“Years of the Maritime Continent” untuk Perbaikan Prakiraan Klimatologi

- Editor

Rabu, 25 November 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjadi tuan rumah lokakarya perencanaan pelaksanaan Years of the Maritime Continent (YMC) 2017-2019, Selasa (24/11) hingga Kamis (26/11). YMC merupakan kerja sama riset internasional untuk mempelajari interaksi laut dan atmosfer di benua maritim. Salah satu hasil positifnya adalah bisa memperbaiki prakiraan cuaca dan iklim di area tersebut yang akan memengaruhi prakiraan di dunia.

Benua maritim merujuk pada wilayah yang memiliki area laut luas, antara lain Indonesia, serta Australia, Filipina, hingga selatan India. Bagi Indonesia, kolaborasi riset sangat bermanfaat, antara lain untuk lebih memahami interaksi iklim dan atmosfer bagi kepentingan dalam negeri, terutama pada aktivitas kelautan.

“Ini sejalan dengan keinginan pemerintah menjadikan Indonesia poros maritim dunia,” kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya di sela-sela Years of Maritime Continent Implementation Plan Workshop, Selasa (24/11) di Jakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peserta internasional antara lain berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Australia, Jerman, dan Inggris. BMKG juga mengajak mitra penelitian dalam negeri, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), serta sejumlah universitas. Peneliti dari Indonesia dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya.

efe430b83205496caf15c04b8b0ee14eKOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Chidong Zhang dari Universitas Miami, AS, menjelaskan pentingnya kolaborasi riset dalam Years of Maritime Continent (YMC) 2017-2019, Selasa (24/11), dalam Years of Maritime Continent Implementation Plan Workshop di kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di Jakarta. YMC merupakan kerja sama riset internasional untuk mempelajari lebih jauh interaksi laut dan atmosfer di benua maritim.

Andi mengatakan, YMC memiliki beragam manfaat lain bagi Indonesia. Lewat kolaborasi riset tersebut, para peneliti Indonesia mendapat kesempatan peningkatan kapasitas. Indonesia dan mitra riset juga bisa memperbaiki sistem peringatan dini berbasis risiko yang terkait dengan iklim, laut, dan atmosfer, misalnya mengetahui kondisi abu yang telontar dari gunung meletus. Selain itu, Andi berharap YMC terintegrasi dalam agenda penelitian nasional Indonesia.

Indonesia strategis
Benua Maritim Indonesia (BMI) merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan memiliki posisi strategis karena diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudra (Hindia dan Pasifik). Garis Khatulistiwa juga melintasi area ini. Itu membuat BMI menjadi generator cuaca untuk wilayah belahan bumi utara ataupun selatan.

Posisi strategis tersebut membuat BMI menjadi wilayah yang mengalami berbagai variasi cuaca khas daerah tropis. Variasi cuaca skala regional antara lain Madden Julian Oscillation (MJO) yakni fluktuasi musiman atau gelombang atmosfer yang terjadi di kawasan tropik, Dipole Mode (DM) atau interaksi laut- atmosfer di Samudra Hindia yang dihitung dari perbedaan nilai (selisih) antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dan perairan di sebelah barat Sumatera, Quasi Biennial Oscillation (QBO) juga Tropospheric Biennial Oscillation (TBO) yang merupakan contoh bentuk variasi antar-tahunan elemen iklim yang berdampak global dalam sistem iklim planet bumi, serta Monsun yakni pola sirkulasi angin yang berembus secara periodik pada suatu periode (minimal 3 bulan) dan pada periode yang lain polanya akan berlawanan. Di Indonesia dikenal Monsun Asia dan Monsun Australia.

Untuk skala global, terdapat fenomena El Nino, yakni fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai memanasnya suhu muka laut di ekuator pasifik timur atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Fenomena ini menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang.

Selain itu, ada juga Indonesia Through Flow (ITF), sirkulasi arus laut yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik. Sirkulasi tersebut tidak hanya penting bagi dua samudra tadi, tetapi juga bagi Samudra Atlantik.

Dengan kompleksitas fenomena cuaca dan iklim tersebut, Global Climate Model dan Numerical Weather Prediction di wilayah Indonesia dianggap kurang maksimal guna menggambarkan variabilitas cuaca dan iklim yang ada. Dengan demikian, studi lebih lanjut, termasuk yang akan diimplementasikan dalam YMC, sangat penting.

Director Department of Coupled Ocean-Atmosphered-Land Processes Research Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) Kunio Yoneyama menuturkan, jumlah negara yang terlibat dalam YMC terus meningkat. “Saat ini sudah ada 20 negara yang ikut serta dalam riset,” ujarnya.

Chidong Zhang dari Universitas Miami, Amerika Serikat, mengatakan, benua maritim merupakan lokasi pusat pergerakan di atmosfer dunia. “Apa yang terjadi di benua maritim akan dirasakan di wilayah lain yang ribuan mil jauhnya,” katanya.

J GALUH BIMANTARA

Sumber: Kompas Siang | 24 November 2015

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB