkan tsunami.

Berdasarkan penelitian pada rekaman gempa yang tercatat di Jawatan Geologi Amerika Serikat (USGS) dan Pusat Riset Gempa Bumi Jepang (ERI), maka kombinasi sesar naik dan sesar mendatar inilah yang menimbulkan gempa bumi Biak.

Sebenarnya patahan yang terdapat di daerah Irian Jaya utara adalah patahan mendatar dengan dominasi gerakan horisontal. Tetapi lebih kurang 125 kilometer utara pulau Biak terdapat zona subduksi yang menyebabkan penyusupan lempengan kulit bumi Samudera Pasifik ke bawah lempengan benua Australia. PuIau Irian termasuk dalam lempengan Benua Australia.

Bilamana gempa bumi terjadi di daratan Irian Jaya, dan disebabkan oleh patahan mendatar maka justru akan lebih membahayakan. Pergerakan mendatar bukan saja menyebabkan gempa tapi juga menyebabkan tanah retak-retak, bergeser ataupun rekah dalam ukuran yang panjang. Bilamana terjadi di laut, maka patahan pada zona subduksi akan lebih berbahaya karena disertai tsunami.

Pantai rawan tsunami
Berdasarkan penelitian, pada gerakan-gerakan yang mendominasi zona patahan di Kepulauan Nusantara maka dapat disimpulkan bahwa terdapat 6 kelompok pantai rawan, yaitu: (1) KeIompok pantai Sumatera bagian barat dan Jawa bagian selatan sampai Pulau Bali; (2) Kelompok pantai Nusa Tenggara; (3) Kelompok pantai Laut Banda yang mencakup Sulawesi bagian tenggara; (4) Kelompok pantai Maluku bagian utara dan Sulawesi bagian utara; (5) Kelompok pantai Irian Jaya bagian utara; dan (6) Kelompok pantai Selat Makasar (Lihat gambar).

Urut-urutan kerawanannya dinilai dengan kelompok pantai Sumatera dan Jawa bagian selatan sampai kelompok pantai Selat Makasar. Di luar daerah ini semua pantai relatif aman terhadap bencana tsunami.

Pantai yang membentuk teluk atau ketiak amat rawan terhadap bahaya tsunami. Volume air berakumulasi di sini. Sangat dilematis memang karena teluk biasanya kaya akan ikan dan merupakan tempat yang ideal untuk berlabuh. Karenanya biasanya pemukiman terdapat di pantai suatu teluk. Demikianlah yang terjadi pada terjangan tsunami di Grojogan, Banyuwangi maupun Teluk Maumere beberapa waktu yang lalu. Teluk Korem mengalami kérusakan total pada gempa bumi Biak 17 Pebruari yang lalu dan boleh dikatakan hampir seluruh korban yang jatuh berasal dari ibu kota Kecamatan Korem ini.

Karena jarak sumber gempa terhadap pantai di semua kelompok pantai rata-rata kurang dari 300 kilometer, sedangkan kecepatan rambat tsunami mencapa 600-700 kilometer per jam, maka tsunami datang dengan amat cepat, kurang dari satengah jam setelah gempa mangguncang. Pada kasus gempa bumi Biak dilaporkan, tsunami menyerang hanya 5 sampai 10 menit sesudah guncangan gempa.

Oleh karena itu, praktis tidak ada waktu untuk mempersiapkan diri atau menyingkir. Apalagi kesempatan untuk memberikan peringatan dini, amat sukar untuk dilakukan.

Penataan permukiman
Cara terbaik untuk menghindari tsunami adalah dengan meningkatkan kesiagaan. Pertama-tama mengenali zona rawan. Selanjutnya kalau ternyata bermukim di zona rawan, maka perlu mengadakan persiapan dini.

Secara umum teluk-teluk pada kelompok pantai rawan adalah merupakan sasaran tsunami. Sebaiknya pemukiman agak jauh dari pantai. Bilamana sepanjang pantai terdapat jalan, maka sebaiknya permukiman berada di belahan jalan ke arah daratan. Daerah antara tubuh jalan dengan pantai sebaiknya dihijaukan dan ditanami pohon keras.

Penyuluhan dan penyebarluasan informasi mengenai bahaya gempa bumi dan tsunami perlu secara terus-menerus dilakukan baik melalui jalur informal maupun jalur pendidikan (formal). Khususnya untuk masyarakat yang bermukim di zona rawan bencana, materi pendidikan (kurikulum) perlu mencakup pengenalan terhadap bencana tersebut.

Adjat Sudrajat, ahli geologi.

Sumber: Kompas, 16 Maret 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: