Home / Berita / Tri Maharani Mengabdi Korban Gigitan Ular

Tri Maharani Mengabdi Korban Gigitan Ular

Puluhan jenis ular yang hidup di Indonesia memiliki bisa mematikan. Di antara sekitar 120.000 dokter Indonesia, ada satu dokter bernama Tri Maharani yang mengabdikan hidup dan ilmunya untuk menyelamatkan satu per satu nyawa korban gigitan ular berbisa. Nyawa yang kini masih terabaikan.

Maharani sedang memberi pelatihan kegawatdaruratan di Palu, Sulawesi Tengah, saat dokter Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Bantul, Yogyakarta, menghubunginya, Juli lalu. RS tersebut kedatangan pasien gigitan ular, seorang anak berusia tujuh tahun. Si anak digigit ular hijau kepala segitiga ekor merah (Trimeresurus albolabris), salah satu jenis ular yang anti bisanya belum dibuat di Indonesia.

“Anak itu pada saat main ada ular, tidak tahu kalau berbisa, dibuat mainan. Orang tuanya pun melakukan pertolongan pertama yang salah, yaitu tourniquet (membuat ikatan di atas bagian yang digigit),” cerita Maha, panggilan akrab Maharani, saat ditemui di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (7/8/2018).

Kepala Departemen Instalasi Gawat Darurat RS Umum Daha Husada Kediri, Jawa Timur itu langsung meminta stafnya di Kediri untuk mengirimkan serum anti bisa ular (SABU) khusus ular hijau, yang diimpornya dari Thailand, ke Yogyakarta. Dalam empat jam di hari yang sama, tiga vial SABU ular hijau sampai ke tangan dokter RS PKU Muhammadiyah Bantul lewat pengiriman kereta api.

KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Dokter Tri Maharani – Kekayaan ragam satwa Indonesia, termasuk berjenis-jenis ular yang mendiami alam Nusantara, memukau dunia. Namun, kekayaan ini menyimpan ancaman. Puluhan jenis ular di Indonesia memiliki bisa mematikan. Di antara sekitar 120.000 dokter Indonesia, ada satu dokter bernama Tri Maharani yang mengabdikan hidup dan ilmunya untuk menyelamatkan satu per satu nyawa korban gigitan ular berbisa. Nyawa yang kini masih terabaikan.

Usai pemberian SABU, pasien sudah sehat kembali dalam tiga hari. Tanpa SABU yang diberikan secara cuma-cuma oleh Maha tersebut, para dokter kemungkinan tak punya pilihan selain menanti bocah dijemput maut.

Maha juga menyempatkan pergi ke Bantul untuk mengecek langsung kondisi pasien sekaligus melatih penanganan medis gigitan ular kepada staf RS PKU Muhammadiyah Bantul. Berangkat dengan kereta pada hari Jumat (13/7/2018), ia tiba di Yogyakarta pukul 06.00, memberi pelatihan pukul 08.00, pulang ke Kediri dengan menumpang bus siang, dan sampai hari Minggunya pukul 03.00. Semua biaya perjalanan itu pun dari kocek pribadinya.

Bukan kali itu saja dia menggunakan uang pribadi untuk menyelamatkan korban gigitan ular. Ia sudah datang langsung dengan biaya sendiri ke berbagai daerah sejak lima tahun lalu, mulai dari Aceh hingga Papua, setiap ada dokter kesulitan menangani kasus gigitan. SABU yang diberikannya secara gratis pun bukan barang murah. Contoh, SABU ular hijau bisa sekitar Rp 3,6 juta per 10 mililiter.

Indonesia memang telah mampu memproduksi SABU sendiri, tetapi baru SABU polivalen untuk kasus gigitan ular kobra (Naja sputatrix), welang (Bungarus fasciatus), dan ular tanah (Agkistrodon rhodostoma). Serum polivalen dapat mengobati gigitan lebih dari satu jenis ular, tetapi efektivitasnya lebih rendah daripada serum monovalen (spesifik untuk satu jenis ular).

Agar punya waktu datang mendadak ke berbagai tempat, Maha rela tidak bekerja di lebih dari satu rumah sakit dan tidak membuka praktik pribadi di rumah. Para dokter biasa melakukannya agar uang makin menumpuk.

Semua pengorbanan material yang ditanggung dokter aparatur sipil negara itu berlandaskan pemikiran bahwa harga nyawa tidaklah terbatas. Setiap menyelamatkan satu nyawa, kepuasan Maha ikut tidak terbatas. “Memang dibutuhkan orang-orang yang mau meluangkan waktu, tenaga, uang, dan semua kerugian itu. Ketika saya melakukannya, rasanya damai luar biasa,” ujar maha
150.000 kejadian

Berbagai pengorbanan Maha sudah menyelamatkan ratusan nyawa. Maha juga aktif mengumpulkan data kasus gigitan ular di Indonesia, mengingat belum ada lembaga resmi pemerintah yang melakukannya. Pada 2016, ia memperkirakan ada 135.000 kejadian secara nasional dalam setahun. Angka meningkat menjadi 150.000 kejadian setahun di 2017.

Perkiraan dibuat Maha berdasarkan jumlah kasus yang dilaporkan padanya dari berbagai daerah. Sebanyak 728 kasus dikonsultasikan ke Maha selama tahun 2017, dengan 35 di antaranya berujung ke kematian. Ada 15 kematian yang disebabkan gigitan ular king cobra (lagi-lagi, SABU asal Indonesia tidak cocok untuk jenis ular ini).

Yang membuat hati Maha lebih teriris, kematian tersebut merenggut banyak nyawa dari mereka yang masih bisa berkarya, termasuk untuk menjadi tulang punggung keluarga. Dari 35 kematian pada 2017, misalnya, 29 orang di antaranya berusia di bawah 50 tahun yang merupakan usia produktif.

Dokter Tri Maharani – Kekayaan ragam satwa Indonesia, termasuk berjenis-jenis ular yang mendiami alam Nusantara, memukau dunia. Namun, kekayaan ini menyimpan ancaman. Puluhan jenis ular di Indonesia memiliki bisa mematikan. Di antara sekitar 120.000 dokter Indonesia, ada satu dokter bernama Tri Maharani yang mengabdikan hidup dan ilmunya untuk menyelamatkan satu per satu nyawa korban gigitan ular berbisa. Nyawa yang kini masih terabaikan.
KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA (JOG)
07-08-2018
SOSOK

KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Dokter Tri Maharani – Kekayaan ragam satwa Indonesia, termasuk berjenis-jenis ular yang mendiami alam Nusantara, memukau dunia. Namun, kekayaan ini menyimpan ancaman. Puluhan jenis ular di Indonesia memiliki bisa mematikan. Di antara sekitar 120.000 dokter Indonesia, ada satu dokter bernama Tri Maharani yang mengabdikan hidup dan ilmunya untuk menyelamatkan satu per satu nyawa korban gigitan ular berbisa. Nyawa yang kini masih terabaikan.

Maha tidak punya cita-cita selain menjadi dokter, sejak di sekolah menengah pertama. Ia terpengaruh pengalaman masa kecil melihat lingkungan kerja orang tuanya di RS Dinas Kesehatan Tentara (DKT) Kediri. Ayahnya bernama Imam Hambali, seorang anggota TNI Angkatan Darat sekaligus tekniker gigi. Adapun ibundanya, R Ngat Sri Atni, berprofesi sebagai perawat.

Berlabuhlah bungsu dari tiga bersaudara itu ke Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur, tahun 1990. Maha pun menjadi dokter pada 1998. Setelah cita-cita sejak kecil tercapai, Maha bisa dikatakan tanpa rencana terkait kelanjutan kariernya.

Ketika ia menjalani studi magister imunologi di Universitas Airlangga, Surabaya (2001-2003), pendidikan spesialis kedokteran emergensi di Brawijaya (2007-2011), hingga pendidikan doktoral bidang biomedik di Brawijaya (2008-2014), ia masih tidak tahu mengapa ia mengambil bidang-bidang keilmuan tersebut. Dengan mempelajari imunologi (ilmu kajian sistem kekebalan tubuh makhluk hidup), ia paham bagaimana menentukan jenis SABU yang tepat untuk suatu kasus gigitan ular.

Jalan hidupnya juga mengarah pada pertemuan dengan dokter Ahmad Khaldun Ismail, dosen di Fakultas Kedokteran Universiti Kebangsaan Malaysia yang sudah lebih dulu menggeluti soal gigitan ular berbisa. Maha mengikuti berbagai acara terkait gigitan ular di berbagai tempat.

Dengan dedikasinya, pengakuan dunia pada Maha mulai berdatangan. Ia sudah diundang berbicara dalam forum di lebih dari sepuluh negara dan menjadi temporary advisor bagi Organisasi Kesehatan Dunia PBB Kawasan Asia Tenggara (WHO SEARO) dalam pembuatan pedoman pengelolaan gigitan ular. Ia saat ini aktif sebagai Review Adviser WHO Snakebite Envenoming Working Group (SBE-WG), masa bakti 2017-2030.

Untuk membuat upaya pengurangan kematian akibat gigitan ular berbisa bisa berkelanjutan, Maha ikut mendirikan organisasi Remote Envenomation Consultancy Services (RECS) Indonesia pada 2015 serta Indonesia Toxinilogy Society (ITS) yang beranggotakan konsultan-konsultan untuk kasus gigitan ular atau pun kasus keracunan hewan lainnya.

Tri Maharani
Lahir: 31 Agustus 1971

Pekerjaan: Kepala IGD RS Umum Daha Husada, Kediri, Jawa Timur
Pendidikan:
– Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (1990-1998)
– Program Studi Doktor Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (2008-2014)

Sandwich like Program PhD Biomedic in Hipertension Departement Gashuisberg
Hospital, Fakultas Kedokteran Katholieke
Universiteit Leuven, Belgia (2011)

J GALUH BIMANTARA

Sumber: Kompas, 6 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: