Home / Artikel / Yang “Gede” Tidak Selalu Perkasa

Yang “Gede” Tidak Selalu Perkasa

Keperkasaan seksual merupakan issue yang terus bertahan eksistensinya selama kehidupan manusia masih ada di muka bumi ini. Sebagai mitos abadi, keperkasaan pria tidak luntur oleh perjalanan peradaban manusia. Meski kemajuan peradaban kita sudah sedemikian pesat dan semakin meninggalkan nilai-nilai naluriah, tampaknya manusia masih mempertahankan naluri seksualnya dan bahkan masih terus mengagungkannya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan membanjirnya surat-surat pembaca ke alamat rubrik ”konsultasi kesehatan” di media-media cetak, dengan salah satu sasaran pertanyaannya seputar pada problem keperkasaan tersebut.

Selain bukti di atas, media massa memang terbukti memegang peran yang sangat penting dalam melestarikam mitos tersebut, kita dapat menyimak setiap hari di koran, majalah atau radio, artikel-artikel tentang potensi seksual pria dan juga iklan-iklan tentang terapi maupun alat-alat yang mampu mengatasi penurunan/kehilangan ke perkasaan pria.

Secara ilmiahpun keperkasaan pria mendapatkan perhatian yang khusus dan istimewa, dengan cakupan yang lebih luas karena juga dikaji aspek fertilitasnya disiplin tersebut dikenal sebagai ANDROLOGI (Andros = jantan).

Suatu pendekatan yang menarik terhadap keperkasaan pria adalah pendekatan biologis ke arah evolusi tingkah laku spesies, seperti dimunculkan oleh Tim Halliday (1980) dalam bukunya ‘SEXUAL STRATEGY’. Pada pendekatan tersebut dibuat suatu perbandingan biologi reproduksi antara pria dengan sesama kaum jantan spesies-spesies kerabatnya. Yang dipilih sebagai pembanding adalah Gorilla (Gorilla gorilla), Orangutan (Pongo pygmaeus) dan Chimpanzee (Pantroglodytes).

Gambar berikut ini akan memperjelas perbandingan tersebut. Gambar di atas menunjukkan perbandingan relatif ukuran alat genitalia eksterna dan interna (penis & testis) pada manusia, gorilla, orangutan, dan chimpanzee. Gambar “lingkaran” menunjukkan ukuran tubuh, sedangkan tanda panah menggambarkan ukuran proporsional dari ‘senjata’ (alat genitalia eksterna) masing-masing. Struktur “lonjong” yang berwarna hitam menunjukkan ukuran proporsional dari peluru (organ genitalia interna).

Ternyata perbedaan ukuran anatomik relatif tersebut, mempunyai kaitan dengan dengan aspek-aspek biologi reproduksi yang lain, seperti: frekuensi kopulasi (keseringan hubungan intim), kecenderungan untuk ”pamer senjata” (display), penguasaan lawan jenis dll. Masing-masing spesies memiliki kekhasan dalam biologi reproduksinya.

Gorilla
Hewan ini mempunyai ukuran tubuh yang terbesar diantara keempat spesies yang diperbandingkan. Jantannya berukuran hampir dua kali betinanya. Tetapi uniknya ukuran ”senjata” dan “peluru” nya sangat “mini”. Lebih unik lagi, meski hanya bersenjata mini, biasanya seekor gorilla jantan menguasai dan memiliki lebih dari satu betina (polygynous) dan untuk memperolehnya mereka harus bertarung untuk menyisihkan rival-rivalnya dalam kempetisi antar jantan di dalam kelompoknya. Jantan yang paling kuat akan menguasai paling banyak betina.

Meskipun memiliki beberapa betina, ironisnya mereka jarang melakukan “hubungan intim”, bila terjadi hubungan tersebut biasanya kendali inisiatif dipegang oleh betina. Jadi keperkasaan gorilla jantan tidak ditunjukkan dengan kuatnya mereka dalam ber-“hubungan intim”, sehingga mereka tidak memerlukan testis dalam ukuran “jumbo” dengan cadangan sperma yang melimpah.Juga mereka tidak memerlukan penis berukuran “jumbo” karena mereka tidak perlu merangsang lawan jenisnya.

Orangutan
Memiliki ukuran tubuh yang hampir sama dengan manusia. Perbandingan ukuran senjata jantan dan betinanya cukup menyolok. Hampir sama dengan gorilla, orangutan juga ber-“senjata” dan ”peluru” kecil. Orangutan juga cenderung untuk menguasai beberapa betina, tidak memiliki hobb “pamer senjata” dan frekuensi “hubungan intim” nya jarang. Betina pula yang memegang peranan dalam “peletakan sentuhan pertama”.

Chimpanzee
Merupakan yang terkecil di antara keempat spesies yang dibandingkan, jantan hanya sedikit lebih besar dari betinanya, tetapi kemampuan seksualnya paling luar biasa. Chimpanzee biasa hidup dalam kelompok besar, “hubungan intim” antar anggota kelompok berlangsung secara bebas dan tanpa “pilih pilih” pasangan, serta frekuensinya sangat tinggi. Di dalam kelompoknya juga tidak terdapat persaingan untuk memiliki betina. Dengan “peluru” yang sekitar tiga kali milik manusia, maka chimpanzee jantan memiliki cadangan sperma yang melimpah sehingga sangat mendukung proses “hubungan intim” berfrekuensi tinggi yang selalu dijalaninya. Ukuran “senjata” nya cukup besar, dengan banyak melakukan ”pamer senjata” untuk merangsang kaum betinanya. Jadi kendali inisiatif untuk bertempur sepenuhnya dipegang oleh jantan.

Manusia
Pria memiliki ukuran tubuh yang sedikit lebih besar dibandingkan lawan jenisnya, demikian pula kemampuan fisiknya. Di antara keempat spesies tersebut, manusia jantan memiliki “senjata” yang paling besar, maka tak pelak lagi mereka cukup agresif dalam aktivitas seksual dan memiliki kecenderungan untuk “pamer senjata” untuk menarik dan merangsang lawan jenisnya. Tetapi hal tersebut bukan berarti bahwa semakin besar “senjata” nya maka akan semakin tertarik lawan jenisnya, karena sampai saat ini belum dibuktikan dengan penelitian adanya hubungan antara variasi ukuran penis dengan ketertarikan dan perangsangan seksual pada wanita.

Pria memiliki kekhususan dibandingkan dengan spesies lain, pada masalah waktu “hubungan intim”. Pria dapat melakukannya sepanjang waktu tanpa terhalang oleh kesiapan atau tidaknya lawan jenis. Sedangkan pada kebanyakan spesies hewan, “hubungan intim” akan terjadi pada saat betina mencapai kondisi reproduktif puncak. Kemampuan untuk “bekerja” sepanjang waktu tersebut didukung dengan kondisi ”peluru” yang relatif besar, lebih besar dari gorilla dan orangutan meski masih tergolong mini bila dibandingkan dengan chimpanzee.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa ukuran tubuh yang ”gede” seperti pada gorilla dan orangutan tidak menunjukkan keperkasaan seksual yang hebat, dalam arti kemampuan untuk berkopulasi dengan frekuensi tinggi. Tetapi mereka memiliki bentuk lain ekspresi keperkasaan yaitu pemilikan dan penguasaan beberapa betina (polygynous) melalui kompetisi antar jantan.

Sedangkan si ”kecil” chimpanzee ternyata amat perkasa karena ditunjang dengan struktur testis “jumbo”nya. Juga penis yang lumayan besar, sedangkan manusia (pria) menempati posisi yang unik, meskipun memiliki ukuran tubuh yang relatif besar, potensi seksualnya juga cukup besar, hal tersebut ditunjang oleh ukuran penis dan testis yang relatif besar. Kemampuannya untuk ber”hubungan intim” sepanjang waktu berkaitan dengan fungsi aktifitas tersebut pada manusia. Bagi manusia, fungsi aktivitas tersebut tidak hanya fungsi PROKREATIF (menghasilkan keturunan) saja tetapi juga fungsi HEDONISTIK (kenikmatan). Dan fungsi yang terakhir inilah yang menyebabkan “mitos keperkasaan” mungkin tak akan luntur selamanya.

Budi Widianarto, Staf Pengajar Fakultas Biologi UKSW Salatiga

Sumber: Suara Bengawan, 19 Agustus 1989

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: