Home / Berita / Terungkap, Mengapa Laki-laki Cenderung Buncit

Terungkap, Mengapa Laki-laki Cenderung Buncit

Masyarakat menyaksikan, lemak pada laki-laki umumnya tertimbun pada bagian perut, sedangkan pada perempuan terutama tertimbun pada pinggul dan kaki. Penelitian terbaru menunjukkan, distribusi penyimpanan lemak yang bervariasi itu dipengaruhi faktor genetik.

LEIPZIG, GERMANY – MAY 23: A man with a large belly eats junk food on May 23, 2013 in Leipzig, Germany. According to statistics a majority of Germans are overweight and are comparatively heavier than people in most other countries in Europe. (Photo by Sean Gallup/Getty Images)

GETTY IMAGES–Seorang laki-laki dengan perut buncit makan makanan cepat saji di Leipzig, Jerman, 23 Mei 2013.

Penelitian berjudul “Studi Hubungan Genom Distribusi Lemak Tubuh Mengidentifikasi Lokasi Lemak dan Efek Genetik Spesifik Jenis Kelamin” itu dimuat dalam jurnal Nature Communications edisi 21 Januari 2019 yang juga dipublikasikan sciencedaily.com. Penelitian dilakukan tim ilmuwan Universitas Uppsala, Swedia.

“Kita tahu bahwa perempuan perempuan memiliki kemampuan untuk lebih mudah menyimpan lemak di pinggul dan kaki, sementara laki-laki cenderung menumpuk lemak di sekitar perut ke tingkat yang lebih tinggi. Ini telah dikaitkan dengan efek hormon seks seperti estrogen. Tetapi mekanisme molekuler yang mengendalikan fenomena ini tidak diketahui,” kata Mathias Rask- Andersen, peneliti Departemen Imunologi, Genetika, dan Patologi Universitas Uppsala.

AFP PHOTO/STR/CHINA OUT–Dalam foto yang diambil 17 Juli 2018 ini terlihat dua orang perempuan yang kelebihan berat badan sedang bercakap-cakap ketika sedang menjalani perawatan di klinik pengurangan berat badan di Changchun, Provinsi Jilin, China.

Menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti mengukur bagaimana lemak didistribusikan di hampir 360.000 peserta sukarela. Para peneliti menggunakan data dari UK Biobank, Inggris. Para peserta memberikan sampel darah untuk penelitian genotipe dan distribusi jaringan lemak. Dalam studi ini, jutaan varian genetik di seluruh genom diuji untuk hubungan dengan distribusi lemak ke lengan dan kaki.

Tim peneliti mengidentifikasi hampir seratus gen yang mempengaruhi distribusi jaringan adiposa atau jaringan lemak ke berbagai bagian tubuh manusia. Para peneliti juga melihat tingkat heterogenitas yang tinggi di antara jenis kelamin.

“Kami dikejutkan oleh sejumlah besar efek genetik yang lebih kuat pada perempuan. Setelah pemeriksaan lebih dekat, beberapa gen terkait ditemukan untuk menyandikan protein yang secara aktif membentuk matriks ekstraseluler, yang membentuk struktur pendukung sekitar sel. Temuan menunjukkan bahwa renovasi matriks ekstraseluler adalah salah satu mekanisme yang menghasilkan perbedaan dalam distribusi lemak tubuh,” kata Åsa Johansson, peneliti lain dari Universitas Uppsala.

Lemak yang tertimbun dalam tubuh dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit. Ada dua kategori kegemukan yang dikenal secara global. Kategori pertama adalah kelebihan berat badan atau overweight ditandai dengan indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) > 25. Kategori kedua, obesitas yang ditandai BMI> 30. Baik kelebihan berat badan maupun obesitas telah mencapai proporsi epidemi secara global. Hampir 40 persen populasi dunia sekarang kelebihan berat badan dan 10,8 persen obesitas.

Obesitas ditetapkan untuk menjadi faktor risiko utama untuk penyakit dan kematian dini karena meningkatnya risiko diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan kanker. Distribusi jaringan lemak dalam tubuh manusia dikaitkan dengan risiko pengembangan penyakit kardiovaskular dan metabolisme.

Laki-laki memiliki jumlah lemak perut yang lebih besar daripada perempuan. Hal ini mungkin menjelaskan peningkatan prevalensi penyakit kardiovaskular yang diamati pada laki-laki. Studi epidemiologis bahkan menunjukkan bahwa kemampuan untuk menyimpan lemak di sekitar pinggul dan kaki memberi perempuan perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, hasil dari penelitian ini dapat mengarah pada pengembangan intervensi baru untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

“Sistem biologis yang kami soroti dalam penelitian kami memiliki potensi untuk digunakan sebagai titik intervensi untuk obat baru yang ditujukan untuk meningkatkan distribusi lemak tubuh dan dengan demikian mengurangi risiko penyakit,” tutur Mathias Rask-Andersen.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Symber: Kompas, 22 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: