Home / Berita / UGM Kembangkan GeNose, Alat Deteksi Covid-19 dengan Embusan Napas

UGM Kembangkan GeNose, Alat Deteksi Covid-19 dengan Embusan Napas

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengembangkan alat deteksi penyakit Covid-19 melalui embusan napas. Alat yang dinamai GeNose itu diklaim mampu mendeteksi infeksi Covid-19 dalam hitungan menit.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS—Alat deteksi Covid-19 bernama GeNose buatan tim Universitas Gadjah Mada (UGM) ditampilkan dalam konferensi pers daring, Kamis (24/9/2020). Dalam kesempatan itu, hadir pula Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro.

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengembangkan alat deteksi penyakit Covid-19 melalui embusan napas. Alat yang dinamai GeNose itu disebut mampu mendeteksi infeksi Covid-19 di tubuh seseorang hanya dalam hitungan menit. Alat itu ditargetkan bisa digunakan secara luas mulai Desember 2020.

Pengembangan GeNose diperkenalkan oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (24/9/2020). Acara itu diikuti pula sejumlah pejabat serta perwakilan UGM.

Ketua Tim Peneliti GeNose UGM, Kuwat Triyana, mengatakan, GeNose menggunakan embusan napas untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak. Dia menjelaskan, virus atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh seseorang akan menghasilkan volatile organic compounds atau senyawa organik mudah menguap yang khas. Senyawa organik mudah menguap itu pula yang terdapat dalam embusan napas seseorang.

Kuwat menuturkan, GeNose dilengkapi sejumlah sensor yang bisa membentuk pola tertentu saat mendeteksi senyawa organik mudah menguap dari embusan napas. Pola yang terbentuk itu bisa dibedakan berdasarkan kondisi kesehatan seseorang. Oleh karena itu, pola yang terbentuk dari embusan napas seorang yang terinfeksi Covid-19 akan berbeda dengan pola yang terbentuk dari embusan napas orang sehat.

”Cara kerja GeNose itu sebenarnya sangat sederhana, yaitu berbasis pada pola yang konsisten dari embusan napas orang yang sehat dan yang sakit,” ujar Kuwat yang juga dosen Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS—Kuwat Triyana, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan cara kerja alat lidah elektronik buatannya, Selasa (21/1/2020), di Kampus FMIPA UGM, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak beberapa waktu lalu, Kuwat dan beberapa peneliti lain juga mengembangkan alat deteksi Covid-19 dengan embusan napas yang diberi nama GeNose.

Dia menambahkan, pola yang dihasilkan oleh sensor tersebut kemudian dianalisis menggunakan sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Dari hasil analisis itu, bisa disimpulkan seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak.

Namun, agar bisa mendeteksi secara tepat, sistem kecerdasan buatan di GeNose harus diajarkan untuk mengenali pola tertentu dari embusan napas pasien Covid-19. ”Pola itu bisa diajarkan pada mesin (kecerdasan buatan) dan mesin akan mengingatnya,” kata Kuwat.

Anggota Tim Peneliti GeNose UGM, Dian Kesumapramudya Nurputra, mengatakan, hasil pemeriksaan GeNose bisa selesai hanya dalam waktu 3 menit. Dengan begitu, waktu pemeriksaan GeNose jauh lebih cepat dibandingkan dengan metode reaksi rantai polimerase (PCR) yang butuh waktu beberapa jam.

Uji klinis
Dian menuturkan, GeNose telah menjalani uji klinis tahap pertama di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Daerah Istimewa Yogyakarta serta Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY. Dalam uji klinis itu, tim memeriksa 615 sampel napas dari 83 orang pasien, yakni 43 pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dan 40 pasien negatif Covid-19.

DOKUMENTASI HUMAS UGM—Seorang petugas memperagakan pengambilan swab atau tes usap Covid-19 menggunakan bilik khusus bernama Gama Swab Sampling Chamber di Rumah Sakit Akademi Universitas Gadjah Mada (UGM), Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (27/4/2020). Gama Swab Sampling Chamber merupakan salah satu inovasi yang dihasilkan tim peneliti UGM untuk membantu penanggulangan Covid-19 di Indonesia.

Pada uji klinis pertama itu, ada empat jenis peranti lunak (software) kecerdasan buatan yang digunakan tim peneliti untuk melakukan analisis. Dian menyebutkan, dari empat jenis software itu, ada satu yang paling stabil, yakni Deep Neural Network (DNN) dengan akurasi sekitar 96 persen. ”Hasil paling stabil menggunakan DNN dengan akurasi 96 persen,” ujarnya.

Dian menambahkan, satu atau dua pekan ini, tim peneliti GeNose akan melakukan uji klinis tahap kedua. Menurut rencana, uji klinis tahap kedua itu akan dilakukan di sembilan rumah sakit di sejumlah kota di Indonesia. ”Untuk memvalidasi alat ini, harus dilakukan uji klinis tahap kedua atau kita menyebutnya uji diagnostik,” katanya.

Menurut Dian, dalam uji klinis tahap kedua itu, ditargetkan minimal ada 1.460 pasien terlibat. Adapun waktu uji klinis tahap kedua itu diperkirakan membutuhkan waktu berkisar dua sampai tiga minggu. ”Minimal 1.460 orang, tapi kami targetkan bisa sampai 2.000 orang,” tuturnya.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS—Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro memberi keterangan mengenai alat deteksi Covid-19 bernama GeNose dalam konferensi pers daring, Kamis (24/9/2020). GeNose merupakan alat deteksi penyakit Covid-19 melalui embusan napas yang dibuat tim Universitas Gadjah Mada.

Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pemerintah menyambut baik pengembangan GeNose oleh UGM karena alat itu diharapkan bisa membantu penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Dia memastikan, Kementerian Riset dan Teknologi siap mendukung pelaksanaan uji klinis tahap kedua GeNose. Dengan dukungan itu, GeNose diharapkan bisa digunakan secara luas mulai Desember 2020.

”Kami siap mendukung uji klinis tahap kedua. Memang, uji klinis itu memakan biaya yang tidak sedikit dan juga effort (upaya) yang tidak mudah. Karena itu, kami ingin memberikan dukungan penuh, termasuk pembiayaan,” ujar Bambang.

Dia menuturkan, GeNose diharapkan bisa digunakan untuk alat penapisan atau screening. Apabila seseorang dinyatakan positif berdasar pemeriksaan GeNose, dia tetap harus menjalani tes PCR untuk memberi kepastian. Hal ini karena tes PCR masih menjadi standar utama pemeriksaan Covid-19.

Oleh HARIS FIRDAUS

Editor: GREGORIUS FINESSO

Sumber: Kompas, 24 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: