Home / Berita / Universitas Terbuka, Sarana Kuliah Anak Muda Daerah

Universitas Terbuka, Sarana Kuliah Anak Muda Daerah

Menjangkau lebih banyak lulusan sekolah menengah atas di daerah untuk kuliah tanpa terkendala jarak dan tempat menjadi salah satu fokus pengembangan Universitas Terbuka dalam beberapa tahun belakangan.

Kuliah di Universitas Terbuka (UT) yang identik dengan orang dewasa, orang yang bekerja, atau guru kini perlahan terkikis dengan banyaknya anak muda yang melirik untuk berkuliah di perguruan tinggi ini.

Isra Linda (20), warga Tana Toraja, Sulawesi Selatan, begitu lulus SMK program komputer tahun 2012, kuliah di UT. Tawaran beasiswa tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari UT membuat Isra menjadi mahasiswa Program Ilmu Pemerintahan UT.

Kesulitan memang dirasakan Isra karena harus menjalani kuliah secara mandiri, lebih banyak belajar modul maupun secara daring. Kuliah tidak seperti mahasiswa reguler yang tiap hari bertatap muka dengan dosen.

”Kendala utama saat tutorial online. Saya tidak punya laptop dan sambungan internet. Akibatnya, untuk beberapa mata kuliah yang harus online, saya tertinggal,” kata Isra yang berasal dari keluarga tidak mampu.

Pither Nangdera, penerima beasiswa CSR UT di Tana Toraja, merasa beruntung bisa kuliah di UT. Dia menimba ilmu tanpa mengganggu pekerjaan yang dilakukannya untuk membantu keluarga.

Keluhan soal fasilitas internet yang terbatas dan lambat banyak terlontar dari mahasiswa UT di Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Saat ini, kuliah di UT tidak lagi mengandalkan modul dan tutorial tatap muka kelompok. Tuntutan supaya mahasiswa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam tutorial, mencari sumber belajar, hingga ujian secara daring sudah menjadi keharusan.

Rektor UT Tian Belawati mengatakan, untuk wilayah Indonesia yang secara geografis membuat penduduk tersebar hingga di pulau-pulau dan daerah terpencil, layanan kuliah yang ditawarkan UT jadi solusi. Anak-anak muda bisa kuliah tanpa harus meninggalkan daerahnya.

”Beasiswa CSR kami kembangkan dengan menggandeng perusahaan-perusahaan mitra UT untuk memberikan kesempatan bagi lulusan SMA/SMK untuk kuliah. Anak-anak muda dari daerah terpencil perlu diberi peluang untuk kuliah tanpa harus keluar daerah,” ujar Tian.

Dengan fokus menggaet mahasiswa muda, saat ini jumlah mahasiswa UT di bawah 25 tahun sebanyak 80.697 orang (15 persen jumlah mahasiswa). Mahasiswa UT di Pulau Jawa (36,8 persen), Sumatera (28,6 persen), Sulawesi (12,4 persen), dan sisanya tersebar di daerah lain.

Beasiswa CSR hanya salah satu beasiswa yang disediakan UT. Tahun lalu beasiswa ini disiapkan untuk 1.500 mahasiswa non-guru. Ada juga beasiswa Bidikmisi untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga tak mampu, tahun ini 1.000 beasiswa.

Perkuliahan secara terbuka dan jarak jauh yang dilaksanakan UT selama 29 tahun dikembangkan dengan memaksimalkan pemanfaatan TIK. Berbagai layanan pendidikan, mulai dari pendaftaran hingga mengakses sumber belajar, dikembangkan agar bisa dipakai dengan semua peralatan TIK, mulai dari telepon pintar (smartphone) hingga telepon genggam yang hanya bisa mengirim dan menerima pesan singkat (SMS).

”Ke depan, tren e-learning di kalangan anak muda menjanjikan. Karena itu, UT berupaya menjangkau anak muda supaya mereka bisa kuliah sesuai kebutuhan. Mau sambil kerja atau mau tetap di daerah, mereka tetap bisa kuliah secara jarak jauh dengan standar mutu pendidikan yang dijamin sama di seluruh Indonesia,” kata Tian.

Dalam dies natalis ke-29 pada 4 September, UT mengambil tema ”Lifelong Education for Smarter Generation”. Tujuannya, menjadikan kuliah di UT dapat diikuti siapa saja dan dilakukan di mana saja, menjadi bagian dari pendidikan sepanjang hayat. Kebutuhan belajar tanpa terkendala ruang dan waktu dengan pemanfaatan TIK menjadi kekuatan UT dalam melayani bangsa.

Andalan guru
Meski kini fokus menggarap anak muda sebagai target mahasiswa, UT tetap identik sebagai tempat kuliah bagi guru di Indonesia. Tuntutan untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan minimal S-1 tanpa harus meninggalkan tugas mengajar membuat UT menjadi pilihan para guru.

Debora Nohalium, Kepala SMPN 3 Buntao’, Kabupaten Toraja Utara, dengan semangat mengacungkan tangan saat kesempatan tanya jawab dengan Rektor UT di aula kantor Bupati Toraja Utara, awal Juli lalu. Deborah yang alumnus S-1 pendidikan biologi menanyakan peluang kuliah pascasarjana bagi guru.

”Guru PNS kan diminta untuk studi yang linier. Saya sangat ingin melanjutkan ke S-2 biologi di UT, tetapi kenapa tak ada? Banyak guru di Toraja yang sebenarnya ingin bisa kuliah sampai S-2, tetapi program studinya tidak linier,” kata Debora.

Jauh sebelum ada keharusan guru berkualifikasi S-1, Debora sudah meraih sarjana di UT tahun 1996. Dengan kualifikasinya, Deborah digandeng menjadi tutor UT untuk mendampingi guru-guru di Toraja.

Di UT saat ini baru ada S-2 manajemen pendidikan. Ada rencana membuka pascasarjana untuk matematika dan pendidikan guru SD (PGSD).

Saat ini sebagian besar mahasiswa UT berprofesi guru. Dari 533.327 mahasiswa UT, sebagian besar belajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) 77 persen.

Mita Tabi, guru SDN 6 Sopai, Kabupaten Toraja Utara, bersemangat menyelesaikan kuliahnya di program PGSD di UT. Ia kini belajar di semester 10. Guru honor daerah bergaji Rp 520.000/bulan ini menyisihkan gaji ditambah dukungan dana dari sekolah untuk memenuhi ketentuan pemerintah bahwa guru harus berpendidikan minimal S-1. ”Kalau sudah sarjana, ada peluang untuk diangkat jadi PNS,” kata Mita.

Tian mengatakan, UT didirikan pemerintah untuk melayani masyarakat di daerah yang jauh dari perguruan tinggi tatap muka. Untuk membuka program studi, harus dilihat jumlah peminatnya. Karena jumlah guru Matematika banyak, UT membuka S-2 matematika. Untuk program lain, masih ditimbang jumlah peminatnya.

Namun, akan disediakan berbagai program pendidikan dan pelatihan berkesinambungan supaya guru bisa terus mengasah kompetensi dan profesionalismenya. Dengan demikian, mereka tetap bisa mengembangkan diri tanpa meninggalkan tugas mengajar.

Oleh: Ester Lince Napitupulu

Sumber: Kompas, 23 September 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: