Home / Berita / Waspadai Angin Puting Beliung

Waspadai Angin Puting Beliung

Muncul Bibit Siklon Tropis
Bencana angin kencang atau puting beliung melanda Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Rabu (22/11) menyebabkan 661 rumah rusak. Fenomena yang diawali munculnya kumulonimbus dan diikuti hujan lebat ini masih berpeluang terjadi hingga Desember.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Herizal di Jakarta, Kamis, mengatakan, hujan lebat dan angin kencang belakangan ini disebabkan munculnya bibit siklon tropis di Samudra Hindia wilayah selatan Jawa Timur. Sirkulasi siklonik juga muncul di perairan barat Sumatera, Laut Banda, dan Laut China Selatan.

Situasi ini mengakibatkan terbentuknya pola belokan dan pertemuan angin di wilayah Indonesia. Aktifnya pola intertropical convergence zone (ITCZ) yang terbentuk memanjang dari Sumatera Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara hingga Laut Banda juga turut memicu potensi hujan lebat di beberapa wilayah. ITCZ merupakan daerah pertemuan angin pasat dari belahan bumi utara dan angin pasat dari belahan bumi selatan akibat adanya aktivitas tekanan rendah di sekitar khatulistiwa.

“Daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali dan Nusa Tenggara Barat sangat berpotensi terjadi kumulonimbus (awan gelap hitam yang menjulang tinggi seperti jamur). Kemunculan awan inilah yang memicu hujan lebat dan terjadinya puting beliung,” kata Kepala Bidang Informasi dan Prediksi Cuaca BMKG Ramlan.

Menurut analisis BMKG, fenomena hujan lebat disertai angin kencang dan petir ini diperkirakan masih akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia hingga tiga hari ke depan. Daerah yang rentan terdampak meliputi sebagian Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Selain itu, gelombang setinggi 1,25 meter hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di wilayah perairan barat Kepulauan Nias hingga Kepulauan Mentawai dan Samudra Hindia di selatan Jawa.

Pergantian musim
Peneliti cuaca dan iklim ekstrem BMKG, Siswanto, mengatakan, pergolakan cuaca di sebagian wilayah ini biasa terjadi saat pergantian musim. Saat ini, penetrasi angin monsun Asia atau angin baratan yang membawa hujan sudah mulai di Laut Jawa dan pesisir utara Jawa. Sementara itu, di selatan Jawa bagian barat masih terjadi aliran dari selatan yang merupakan sisa angin monsun Australia.

Kondisi arah angin yang berlawanan itu menciptakan daerah geser angin (wind shear) yang salah satu efeknya menciptakan pusaran angin lokal. “Keberadaan kumulonimbus yang umum terjadi di peralihan musim hujan dan geser angin ini menjadi kondisi potensial terbentuknya angin puting beliung,” katanya.

Khusus untuk wilayah Jawa, lanjut Siswanto, pemanasan di daratan masih intensif sehingga memungkinkan berkembangnya kumulonimbus. “Situasi ini baru akan berakhir hingga puncak musim hujan pada Desember-Febuari,” ujarnya.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, frekuensi kejadian puting beliung meningkat tiap tahun sejak 2002. “Saat ini puting beliung menjadi bencana paling sering terjadi, nomor dua setelah banjir,” katanya.

Data BNPB, kejadian puting beliung pada 2016 mencapai 663 kali, padahal pada 2010 hanya 404 kali dan tahun 2008 hanya 166 kali. Tahun ini, hingga November, sudah terjadi 624 kali puting beliung. “Tiga kabupaten yang paling sering terdampak puting beliung adalah Cilacap, Bogor, dan Bojonegoro,” kata Sutopo.

Dalam kurun 16 tahun terakhir tercatat 5.247 puting beliung yang menyebabkan 398 orang meninggal, 3.098 korban luka, 301.654 orang mengungsi, dan 223.927 rumah rusak.

Puting beliung di Sidoarjo, Rabu lalu, menyebabkan 661 rumah, sejumlah gedung sekolah, tempat ibadah, dan kantor desa di tiga desa rusak. Kejadian itu menyebabkan 36 warga terluka dan paling tidak 100 warga mengungsi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sidoarjo Dwijo Prawito mengatakan, dari 36 korban luka, 4 orang masih dirawat.

Berdasarkan data BMKG Juanda, angin kencang yang menerjang Sidoarjo berkecepatan 35-40 knot atau berkisar 70-80 kilometer per jam dengan durasi kurang dari 5 menit. Angin berembus dari arah timur atau arah laut menuju ke barat.

Di Nusa Tenggara Timur, puting beliung sering terjadi di hampir semua wilayah. Sebulan terakhir, 68 rumah, 8 gedung sekolah, dan 1 gedung puskesmas rusak akibat diterjang puting beliung. Di Manggarai dan Manggarai Barat, selama sebulan terakhir, lima orang tewas akibat tersambar petir.

Deteksi dan antisipasi
Menurut Siswanto, fenomena menjelang kemunculan puting beliung belum bisa dimonitor dengan alat-alat BMKG. Meski demikian, kemunculan kumulonimbus bisa dideteksi dengan satelit dan radar BMKG, bahkan sudah dikembangkan prediksinya.

Ia menyarankan beberapa langkah yang bisa dilakukan warga untuk mengantisipasi dampak puting beliung. “Waspadai kehadiran kumulonimbus. Jika sudah bertiup angin cukup kencang dan temperatur cenderung dingin, ini menandai hujan lebat akan segera turun. Pada kondisi demikian, sebaiknya hindari pepohonan dan baliho yang rentan ambruk karena angin bisa bertiup cukup kencang,” kata Siswanto.(AIK/JOG/NIK/KOR/KRN/IDO/VIO/RUL/GAL)

Sumber: Kompas, 24 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: