Home / Berita / Yang Botak yang Terserang Jantung

Yang Botak yang Terserang Jantung

Yang muda yang botak perlu merawat rambut. Bukan sekedar mengurangi rambut gugur, tapi juga mereduksi kemungkinan terkena serangan jantung.

Ini anjuran yang boleh ditemukan di The Journal of the American Medical Association edisi pekan lalu.

Yang muda yang botak.
Pada kata muda, riset ini membuat kelonggaran. Di bawah 55 tahun masuk kategori muda, 72 tahun tentulah sudah tua.

Untuk kata botak, ada pengetatan. Botak yang membahayakan jantung adalah botak di bagian teratas kepala. Botak verteks namanya. Jadi, orang dengan botak hanya di bagian depan kepala, dekat-dekat ke dahi, tak terancarn penyakit jantung yang mengganggu ini.

Makin lebar botak verteks, makin tinggi risiko serangan jantung. Kalau di bagian teratas kepala masih tumbuh rambut dengan lokasi yang jarang-jarang, risiko serangan jantung sekitar 40 persen. Dan, resiko bisa melonjak sampai 340 persen kalau botak verteks benar-benar licin. Begitulah kata sekelompok periset dari Universitas Boston yang menulis di jurnal itu.

Yang muda yang botak, jangan langsung khawatir. Laporan ini berterus terang mengakui korelasi penyakit jantung dan kebotakan masih dalam korelasi asosiasi. Artinya, hubungan itu belum sampai melihat faktor apa dalam kebotakan yang mengundang, serangan jantung. Ia masih dalam tahap menghubungkan, mengasosiasikan: kebetulan sekian persen yang botak yang berpenyakit jantung, jadilah hubungan itu.

Meskipun begitu, temuan ini setidaknya melonggarkan pendukung dana riset untuk menandatangani sebuah proposal penelitian. Dengan temuan ini, seorang atau sekelompok peneliti akan lebih tenang berharap bahwa riset mereka untuk menyelidiki peran hormon kelaki-lakian menimbulkan botak akan lebih mudah dikabulkan kalau sasarannya: mencari korelasi beralasan antara kebotakan dan serangan jantung.

Rekomendasi standar
Hubungan beralasan belum ditemukan. Tapi, penulis artikel ini dan sejumlah ahli menganjurkan supaya laki-laki muda yang botak mau mendengar peringatan itu. Nasihat mereka: tidakkah lebih baik bila yang muda yang botak patuh saja pada rekomendasi standar untuk mengontrol faktor risiko penyakit jantung. Diet, menjaga berat badan supaya tak berlebihan, menghindari rokok, dan mengontrol tekanan darah.

Sepertiga laki-laki berumur di bawah 55 tahun, kata laporan itu, mengalami kebotakan: Verteks, frontal alias botak di dahi, maupun botak di bagian lain kepala.

Seberapa erat kaitan botak verteks dengan penyakit jantung? Dr Samuel M Lesko, penulis utama artikel itu, mengatakan risiko datangnya serangan jantung pada laki-laki muda dengan botak verteks lebih rendah ketimbang risiko penyakit jantung pada perokok atau mereka yang bertekanan darah tinggi.

Riset lain
Riset Lesko dan kawan-kawan tentang botak versus jantung ini bukanlah yang pertama. Studi jangka panjang –tentu bukan tahap kedua– dari Framingham, Massachusetts, AS pernah mendapatkan korelasi ini. Hanya saja, tulis Lesko dan kawan-kawan, studi ini tak sempat dipublikasikan..

Selain botak verteks, Lesko juga mengidentifikasikan beberapa’ faktor risiko penyakit jantung: tekanan darah tinggi, kolesterol berlebihan, kolesterol lipoprotein berkerapatan tinggi di dalam darah, diabetes, dan rokok.

Riset Lesko dimulai awal tahun 1989. Dari bulan Januari 1989 sampai Mei 1991, tim Boston mengambil sampel 1.437 laki-laki berumur 21 sampai 54 tahun yang pernah berobat di 35 rumah sakit di bagian timur Massachusetts dan Rhode Island.

Sampel ini dibagi dua. Sebanyak 665 pasien dengan kasus: baru pertama kali kena serangan jantung. Sebagai kontrol, pembandingnya 772 pasien yang tak mengalami serangan jantung.

Setiap minggu, para periset berkontak dengan 665 pasien dan dibantu oleh perawat rumah sakit. Keduanya bahu-membahu menentukan lokasi anatomis kebotakan dengan menerapkan ukuran standar yang dikenal dengan nama Skala Kebotakan Hamilton.

Apa yang mereka dapat?
Sebanyak 214 dari 665 pasien jantung, atau 32 persen, berkepala botak verteks. Sementara itu, 175 dari 772 pasien dari berbagai penyakit yang bukan serangan jantung, atau 23 persen, adalah berkepala botak verteks. Dari sinilah kesimpulantim Boston muncul: relatif yang botak verteks berisiko terkena serangan jantung.

Lawrence K Altman dari New York Times menulis periset lain juga pernah mencatat hubungan kebotakan dengan penyakit jantung. Studi itu dilakukan di Louisiana pada tahun 1964.

Tiga riset sudah dibentangkan, masing-masing dari Louisiana, Framingham-Massachusetts, dan Boston. Namun, para dokter umumnya tak mengakui kebotakan sebagai faktor berisiko untuk penyakit jantung. Tentulah mudah disimpulkan, dengan ketakpengakuan ini, para dokter spesialis jantung tidak membuat keputusan diagnostiknya berdasarkan faktor kebotakan. (lHT/sal)

Sumber: Kompas, 11 Maret 1993

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: