Tumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak

- Editor

Senin, 20 Juni 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bangun Kesadaran Sains sejak Dini
Rasa ingin tahu ada di dalam diri setiap anak. Sayangnya, sekolah dan keluarga yang semestinya membantu anak untuk terus menumbuhkan rasa ingin tahu kadang-kadang justru berperan sebaliknya. Mereka pembunuh rasa ingin tahu yang dimiliki anak.

“Anak-anak lahir dengan rasa ingin tahu. Lihat saja, anak umur satu tahun mau mencoba semua hal karena rasa ingin tahunya yang besar,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dalam acara Final Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2016 yang diselenggarakan di Universitas Pembangunan Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (19/6).

Namun, menurut Anies, rasa ingin tahu itu bisa berhenti tumbuh. Keluarga dan sekolah tidak membantu anak-anak untuk menumbuhkan keingintahuan mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam acara finalis OSK, ada 303 siswa SD/MI yang merupakan hasil seleksi dari 92.877 pelajar di seluruh Indonesia. Sebanyak 119 finalis di antaranya yang memamerkan hasil kreasi dan inovasi sains di Science Exhibition Babak Final OSK 2016. Didampingi fisikawan Yohanes Surya serta mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro, Anies melihat-lihat proyek sains yang dibuat para finalis.

Tiga hal penting
Menurut Anies, World Economic Forum, pertemuan ekonomi yang diikuti banyak negara dan perusahaan, menyebutkan, ada tiga hal penting yang harus dikuasai anak-anak melalui pendidikan. Ketiga hal tersebut adalah literasi dasar (termasuk minat baca dan daya baca), kompetensi (berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif), serta karakter.

“Salah satu karakter yang paling penting ialah rasa ingin tahu. Upaya untuk memberikan lingkungan yang terus menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri anak-anak harus menjadi ikhtiar kita yang terus-menerus,” ujar Anies.

Menurut dia, olimpiade sains seperti OSK yang konsisten dilaksanakan bertujuan agar anak- anak mencintai sains lewat cara yang menyenangkan. Kegiatan ini juga bertujuan menumbuhkan rasa ingin tahu terkait sains yang dapat berguna bagi kehidupan manusia. OSK diselenggarakan oleh PT Kuark Internasional, produsen majalah komik sains bagi siswa SD kelas I-VI.

“Sekolah dan keluarga jangan menganggap anak-anak sekadar sebagai anak kecil. Mereka akan menjadi pengganti kita di masa depan. Jadi, kita harus membantu anak-anak untuk melewati tahapan-tahapan dalam mengembangkan rasa ingin tahu mereka,” ujar Anies.

Salah seorang finalis OSK, Rafa Alatzar, siswa kelas IV SD Al Azhar 31 Sleman, DI Yogyakarta, mengerjakan proyek sederhana, tetapi bisa menjadi langkah awal untuk menyelamatkan lingkungan. Ia mengupayakan sisa pensil pendek yang biasanya dibuang agar tetap bisa dipakai. Sisa pensil tersebut dipasang di spidol bekas sehingga bisa tetap dipakai.

Ada pula proyek sains dari Eben Haezer, siswa kelas I Golden School, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dia memanfaatkan sampah botol dan kertas untuk dijadikan alat musik sederhana yang dapat dipakai belajar nada dan bermain.

Tinggi dan rendahnya nada diatur oleh volume air dalam botol. Agar menarik, air di dalam botol diberi pewarna makanan sehingga pembelajaran warna dapat pula dilakukan.

Potensi besar
Sanny Djohan, Direktur PT Kuark Internasional, mengatakan, OSK diadakan agar kesadaran sains dibangun sejak dini. Anak-anak didorong untuk menguasai kemampuan dalam menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dan bernalar.

Menurut dia, anak-anak Indonesia memiliki potensi yang besar. Dalam proyek sains, anak-anak Indonesia bisa mengembangkan indikator banjir, kompor sawit, hingga alat penyaring asap kebakaran.

Gloria Halim, Pimpinan Dharma Dexa yang merupakan salah satu pendukung OSK, mengungkapkan, anak-anak yang mencintai sains memiliki rasa ingin tahu yang positif. Biasanya mereka juga memiliki empati kepada makhluk hidup dan lingkungan. “Semua nilai positif itu diberikan melalui kompetisi yang sportif dan menggembirakan,” kata Gloria. (ELN)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Juni 2016, di halaman 12 dengan judul “Tumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB