Urgensi Pemeringkatan Universitas

- Editor

Senin, 15 Juli 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Juni lalu Quacquarelli Symonds, sebuah lembaga pemeringkat universitas yang terkenal berlokasi di London, Inggris, sudah mengeluarkan hasil pemeringkatannya dengan informasi bahwa semua universitas top di Indonesia turun peringkatnya.
Untuk tingkat Asia, UI turun dari ke-59 (tahun 2012) ke peringkat ke-64 (2013), ITB dari ke-113 ke ke-129, dan UGM dari ke-118 ke ke-133. Tentu saja ini tidak lalu berarti malapetaka. Di pihak lain, kita juga tidak boleh memandang ringan. Agar dapat memaknai dengan benar tentang “pemeringkatan universitas”, kita perlu mempunyai pemahaman yang cukup tentang hal itu.

Pemeringkatan universitas dikembangkan pertama kali oleh US News and World Report pada 1981 dalam rangka memenuhi keinginan masyarakat adanya transparansi dan perbandingan data tentang institusi pendidikan tinggi. Pemeringkatan yang dilakukan ini banyak dikritik karena memang tidak mudah membuat tolok ukur pemeringkatan.

Walaupun demikian, sistem pemeringkatan ini banyak disam- but calon mahasiswa dan orangtua karena informasi ini diperlukan para mahasiswa dan orangtua yang akan menginvestasikan uang mereka dalam bentuk biaya pendidikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Walaupun sistem pemeringkatan ini banyak menerima kritik, dari tahun ke tahun ia se- makin populer dan menjadi referensi banyak orang. Tidak mengherankan apabila lalu muncul banyak lembaga pemeringkat universitas di seluruh dunia. Setiap lembaga mempunyai metode. Lembaga pemeringkat ini ada yang dibuat oleh institusi swasta, ada juga oleh institusi pemerintah. Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, Nigeria, Pakistan, dan Kazakhtan adalah beberapa contoh negara yang melakukan pemeringkatan universitas di dalam negeri masing-masing.

Banyak tolok ukur
Melakukan pemeringkatan universitas bukanlah hal sederhana sebab dibutuhkan banyak tolok ukur. Namun, dapat dirangkum dari sejumlah lembaga pemeringkatan yang ada, pada dasarnya ada delapan tolok ukur. Pertama, karakteristik calon mahasiswa yang masuk, misalnya mahasiswa dari luar negeri. Kedua, banyak tenaga dosen yang dimiliki. Ketiga, sumber daya keuangan dan aset universitas. Keempat, kualitas lingkungan kegiatan belajar mengajar. Kelima, kemampuan yang diperoleh mahasiswa sebagai hasil belajarnya di universitas. Keenam, kontribusi lulusan lembaga pendidikan itu terhadap masyarakat. Ketujuh, kualitas dan banyak hasil penelitian sivitas akademika. Kedelapan, reputasi lembaga, misalnya peraihan Nobel, oleh para sivitas akademikanya.

Untuk memperoleh data sebagai dasar pemeringkatan, biasanya lembaga pemeringkat menempuh tiga cara. (1) Pihak ketiga yang independen, misalnya pemerintah yang secara teratur mengoleksi data dari universitas. (2) Sumber universitas: tentu saja data yang lengkap dan detail suatu universitas ada pada universitas itu sendiri. (3) Data hasil survei yang dilakukan oleh lembaga lain yang bonafide.

Dikaitkan dengan tolok ukur ini, lembaga Quacquarelli Symonds (QS) sebenarnya hanya menggunakan tolok ukur nomor 1, 2 , 7, dan 8. Setiap nomor dengan bobot 10 persen, 20 persen, 20 persen, dan 50 persen. Dengan kata lain, QS memberi bobot tinggi kepada tolok ukur reputasi lembaga. Dengan kata lain, prestasi hasil penelitian sivitas akademika universitas kurang diberi bobot.

Adapun Webometrics, sebuah lembaga pemeringkatan terkenal lain yang berlokasi di Spanyol, menggunakan tolok ukur no 3, 5, dan 7, masing-masing dengan bobot 16 persen, 50 persen, dan 34 persen. Webometrics memberi bobot tinggi pada kinerja dan hasil penelitian sivitas akademika universitas itu. Tak heran apabila suatu universitas bisa memperoleh peringkat tinggi di sebuah lembaga pemeringkatan tertentu, tetapi di lembaga pemeringkat lain peringkatnya rendah.

Sebagai contoh, pada hasil pemeringkatan Webometrics Januari 2013, tiga universitas top di Indonesia mempunyai peringkat Asia. UGM peringkat ke-70, ITB peringkat ke-81, dan UI peringkat ke-95. Jadi, menurut pemeringkatan oleh Webometrics, ketiga universitas top di Indonesia semuanya masuk the best top 100 universities in Asia.

Dengan penjelasan seperti itu, diharapkan masyarakat cukup punya pemahaman tentang pemeringkatan universitas. Diharapkan masyarakat dapat memberi apresiasi yang benar tentang hal itu. Di lain pihak, usaha-usaha nasional menaikkan peringkat universitas di Indonesia memang perlu terus dilakukan secara riil ataupun secara formal. Secara riil, agar kualitas lembaga pendidikan universitas kita benar-benar terus meningkat kualitasnya. Secara formal, agar ketika universitas-universitas kita di peringkat oleh lembaga pemeringkat tersebut, peringkat universitas-universitas kita memperoleh tempat terhormat. Mau tidak mau, suka tidak suka, pemeringkatan internasional ini membawa nama baik bangsa.

Eko Nugroho, Dosen Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada

Sumber: Kompas cetak, 15 Juli 2013

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB