Universitas Hongkong; Citra Baru Kota Belanja

- Editor

Rabu, 12 Mei 2010

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banyak orang menganggap Hongkong tak lebih dari kota tempat berwisata dan berbelanja. Tempat pelesir, begitu mungkin sebutan orang Indonesia untuk Hongkong. Maklum, wilayah administratif khusus China berpenduduk tujuh juta jiwa itu termasyhur dengan obyek wisata Disneyland dan beragam pusat belanja, salah satunya kawasan perdagangan Mong Kok yang tersohor dengan Ladies Market; juga Causeway Bay.

Sebagai kota tujuan wisata, Hongkong memanjakan wisatawan dengan moda transportasi yang nyaman dan aman. Salah satu moda yang akrab bagi turis adalah kereta MTR, sistem kereta dalam kota yang menghubungkan sejumlah wilayah di Hongkong. MTR, sebagai satu misal, menjadi penghubung Hongkong Airport yang terletak di Pulau Lantau dengan pusat kota di Kowloon dan beberapa destinasi di Hongkong Island.

MTR juga menjadi moda yang efektif untuk mencapai Mong Kok dan Causeway Bay, dua kawasan perdagangan utama di Hongkong.

Citra itu pula yang seolah menutupi kiprah Universitas Hongkong. Padahal, Universitas Hongkong baru saja meraih prestasi level Asia, dengan dinobatkannya mereka sebagai perguruan tinggi terbaik versi Times Higher Education 2009. Dengan demikian, Universitas Hongkong mengalahkan Universitas Tokyo, Jepang, perguruan terbaik Asia 2008.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak mengira

Prof John A Spinks, Senior Advisor to the Vice-Chancellor Universitas Hongkong, menyambut gembira peringkat perguruan terbaik versi Times itu. ”Kami tidak mengira bisa mengalahkan Universitas Tokyo karena kami sejak lama menghargai mereka sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Asia,” ujar Spinks dalam perbincangan santai di kampus Universitas Hongkong, akhir April lalu.

Menurut Spinks, ada beberapa keunggulan Universitas Hongkong yang bisa jadi membuat mereka bertengger di urutan teratas 2009. Salah satu faktornya adalah proses belajar-mengajar yang disampaikan dalam bahasa Inggris, berbeda dengan Universitas Tokyo yang menggunakan bahasa Jepang. Hal ini membuat Universitas Hongkong layak diklasifikasikan sebagai perguruan tinggi internasional.

”Pendidikan di Universitas Hongkong juga mengutamakan problem based learning. Jadi kuncinya bukan hanya kuliah di kelas, tetapi kami mengupayakan agar para mahasiswa sudah terlatih mengatasi persoalan di kehidupan mereka. Makanya sejak di bangku kuliah kami minta mereka mengerjakan proyek berbasis komunitas. Misalnya proyek sosial untuk korban gempa atau masyarakat kurang beruntung lainnya,” kata Spinks.

Kurang familier

Vina Goi, alumnus Universitas Hongkong asal Indonesia, mengakui, Hongkong memang kurang familier sebagai tempat belajar mahasiswa Indonesia. Universitas di Singapura, Malaysia, atau Australia jauh lebih dikenal. ”Tetapi, sebenarnya, dengan fasilitas dan keberadaan Universitas Hongkong saat ini, belajar di Hongkong layak menjadi alternatif baru,” ujar Vina, yang kini bekerja sebagai konselor admisi di almamaternya.

Apalagi, berdasarkan data Universitas Hongkong, dari 57 perusahaan multinasional dan regional yang mempekerjakan alumnus universitas itu, sebanyak 87,7 persen di antaranya mengaku puas dan sangat puas atas kinerja alumnus. Data 2009 juga menyebutkan, 99,8 persen alumnus Universitas Hongkong langsung bekerja setelah lulus.(ADP)

Sumber: Kompas, Rabu, 12 Mei 2010 | 04:23 WIB

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 33 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB