Tim Olimpiade Biologi Indonesia Raih Empat Perak di Iran

- Editor

Selasa, 24 Juli 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim olimpiade biologi Indonesia merasih empat medali perak dalam kompetisi International Biology Olimpiad (IBO) 2018 di Iran. Dalam ajang ini, sebanyak empat siswa SMA asal Indonesia bersaing dengan 265 siswa lain dari 68 negara.

Direktur Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Purwadi Sutanto, dalam siaran pers, Senin (23/7/2018) di Tangerang, merasa bangga dengan prestasi yang didapatkan oleh para siswa ini. “Empat medali perak ini prestasi yang luar biasa. Anak-anak kita sudah berjuang, memberikan yang terbaik,” katanya.

Adapun, empat siswa yang mewakili Indonesia dalam ajang IBO ke-29 ini yaitu Aditya David Wirawan dari SMA Kristen 1 Petra, Surabaya, Samuel Kevin Pasaribu (SMA Unggul Del, Sumatera Utara), Silingga Metta Jauhari (SMA Negeri 8 DKI Jakarta), dan Syailendra Karuna Sugito (SMA Semesta BBS, Semarang).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka merupakan peserta yang lolos seleksi berjenjang dari Direktorat Pembinaan SMA Kemendikbud mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, hingga tingkat nasional pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2017 di Pekanbaru, Riau.

KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–(ilustrasi: Peneliti mikrobiologi di Pusat Penelitian Biologi, Cibinong Science Center, Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Dalam ajang IBO 2018, para siswa didampingi oleh Agus Dana Permana dan Ahmad Faizal yang merupakan pengajar di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung. Selain itu, pendamping lainnya adalah Ida Bagus Made Artadana (Staf Pengajar Universitas Surabaya), Ihsan Tria Pramanda (Staf Pengajar Tim Olimpiade Biologi Indonesia), dan Muamar Surawidarto (Direktorat Pembinaan SMA, Kemendikbud).

Dalam kompetisi, para peserta diminta untuk mengerjakan empat topik, yakni Biologi Tumbuhan (fisiologi dan adaptasi tumbuhan), Biokimia dan Biologi Molekuler (isolasi protein), Biologi Hewan (anatomi lintah dan pengamatan tungau), serta Ekologi dan Evolusi Mikroba. Selanjutnya, para siswa juga mengerjakan dua set soal teori menggunakan. Seluruh tes ini dilakukan di kampus Shahid Beheshti University, Tehran, Iran.

Aditya David Wirawan (17), siswa kelas XI SMA Kristen Petra 1 Surabaya mengaku sudah mengikuti kejuaraan sains sejak tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Menurutnya, Biologi bukan hanya tentang menghafal materi, tetapi lebih kepada pemahaman.

Sementara rekannya, Syailendra Karuna Sugito (17), mengaku saingan terberat tim Indonesia adalah para siswa dari negara-negara Asia. “Saingan terberat kebanyakan dari negara-negara Asia, seperti China, Taiwan, Thailand, Vietnam, India.

Ahmad Faisal, salah satu pembimbing siswa menyampaikan, kebijakan pemerintah yang mulai mendorong penggunaan higher order thinking skill pada pembelajaran dan penilaian hasil belajar di sekolah perlu terus dikembangkan. “Biologi, kan selama ini identik dengan hafalan. Padahal di olimpiade tidak ada hafalan. Semuanya analisis,” katanya.

Menyoal pengembangan sains di pendidikan menengah, tambah Faisal, selain fasilitas laboratorium yang baik, kunci keberhasilan ada di guru yang mampu menerapkan pembelajaran inovatif. “Yang awal adalah bagaimana menumbuhkan kecintaan siswa terhadap biologi. Dari situ kemudian bisa dipupuk. Siswa menjadi aktif, kemudian guru bisa mengajar dan membimbing siswa dengan baik,” ucap Faisal.–DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 23 Juli 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

US-POLITICS-TRUMP

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB