Home / Berita / Wallace Terinspirasi Nusantara

Wallace Terinspirasi Nusantara

Konsep Seleksi Alam Pemicu Evolusi Lahir di Ternate
Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara dikenal sebagai Zona Wallacea, wilayah paling tinggi hayati endemisnya. Itu telah menginspirasi Alfred Russel Wallace untuk melahirkan karya besar, yakni konsep seleksi alam pemicu evolusi.

“Belakangan, dunia pengetahuan mengakui Wallace sebagai penemu teori evolusi bersama dengan Charles Darwin. Namun, banyak anak di Indonesia tak mengetahui soal ini,” kata Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Sangkot Marzuki pada pembukaan acara Wallacea Week 2017 di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (16/10).

Februari 1858, ilmuwan Inggris, Alfred Russel Wallace, yang saat itu terserang demam di Ternate, mengirim surat kepada Charles Darwin. Surat yang diberi judul “On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type” itu menjelaskan fenomena keberagaman dan endemisitas hayati di Nusantara. Surat itu juga menyebut proses seleksi alam bahwa individu inferior akan mati dan individu superior akan bertahan yang jadi inti dari teori evolusi.

Teori evolusi
Setahun setelah surat Wallace ini, pada 1859, Darwin menerbitkan bukunya, Origin of Species, yang lalu melambungkan namanya sebagai penemu teori evolusi. “Bisa dikatakan teori evolusi lahir di Ternate, setelah Wallace menjelajahi Zona Wallacea,” kata Sangkot.

KOMPAS/AHMAD ARIF–John van Wyhe, pengajar pada National University of Singapore (berdiri), memaparkan sebagian koleksi fauna yang dikumpulkan Alfred Russel Wallace dari Nusantara dalam “Wallacea Week 2017” di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (16/10). Acara itu bertujuan menghormati ilmuwan Inggris, Alfred Russel Wallace, yang telah mendokumentasikan keragaman alam Nusantara.

Menurut John van Wyhe dari National University of Singapore, yang jadi salah satu pembicara, substansi surat dari Wallace ini menjadi bagian penting dalam buku Darwin. “Peran penting Wallace dalam teori evolusi tak bisa diingkari. Ia juga peletak dasar konsep biogeografi dan seleksi alam,” kata Wyhe. Biogeografi merupakan konsep dalam ilmu biologi yang menjelaskan tentang keterkaitan sebaran spesies dengan sejarah perubahan lempeng bumi di masa lalu.

Wyhe memaparkan, Wallace awalnya ke Nusantara untuk mengumpulkan koleksi flora dan fauna yang kemudian dijualnya kepada para kolektor dan museum-museum di Eropa. Selama delapan tahun di Nusantara (1854-1862), dia dibantu ratusan asisten lokal. “Dia hidup dengan menjual spesimen ini,” katanya.

Wallace mengumpulkan berbagai spesimen binatang. Tak kurang dari 300.000 kulit burung yang terdiri dari 1.000 spesies, 20.000 kupu-kupu dan kumbang dari 7.000 spesies, serta berbagai hewan berkaki empat dan cangkang siput darat. Namun, Wallace ternyata pengamat dan pencatat yang baik. Tak hanya itu, dia juga mencatat suku-suku dan bahasa yang digunakan di Kepulauan Nusantara.

Endemisitas tinggi
Koleksi paling penting Wallace terutama berasal dari Zona Wallace yang memiliki tingkat endemisitas amat tinggi. Menurut ahli biologi konservasi Universitas Indonesia, di Zona Wallacea ini terdapat 697 spesies burung dan 249 (36 persen) di antaranya merupakan endemik. Wallacea juga memiliki 201 mamalia lokal, 123 di antaranya endemis. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Berdasarkan pengamatan dan ketekunannya selama di Nusantara inilah, Wallace bisa merumuskan sejumlah pemikiran besar. Selain menginspirasi Darwin dengan teori evolusinya, Wallace juga menulis buku The Malay Archipelago (1869) yang berisi rincian pengamatan flora, fauna, dan juga keberagaman manusia di Nusantara.

“Buku ini sangat penting karena berisi tentang keunikan geologi Indonesia, biodiversitasnya, kekayaan budaya, hingga migrasinya di masa lalu. Namun, baru 140 tahun kemudian buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,” kata Sangkot.

Warisan pemikiran Wallace telah menjadi bagian penting bagi sejarah bangsa Indonesia. “Kita perlu mengingat kembali arti pentingnya untuk Indonesia dan mencari cara memanfaatkan potensi itu,” ujarnya.

Selain diskusi, acara Wallacea Week 2017 yang digelar di Perpustakaan Nasional hingga 22 Oktober ini juga akan menampilkan pameran dan pemutaran film. Acara ini didukung British Council, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Pariwisata. (AIK)

Sumber: Kompas, 17 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: